Gimmick Umrah Estetik, Terungkap Cara Hanania Travel Peras Uang Jemaah untuk Bayar Keanu dan Awkarin
Tsaniyah Faidah June 03, 2026 01:04 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Strategi pemasaran berkedok umrah milenial estetik yang digencarkan Hanania Travel akhirnya runtuh.

Biro perjalanan ini kedapatan menggunakan uang para pendaftar baru untuk membiayai promosi mewah dan membayar jasa selebgram ternama seperti Keanu Agl hingga Awkarin.

Pihak Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) kini telah menetapkan pemilik Hanania Travel, Ahmad Syah Farhan, sebagai tersangka kasus penggelapan uang.

Penetapan ini dilakukan setelah kepolisian mendalami aliran dana dari ribuan calon jemaah yang gagal berangkat ke Tanah Suci.

Hanania Travel mengusung konsep umrah milenial untuk menarik minat konsumen muda.

Mereka bersedia membayar mahal para pembuat konten atau influencer papan atas demi mendongkrak citra di media sosial.

Berdasarkan penelusuran pada akun media sosial resmi mereka, sejumlah selebgram terkenal seperti Keanu Agl, Awkarin, hingga Dara Arafah pernah diberangkatkan umrah oleh agensi ini.

Namun, di balik visual estetik yang ditampilkan di media sosial, terdapat masalah keuangan yang sangat besar.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, menerangkan bahwa uang yang disetorkan oleh calon jemaah tidak dialokasikan untuk keperluan perjalanan mereka.

Dana tersebut justru dialihkan untuk membiayai operasional pemasaran yang agresif.

"Hasil dari pengambilan keterangan terhadap terduga tersangka saat ini, uang yang digunakan, sebagian digunakan untuk kepentingan di luar dari kepentingan perjalanan umrah para jamaah," ujar Kombes Iman Imanuddin pada Selasa (2/6/2026).

Ia menambahkan bahwa biaya pemasaran menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar dari uang jemaah tersebut.

Baca juga: Penawaran dari Bos Hanania Travel untuk Calon Jemaah Korban Penipuan, Refund Dicicil Selama 2 Tahun

"Sebagian juga digunakan untuk membayar influencer, sebagaimana tadi dipertanyakan. Ini untuk kepentingan marketing," paparnya seperti dikutip dari TribunJakarta.com.

Karena keterlibatan ini, pihak kepolisian menjadwalkan pemeriksaan terhadap para figur publik yang pernah bekerja sama dengan Hanania Travel.

Langkah ini diambil untuk menggali informasi lebih dalam mengenai kontrak kerja sama pemasaran tersebut.

"Tentunya kami juga akan mengambil keterangan terhadap para selebgram yang ikut serta memberikan atau menjadi marketing dalam hal penawaran beberapa paket umroh yang ditawarkan oleh PT Khazanah Tamma Internasional tersebut atau Hanania Group," tandas Kombes Iman Imanuddin.

Praktik ini semula berjalan rapi karena perusahaan menerapkan skema putaran uang atau dikenal dengan istilah gali lubang tutup lubang.

Uang tunai yang disetorkan oleh calon jemaah yang baru mendaftar tidak dipakai untuk membelikan mereka tiket pesawat ataupun memesan kamar hotel.

Pihak travel justru menggunakan dana segar itu untuk memberangkatkan jemaah dari kloter-kloter sebelumnya yang sempat tertunda.

Salah satu korban bernama Joko Setyo mengaku tergiur dengan paket perjalanan yang ditawarkan Hanania Travel karena harganya yang relatif murah.

Perusahaan menawarkan paket umrah dengan kisaran harga Rp30 juta hingga Rp35 juta. Menariknya, harga tersebut sudah mencakup paket wisata tambahan ke Dubai.

"Ya, promonya menarik dan secara cost memang murah ya dengan angka yang mereka tawarkan. Ya dengan paket segitu plus Dubai sih memang low price lah ya," tutur Joko Setyo pada Jumat (29/5/2026).

