BANGKAPOS.COM--Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang dilakukan Meta kembali menjadi sorotan.
Setelah merumahkan sekitar delapan ribu karyawan atau sekitar sepuluh persen dari total tenaga kerjanya, CEO Meta, Mark Zuckerberg, akhirnya menyampaikan pengakuan terbuka mengenai kesalahan perusahaan dalam menangani proses tersebut.
Dalam surat internal yang dikirim kepada sekitar 78.000 karyawan pada 20 Mei 2026, Zuckerberg mengakui bahwa komunikasi perusahaan selama masa transisi berjalan buruk dan menimbulkan kebingungan di kalangan pegawai.
Surat tersebut dikirim secara bertahap ke berbagai wilayah dunia, dimulai dari kawasan Asia, kemudian Eropa, hingga Amerika Serikat.
Selain berisi informasi mengenai restrukturisasi perusahaan, surat itu juga menjadi momen langka ketika Zuckerberg secara terbuka mengakui kekurangan manajemen dalam menghadapi salah satu PHK terbesar dalam sejarah perusahaan.
Dalam pesannya, Zuckerberg membenarkan keluhan para karyawan yang selama beberapa pekan diliputi ketidakpastian akibat beredarnya rumor PHK tanpa adanya penjelasan resmi dari perusahaan.
Sejak isu pengurangan tenaga kerja mencuat pada akhir April 2026, banyak pegawai mengaku tidak mendapatkan informasi yang memadai mengenai nasib mereka.
Kondisi tersebut memicu keresahan dan menurunkan moral kerja di berbagai divisi.
Zuckerberg menyatakan bahwa Meta akan berupaya meningkatkan transparansi komunikasi internal agar situasi serupa tidak terulang di masa mendatang.
Selain itu, ia juga memberikan jaminan kepada sekitar 70.000 karyawan yang masih bertahan bahwa perusahaan tidak berencana melakukan PHK besar-besaran lagi hingga akhir tahun 2026.
Namun, pernyataan tersebut tetap menimbulkan tanda tanya karena manajemen Meta sebelumnya mengakui belum memiliki gambaran pasti mengenai jumlah ideal tenaga kerja yang dibutuhkan perusahaan ke depan.
Baca juga: Router WiFi Bisa Jadi Alat Mata-Mata, Kenali Identitas Seseorang dengan Akurasi 99,5 Persen
Di balik keputusan PHK tersebut, Meta diketahui tengah melakukan perombakan besar untuk mendukung ekspansi bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Perusahaan induk dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu meningkatkan belanja modal hingga mencapai 125 miliar sampai 145 miliar dolar AS pada 2026.
Anggaran jumbo tersebut digunakan untuk membangun pusat data baru, mengembangkan chip AI, serta melatih model bahasa besar yang menjadi bagian dari proyek ambisius Meta di bidang kecerdasan buatan.
Selain memangkas 8.000 posisi, perusahaan juga membatalkan sekitar 6.000 lowongan kerja yang sebelumnya telah dibuka.
Di saat yang sama, Meta memindahkan sekitar 7.000 karyawan ke berbagai proyek AI baru.
Sekitar 2.000 di antaranya ditempatkan pada divisi baru bernama Applied AI and Engineering yang menjadi salah satu tulang punggung pengembangan teknologi AI perusahaan.
Kebijakan pemindahan tersebut bahkan memunculkan sindiran dari kalangan karyawan yang menjulukinya sebagai "The Draft", istilah yang identik dengan wajib militer karena para pegawai tidak memiliki banyak pilihan terkait penempatan baru mereka.
Restrukturisasi besar-besaran itu dilaporkan berdampak signifikan terhadap kondisi internal perusahaan.
Sejumlah laporan menyebut sentimen karyawan Meta berada pada titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Berbagai bentuk protes simbolis muncul di forum internal perusahaan maupun platform anonim yang digunakan para pekerja teknologi.
Sebagian pegawai bahkan membuat situs hitung mundur PHK dengan nuansa satir sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan manajemen.
Situasi semakin memanas setelah muncul informasi bahwa Meta melakukan pemantauan aktivitas digital karyawan untuk mendukung pengembangan model AI internal.
Selain memangkas 8.000 posisi, perusahaan juga membatalkan sekitar enam ribu lowongan kerja yang sebelumnya telah dibuka.
Lebih dari 1.500 karyawan dilaporkan menandatangani petisi yang meminta perusahaan menghentikan praktik tersebut.
Namun pihak manajemen disebut tetap mempertahankan kebijakan tersebut sebagai bagian dari program pengembangan teknologi AI internal.
Di saat yang sama, Meta memindahkan sekitar tujuh ribu karyawan ke berbagai proyek AI baru.
Sekitar dua ribu di antaranya ditempatkan pada divisi baru bernama Applied AI and Engineering yang menjadi salah satu tulang punggung pengembangan teknologi AI perusahaan.
Bagi karyawan yang terkena PHK, Meta menyediakan paket kompensasi berupa 16 minggu gaji pokok serta tambahan dua minggu gaji untuk setiap tahun masa kerja.
Perusahaan juga memberikan perlindungan asuransi kesehatan selama 18 bulan bagi karyawan terdampak di Amerika Serikat.
Meski demikian, langkah tersebut belum sepenuhnya meredam kritik yang muncul dari berbagai kalangan.
Banyak pihak menilai pengakuan Zuckerberg mengenai buruknya komunikasi perusahaan menjadi bukti bahwa proses restrukturisasi tidak berjalan sesuai harapan.
Di tengah ambisi besar Meta membangun dominasi di sektor AI, perusahaan kini menghadapi tantangan lain yang tidak kalah penting, yakni memulihkan kepercayaan dan moral para karyawan yang masih bertahan di dalam organisasi.
Moral anjlok dan kontroversi pelacakan layar Kondisi internal Meta saat ini dilaporkan sangat suram. Sentimen karyawan di platform anonim Blind berada di titik terendah sepanjang sejarah perusahaan.
Para pekerja menggunakan emoji "salad" di forum internal sebagai sindiran terhadap kata "salute" atau hormat, sebagai respons atas ucapan perpisahan rekan-rekan yang terkena PHK.
Beberapa staf di New York juga sempat membuat situs web hitung mundur PHK dengan judul satir "Big Beautiful Layoff".
Situasi semakin memanas setelah terungkap bahwa Meta melacak aktivitas ketukan keyboard, pergerakan mouse, serta aktivitas layar karyawan demi melatih model AI internal bernama Model Capability Initiative.
Lebih dari 1.500 karyawan menandatangani petisi yang menolak praktik pengawasan tersebut.
Namun CTO Meta Andrew Bosworth menegaskan bahwa karyawan tidak memiliki opsi untuk menolak atau keluar dari sistem pelacakan itu.
Pengakuan Zuckerberg atas buruknya komunikasi perusahaan mungkin terdengar tulus, tetapi di tengah pelacakan layar, pemindahan paksa, dan ketidakjelasan soal jumlah staf ideal, banyak karyawan yang tampaknya belum siap untuk memaafkan begitu saja.
Sumber : Kompas.com