Kepergian Mohamed Salah dari Anfield Memicu Tantangan Terbesar Liverpool dalam Hampir Satu Dekade
Budi Santoso June 02, 2026 05:57 PM

“Para penggemar kami pantas mendapatkannya dan kami akan berjuang sekuat tenaga,” demikian pesan yang disampaikan Mohamed Salah kepada para pendukung Liverpool pada Mei 2024, ketika The Reds baru saja finis di posisi ketiga Liga Premier.


Kurang dari setahun kemudian, Liverpool yang terinspirasi oleh 29 gol liga dan 18 assist dari Salah, berhasil mengamankan gelar juara dengan empat pertandingan tersisa.


“Kami tahu bahwa trofi adalah hal yang paling penting dan kami akan melakukan segalanya untuk mewujudkannya musim depan,” janji Salah kala itu.


Ia menepati janji tersebut dengan performa luar biasa yang bisa dibilang sebagai musim terbaiknya bersama Liverpool — sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat ia sempat mencetak 44 gol di semua kompetisi pada musim debutnya.


Salah menginspirasi Liverpool dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh pemain-pemain hebat sejati.


Bukan hanya melalui kualitasnya di lapangan, tetapi juga lewat dedikasi, komitmen, dan kepemimpinannya di luar lapangan — baik di waktu pribadinya maupun di sekitar tempat latihan. Ia tidak hanya menjaga standar, tapi juga menetapkannya dan mendorong rekan-rekannya untuk terus berkembang. Ia menaikkan level pemain lain, menginspirasi pemain muda, dan memacu tim untuk terus maju.


“Mentalitasmu tiada duanya dan banyak orang bisa belajar darimu,” tulis Andy Robertson dalam penghormatannya kepada rekan setimnya selama sembilan musim terakhir.


“Kamu selalu mendorong dirimu setiap hari dan selalu menuntut lebih dari dirimu sendiri maupun orang lain.”


Kata-kata Robertson itu mungkin mengandung makna tersirat; ‘banyak orang bisa belajar darinya.’


Bisa jadi karena banyak yang merasa bahwa Salah, meskipun dengan semua gol, assist, penghargaan, trofi, dan rekor yang ia pecahkan, masih belum sepenuhnya diapresiasi — terutama di luar lingkungan Liverpool.


Namun, mungkinkah Robertson juga mengisyaratkan kepada pemain lain yang tidak memiliki mentalitas dan komitmen serupa?


Pemain asal Skotlandia itu hampir pasti akan meninggalkan klub bersama Salah musim panas ini, dan kedua pemain veteran yang telah membela Liverpool selama sembilan tahun itu bukan satu-satunya sosok berpengaruh yang akan keluar dari Anfield dalam 16 bulan ke depan.


Joe Gomez, pemain yang kini paling lama membela klub, kemungkinan akan menerima tawaran dari klub lain dan diizinkan pergi dengan sisa satu tahun kontraknya. Curtis Jones, satu-satunya pemain senior lokal yang tersisa di skuad, juga diperkirakan hengkang setelah pembicaraan kontrak menemui jalan buntu dan kontraknya hanya tersisa satu tahun. Kesepakatan baru dengan Ibrahima Konaté juga tampak semakin tidak mungkin.


Musim panas berikutnya, kontrak Virgil van Dijk dan Alisson — dua pemain yang mungkin paling berperan dalam transformasi klub dalam beberapa tahun terakhir — juga akan berakhir.


Jika itu terjadi, dari skuad juara musim lalu, hanya akan tersisa sekitar lima pemain senior dua tahun kemudian di Anfield — Cody Gakpo, Alexis Mac Allister, Dominik Szoboszlai, Ryan Gravenberch, dan Conor Bradley. Namun, masa depan Mac Allister pun masih belum pasti.


Dengan demikian, bisa jadi hanya empat pemain dari skuad juara 2025 yang masih berada di klub pada musim panas 2027.


Hal ini jelas menjadi masalah besar, bukan hanya dari sisi pergantian pemain, tetapi juga karena menciptakan kekosongan besar dalam kepemimpinan. Ini bukan sekadar fase pembangunan ulang atau transisi, melainkan penghapusan total terhadap budaya yang telah tertanam di skuad.


Sebelumnya, Liverpool sempat memiliki ‘grup kepemimpinan’ formal yang beranggotakan Jordan Henderson, James Milner, Adam Lallana, Trent Alexander-Arnold, Van Dijk, Salah, Robertson, dan Alisson. Namun, Arne Slot dikabarkan telah menghapus struktur formal tersebut pada tahun lalu.


Semua ini menimbulkan pertanyaan besar: siapa yang akan menjadi pemimpin berikutnya bagi skuad Liverpool? Siapa yang akan menjaga standar setiap harinya?


Dengan segala hormat, meskipun Szoboszlai tampil impresif musim ini, ia belum mencapai level yang sama. Bahkan, beberapa penggemar sempat kecewa dengan unggahan media sosialnya sehari setelah kekalahan tim.


Salah, Van Dijk, Alisson... atau Henderson, Milner, dan Steven Gerrard sebelumnya, tidak akan melakukan hal seperti itu — misalnya mengucapkan terima kasih kepada pemain Real Madrid di media sosial sehari setelah kalah dari tim papan bawah seperti Wolves. Banyak yang menilai tindakan tersebut tidak peka dan tidak memahami situasi.


Sosok seperti Van Dijk, Alisson, Salah, dan Robertson jauh lebih memahami para pendukung. Mereka mengerti berat dan istimewanya mengenakan seragam Liverpool. Tidak ada pembicaraan tentang keinginan pindah ke Real Madrid.


Bagi mereka, Liverpool adalah tujuan akhir, bukan batu loncatan. Para pemain ini, yang menjadi pemimpin sejati di dalam dan luar lapangan, memahami klub, kota, pendukung, sejarah, warisan, dan budayanya. Mereka, seperti sering dikatakan dalam dunia sepak bola, benar-benar ‘mengerti’ — dan para penggemar pun mengenali hal itu.


Liverpool kini harus merekrut pemimpin baru dengan kualitas serupa — pemain yang mau ‘mendorong kereta’. Namun, menemukan sosok seperti itu kali ini mungkin akan jauh lebih sulit dibandingkan pada tahun 2018.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.