Jembatan Putus Total, Siswa di Nunukan Rela Terobos Sungai untuk Ujian, MBG Disantap di Tepi Sungai
Junisah June 02, 2026 08:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Kisah perjuangan siswa di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi sorotan setelah puluhan murid terpaksa menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG) di pinggir sungai akibat putusnya jembatan penghubung menuju sekolah mereka.

Tak hanya itu, sejumlah orangtua bahkan rela menggendong anak menyeberangi sungai agar tetap bisa mengikuti ujian semester. Jembatan di Jalan Sinta, Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, ambruk setelah diterjang derasnya arus sungai.

Jembatan tersebut merupakan akses utama dan satu-satunya jalur yang digunakan siswa, guru, dan masyarakat untuk menuju sekolah maupun kebun.

Kepala MI Darul Furqon Sebatik Tengah, Adnan Lolo, mengatakan putusnya jembatan berdampak besar terhadap aktivitas belajar mengajar.

"Jembatan itu sangat penting karena satu-satunya akses menuju sekolah kami. Jadi guru, siswa, dan masyarakat semua terdampak," ujarnya.

Baca juga: Perjuangan Siswa Sebatik Tengah Nunukan ke Sekolah usai Jembatan Putus

Meski akses terputus dan kondisi sungai cukup berbahaya, sebagian siswa tetap berangkat ke sekolah untuk mengikuti ujian semester kedua.

Bahkan, ada orangtua yang rela menggendong anak mereka menyeberangi sungai agar tidak ketinggalan ujian.

"Ada orangtua yang menggendong anaknya sampai ke seberang sungai, kemudian lanjut berjalan kaki menuju sekolah," ucap Adnan Lolo.

Namun tidak semua siswa berani melintasi sungai tersebut. Beberapa memilih tidak masuk sekolah karena khawatir dengan derasnya arus air.

Usai mengikuti ujian, puluhan siswa berkumpul di tepi sungai untuk menikmati menu Makan Bergizi Gratis.

Menu ayam goreng tepung, tahu, sayur sop, dan buah semangka disajikan di lokasi tersebut lantaran kendaraan distribusi tidak dapat mencapai sekolah.

Baca juga: Warga Keluhkan Jembatan Rusak di Tanjung Buka SP7, Ketua DPRD Kaltara Minta Segera Diperbaiki

"Anak-anak menikmati MBG di pinggir kali sepulang sekolah. Jembatan ambruk, jadi petugas MBG hanya bisa mengantar sebelum jembatan," ungkap Adnan.

Meski harus makan di tengah keterbatasan, para siswa tetap terlihat antusias.

"Anak-anak makan dengan lahap walaupun kondisinya seperti itu. Mereka bilang makanannya enak," tambahnya.

Distributor SPPG Sebatik Tengah, Syairul Fajri, mengatakan pihaknya sempat berupaya mengantarkan makanan ke sekolah.

Namun kondisi jalan yang putus membuat kendaraan tidak bisa melanjutkan perjalanan.

"Situasi yang tidak kami duga, akses jalan terputus sehingga pendistribusian hanya sampai di lokasi longsor," katanya.

Menurut Syairul, guru kemudian mengarahkan siswa untuk berkumpul di dekat lokasi distribusi agar tetap mendapatkan makanan bergizi.

Tak hanya siswa dan guru, warga sekitar yang ikut bergotong royong membantu penanganan akses jalan juga turut menikmati makan siang bersama.

Siswa di Nunukan santap MBG di pinggir sungai 02 02062026
JEMBATAN PUTUS - Puluhan siswa MI Darul Furqon Sebatik Tengah menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG) di pinggir sungai setelah jembatan di Jalan Sinta, Desa Sungai Limau, putus dan memutus akses menuju sekolah, Selasa (2/6/2026)

"Jalan putus total. Kendaraan dari kedua arah tidak bisa menyeberang. Bahkan kendaraan para guru juga hanya sampai di pinggiran longsor," ujarnya.

Camat Sebatik Tengah, Aris Nur, mengatakan pemerintah kecamatan langsung melakukan peninjauan setelah menerima laporan jembatan ambruk.

Menurutnya, kondisi sungai masih dapat dilalui saat debit air rendah, namun menjadi sangat berbahaya ketika hujan turun.

"Kalau tidak hujan deras masih bisa dilewati pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Tapi kalau arus besar tentu sangat berisiko," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Sungai Limau, Mardin, memastikan pembangunan jembatan darurat segera dilakukan untuk membuka kembali akses masyarakat.

"Tadi saya sudah survei bersama pak camat. Kalau tidak ada halangan, besok langsung kita kerjakan jembatan darurat dulu," ujarnya kepada TribunKaltara.com, Selasa (2/6/2026).

Menurut Mardin, sesuai koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Umum, pembangunan jembatan permanen diperkirakan baru dapat dilakukan dalam dua hingga tiga bulan ke depan sehingga keberadaan jembatan darurat menjadi kebutuhan mendesak bagi warga dan pelajar.

(*)

Penulis: Fatimah Majid

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.