Oleh: Mario Suban Bahy
Mahasiswa Aktif Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira, Kupang, NTT.
POS-KUPANG.COM - Pentahbisan diakon merupakan salah satu tahap penting dalam perjalanan pembinaan calon imam di Gereja Katolik.
Melalui tahbisan ini, seorang frater secara resmi menerima tugas pelayanan dalam bidang sabda, liturgi, dan karya kasih sebagai bagian dari misi Gereja.
Pada tanggal 30 Mei 2026, Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang menyelenggarakan perayaan pentahbisan diakon bagi tiga puluh frater yang berasal dari tiga keuskupan di Nusa Tenggara Timur.
Sepuluh frater berasal dari Keuskupan Agung Kupang, lima belas frater berasal dari Keuskupan Atambua, dan lima frater berasal dari Keuskupan Weetebula, Sumba.
Baca juga: 30 Frater Ditahbiskan Jadi Diakon di Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang
Perayaan tersebut dipimpin oleh Uskup Weetebula, Mgr. Edmund Woga, C.SS.R., yang bertindak sebagai uskup pentahbis.
Bagi para frater, peristiwa ini menjadi penanda dimulainya tanggung jawab pelayanan yang lebih besar dalam kehidupan Gereja.
Pentahbisan diakon tidak hanya memiliki makna pastoral, tetapi juga mengandung makna filosofis dan teologis yang mendalam mengenai panggilan manusia untuk melayani Allah dan sesama.
Salah satu pemikiran filsafat yang dapat digunakan untuk memahami makna pentahbisan diakon adalah teori Thomas Aquinas tentang Tuhan sebagai Penggerak Pertama atau Penggerak Utama.
Menurut Aquinas, segala sesuatu yang bergerak dan mengalami perubahan pasti digerakkan oleh sesuatu yang lain.
Rantai gerak tersebut tidak mungkin berlangsung tanpa batas karena harus ada sumber pertama yang menjadi asal dari semua gerak.
Sumber pertama itu adalah Tuhan yang tidak digerakkan oleh apa pun, tetapi menggerakkan segala sesuatu.
Dalam pandangan Aquinas, Tuhan bukan hanya pencipta alam semesta, melainkan juga penyebab yang terus menopang keberadaan segala sesuatu.
Pemikiran ini membantu menjelaskan bahwa panggilan hidup manusia pada dasarnya berakar pada karya Allah yang lebih dahulu menggerakkan hati manusia.
Pentahbisan diakon dapat dipahami sebagai tanggapan manusia terhadap Allah yang menjadi sumber segala gerak dan panggilan.
Baca juga: Dua Saudara Kandung dari Keuskupan Atambua Ditahbiskan Menjadi Diakon
Dalam pemikiran Thomas Aquinas, setiap gerak dan perubahan yang terjadi di dunia menunjukkan adanya sebab yang mendahuluinya. Manusia bergerak karena memiliki tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya.
Demikian pula panggilan seorang frater menuju tahbisan diakon tidak muncul secara tiba-tiba tanpa alasan.
Panggilan tersebut bertumbuh melalui pengalaman hidup, pendidikan iman, doa, dan pembinaan yang panjang.
Semua proses itu menunjukkan adanya gerak yang mengarahkan seseorang kepada bentuk hidup tertentu.
Menurut Aquinas, gerak tersebut pada akhirnya bersumber dari Tuhan sebagai Penggerak Pertama yang menjadi asal segala sesuatu.
Dengan demikian, keputusan seorang frater untuk menerima tahbisan diakon dapat dipandang sebagai bagian dari karya Allah yang menggerakkan hidup manusia menuju tujuan yang lebih luhur.
Pentahbisan diakon juga menunjukkan hubungan antara rahmat Allah dan kebebasan manusia.
Aquinas mengajarkan bahwa Allah menggerakkan manusia tanpa menghilangkan kebebasannya. Manusia tetap memiliki kemampuan untuk menerima atau menolak panggilan yang diterimanya.
Para frater yang ditahbiskan telah melewati berbagai tahap pembinaan yang menuntut komitmen dan tanggung jawab pribadi.
Mereka tidak dipaksa untuk menjadi diakon, tetapi secara bebas memilih untuk menanggapi panggilan tersebut.
Dalam hal ini, Allah sebagai Penggerak Pertama bekerja melalui rahmat-Nya untuk mengarahkan manusia kepada kebaikan.
Tahbisan diakon menjadi tanda bahwa rahmat Allah dan kebebasan manusia dapat bekerja bersama dalam mewujudkan panggilan hidup yang dikehendaki Tuhan.
Tugas diakon setelah menerima tahbisan juga dapat dipahami dalam terang pemikiran Aquinas mengenai tujuan akhir manusia.
Menurut Aquinas, seluruh kehidupan manusia pada akhirnya diarahkan kepada Allah sebagai kebaikan tertinggi.
Pelayanan diakon dalam Gereja bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana untuk mengarahkan umat kepada Allah.
Diakon dipanggil untuk mewartakan Injil, membantu pelayanan liturgi, dan melayani mereka yang membutuhkan pertolongan.
Melalui tugas-tugas tersebut, diakon ikut ambil bagian dalam karya Allah yang menyelamatkan manusia. Pelayanan mereka menjadi perwujudan nyata dari kasih Allah yang bekerja dalam kehidupan Gereja.
Tahbisan diakon tidak hanya berkaitan dengan jabatan gerejawi, tetapi juga dengan partisipasi dalam karya Allah yang terus menggerakkan dunia menuju keselamatan.
Pentahbisan diakon di Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang pada tanggal 30 Mei merupakan peristiwa penting dalam kehidupan Gereja dan para frater yang menerimanya.
Peristiwa tersebut menandai dimulainya tahap pelayanan yang lebih mendalam dalam perjalanan menuju imamat.
Melalui tahbisan ini, para diakon dipanggil untuk mengabdikan hidup mereka bagi pelayanan Sabda, liturgi, dan kasih.
Jika dilihat dari perspektif Thomas Aquinas, panggilan tersebut tidak dapat dilepaskan dari karya Allah sebagai Penggerak Pertama.
Allah menjadi sumber yang menggerakkan hati manusia untuk menanggapi panggilan hidup yang diterimanya.
Dengan demikian, tahbisan diakon merupakan bentuk respons manusia terhadap gerak rahmat Allah yang bekerja dalam kehidupannya.
Pemahaman ini menunjukkan bahwa panggilan hidup kristiani selalu berakar pada inisiatif Allah yang lebih dahulu hadir dalam kehidupan manusia.
Melalui teori Penggerak Pertama, Thomas Aquinas membantu menjelaskan hubungan antara Allah, manusia, dan panggilan pelayanan dalam Gereja.
Allah tidak hanya menjadi penyebab pertama dari keberadaan dunia, tetapi juga terus mengarahkan manusia menuju tujuan hidup yang sejati.
Dalam konteks pentahbisan diakon, karya Allah tampak dalam proses pembinaan, pertumbuhan iman, dan keputusan para frater untuk melayani Gereja.
Di sisi lain, manusia tetap memiliki kebebasan untuk menerima dan menjalankan panggilan tersebut secara bertanggung jawab.
Hubungan antara rahmat Allah dan kebebasan manusia menjadi unsur penting dalam memahami makna tahbisan diakon.
Sehingga pemikiran Aquinas tetap relevan untuk menjelaskan realitas panggilan dan pelayanan dalam Gereja masa kini.
Pada akhirnya, pentahbisan diakon merupakan kesaksian bahwa Allah terus berkarya dan menggerakkan manusia untuk ambil bagian dalam misi keselamatan-Nya. (*)