Joko Setyo sendiri sudah membayar uang sebesar Rp60 juta untuk keberangkatan dua orang.

Berdasarkan jadwal awal, ia bersama anggotanya seharusnya bertolak ke Tanah Suci pada Maret 2026.

Namun, hingga memasuki pertengahan tahun, ia tidak kunjung mendapatkan kejelasan mengenai tanggal keberangkatan.

Ketika para jemaah mulai mempertanyakan keterlambatan ini, manajemen Hanania Travel sempat mencari alasan untuk meredam kemarahan massal.

Mereka menggunakan dalih adanya eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat sebagai penyebab tertundanya penerbangan.

Baca juga: Pengakuan Farhan Bos Travel Hanania Group yang Tipu Calon Jemaah Umrah : Saya Tidak Melarikan Diri

Namun setelah ditelusuri secara mandiri oleh para jemaah, alasan tersebut hanyalah kedok untuk menutupi ketiadaan dana.

Kekacauan finansial internal Hanania Travel sebenarnya bukan terjadi baru-baru ini.

Dari pengakuan jemaah saat proses mediasi, perusahaan ini ditengarai sudah mengalami kelangkaan dana dan kesalahan tata kelola keuangan sejak tahun 2025.

Mediasi Gagal

Sebelum kasus ini resmi bergulir ke ranah hukum, pemilik Hanania Travel sempat menemui para korban untuk melakukan mediasi.

Pertemuan tersebut berlangsung di kantor cabang Hanania Travel yang berlokasi di dalam gedung EightyEight, kawasan Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan.

Korban lainnya bernama Rosa (50) menceritakan situasi di dalam ruang mediasi. Di hadapan perwakilan korban, Ahmad Syah Farhan mengakui kesalahannya.

Ia membenarkan bahwa perusahaan tidak mampu memberangkatkan sekitar 1.260 orang calon jemaah umrah yang tercatat untuk kloter keberangkatan Juni hingga Juli 2026.

Guna menyelesaikan masalah tersebut, pemilik travel memberikan dua opsi kepada para korban. Opsi pertama adalah mengalihkan pemberangkatan jemaah dengan menggandeng biro perjalanan umrah lain.

PENIPUAN JEMAAH UMRAH - Bos travel umrah Hanania, Ahmad Syah Farhan
PENIPUAN JEMAAH UMRAH - Bos travel umrah Hanania, Ahmad Syah Farhan (Kompas.com/Kompas.com)

Opsi kedua adalah pengembalian dana total (refund), namun dengan syarat tenggat waktu pembayaran selama dua tahun.

"Nah, itu kita tidak sepakat. Sempat terjadi adu argumen antara bapak-bapak calon jemaah tadi, dengan owner. Makanya lalu dibawa ke Polda," tukas Rosa.

Joko Setyo juga membenarkan bahwa tersangka sempat membuat surat pernyataan tertulis yang menyatakan kesanggupannya untuk mengembalikan seluruh uang jemaah.

Namun, janji tersebut dinilai tidak realistis karena tidak disertai dengan jaminan aset yang konkret.

"Tadi sebenarnya sebelum kita buat LP, kita sudah banyak diskusi ya sama Farhan. Akhirnya Farhan tidak berhasil meyakinkan kami selaku jemaah bahwa proses itu, refund itu, bisa dilakukan," jelas Joko.

Karena tidak ada jaminan finansial yang pasti dari pihak pemilik, para jemaah yang hadir dalam mediasi tersebut sepakat untuk langsung menggiring Ahmad Syah Farhan ke Markas Polda Metro Jaya guna membuat Laporan Polisi (LP).

Berdasarkan hasil rekapitulasi data korban dalam proses mediasi, akumulasi total kerugian materi yang dialami oleh seluruh calon jemaah yang gagal berangkat diperkirakan menembus angka Rp60 miliar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.