PDIP: Persahabatan Megawati dan Prabowo Tulus, Tak Pernah Ternoda Perbedaan Politik
Eko Sutriyanto June 02, 2026 09:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Said Abdullah menyatakan, persahabatan antara Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden Prabowo Subianto sudah terjalin sangat kokoh selama puluhan tahun.

Hal ini disampaikan Said merespons momen keakraban Megawati dan Prabowo yang tertangkap kamera bergandengan tangan pada peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026).

Menurut Said, kemesraan kedua tokoh bangsa tersebut dapat dilihat dari tiga aspek utama. Pertama, pertemanan lama yang tulus tanpa cela, yang telah teruji melampaui berbagai dinamika pemilihan presiden (Pilpres).

"Kedua beliau menjadi pasangan capres dan cawapres. Pertemanan dan silaturahmi itu terus berlanjut meski pilpres tahun 2009 telah usai. Bahkan saat PDIP mencalonkan Pak Jokowi (Joko Widodo) pada pilpres tahun 2014, dan berkontestasi dengan Pak Prabowo waktu itu, dan pada periode berikutnya, hubungan dan silaturahmi kedua beliau tetap terjaga dengan baik," kata Said kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).

Said menegaskan, kokohnya persahabatan Megawati dan Prabowo bukanlah sesuatu yang artifisial di mata publik.

"Persahabatan kedua beliau ini kokoh, bukan hanya sebatas pertemanan nasi goreng yang seringkali dilihat oleh publik. Pertemanan kedua beliau ini tulus, tak ada cela," ujarnya. 

Baca juga: Ingatkan Warisan Bung Karno-KH Wahab, Said Abdullah: Halal Bihalal Adalah Sarana Merawat Persatuan

Aspek kedua, lanjut Said, adalah sikap kenegarawanan. Hal ini dibuktikan dengan keputusan Presiden Prabowo yang tetap mempercayakan posisi Ketua Dewan Pengarah BPIP dan BRIN kepada Megawati, meskipun PDIP saat ini berada di luar pemerintahan.

Said menilai, Prabowo memandang Megawati memiliki kapasitas kenegarawanan yang melampaui urusan politik praktis. Keduanya sepakat bahwa penanaman nilai Pancasila berada di atas segalanya.

"Lembaga negara seperti BPIP memang harus di jabat oleh negarawan, sekaligus kegigihan seorang tokoh dalam menanamkan nilai nilai Pancasila. Urusan Pancasila ini melampaui segala galanya, dan itulah yang dipedomani oleh kedua beliau. Jadi kemesraan pada acara peringatan hari Pancasila itu manisfestasi dari hal ini," tuturnya. 

Aspek ketiga, hubungan Megawati dan Prabowo berdiri di atas pandangan politik kebangsaan. 

Said menyebut, Prabowo tidak pernah memandang PDIP sebagai musuh, melainkan sebagai mitra penyeimbang.

Hal ini terlihat dari pidato Presiden Prabowo di DPR pada 20 Mei lalu, di mana Prabowo mengapresiasi masukan dari kader-kader PDIP.

"Bagi saya, sosok kedua beliau ini sudah pada level political beyond, berpolitik untuk bangsa dan negara, bukan semata-mata kekuasaan. Karena ketiga fondasi hubungan dan cara pandang kedua beliau inilah mengapa hubungan Ibu Mega dan Presiden Prabowo awet, tidak ternoda, meski berbeda haluan politik kepartaiannya," jelasnya. 

Said menambahkan, keteladanan yang ditunjukkan Megawati dan Prabowo ini turut menular ke kader partai, khususnya di parlemen.

"Saya kira keteladanan ini pula yang diikuti oleh jajaran pada Fraksi PDIP dan Gerindra di DPR. Kedua fraksi bisa cair saling berdiskusi, bertukar pandangan dalam membahas kebijakan dan program-program pemerintah, meskipun dalam beberapa hal terjadi perbedaan pandangan," imbuhnya. 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.