Titik Api di Seyegan Meluas, Tim Geofisika UPN Bakal Lakukan Perekaman, Cari Lapisan Zona Gas Metan
Yoseph Hary W June 02, 2026 11:14 PM

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tim Geofisika Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta bakal melakukan pemetaan rekaman geofisika di Kasuran, Seyegan, Sleman, Rabu (3/6/2026).

Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof Basuki Rahmad mengatakan pemetaan rekaman geofisika ini bertujuan untuk mengetahui kondisi lapisan batuan bawah permukaan. 

Titik api meluas

Langkah awal ini dilakukan lantaran kebakaran berupa titik api meluas ke tetangga sebelah utara rumah Agus Yani.

“Jadi kan dari geologinya ada data-data yang sudah dikumpulkan di permukaan, batuan-batuan ini. Kami butuh data valid secara geofisika, batuannya nyebar kemana, yang mana batuan itu diduga kuat sebagai sumbernya gas. Yang kemarin saya sampaikan batuan lanau warna gelap, diduga kuat karbon organik,” katanya, Selasa (2/6/2026).

Melalui rekaman geofisika tersebut akan diketahui lapisan batuan yang diindikasikan sebagai zona-zona gas metan.

“Indikasi kuat gas metan, karena kalau di dalam, ternyata juga muncul di persawahan. Di bawah kan tentunya ada sebuah lapisan jejak rawa, batuan-batuan yang membawa gas. Rekaman geofisika itu hasilnya sebuah lapisan yang diindikasikan sebagai zona-zona gas metan pada batuan apa,” sambungnya.

Setelah hasil pemetaan geofisika didapatkan, pihaknya akan melakukan seismik refraksi untuk mengetahui kurida yang tersimpan. 

Gelembung-gelembung gas di sumur

Pihaknya telah melakukan pengecekan di beberapa titik di sekitar rumah Agus Yani. Tak jauh dari rumah tersebut, ada sebuah sumur yang sebelumnya digali warga untuk diperdalam. Namun ketika digali, ada bau gas sehingga penggalian dihentikan.

Dari pengamatannya di sumur tersebut, ada gelembung-gelembung gas meski kecil.

Basuki menilai perilaku gas di sekitar kawasan tersebut cukup menarik. Bahkan fenomena ini menjadi yang pertama kali ia alami selama meneliti gas.

Pasalnya kebakaran tidak hanya terjadi di dalam rumah yang kondisinya lembab, tetapi juga di luar rumah.

“Ini menjadi hal yang sangat unik, perilaku gas ini. Rumahnya Fia (putri Agus Yani) ini kan lembab, artinya mengandung kandungan H2O. Diduga kuat gas itu masih beterbangan di rumah ini. Karena lembab, banyak pakaian menggantung di dinding, pakaian juga lembab,” terangnya.

“Gas yang diduga kuat gas metan ini dari bawah permukaan rumah ini, sebuah molekul CH4 itu kan selalu menempel pada molekul pada H2O. Nah H2O ini kelembaban tadi, kelembaban itu salah satunya di pakaian, deklit,” lanjutnya.

Gas menempel pada permukaan lembab

Kebakaran lebih sering terjadi pada malam dan pagi hari, yang mana kondisinya lebih lembab. Kondisi lembab pada malam hari menyebabkan barang-barang berembun. 

Sifat gas yang menempel pada molekul H2O kemudian kontak dengan oksigen menyebabkan gesekan kedua molekul tersebut menyebabkan kebakaran.

“Analogi ilmiahnya kan gitu. Nah kayu yang mudah terbakar triplek, di dalam yang lembab itu kan kardus. Cuma yang menarik di luar rumah tidak lembab tapi terbakar. Artinya kan di bawah permukaan ini pasti kan ada sumber. Sumber gas itu yang terus bermigrasi, karena jenuh di bawah, keluar ke atas tinggal dia nyamber H2O tadi, kontak dengan O2, kebakar dia,” paparnya.

Ia pun menyarankan agar ventilasi di rumah Agus Yani diperbanyak supaya kondisi dalam rumah lebih kering. (maw)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.