Hansi Flick resmi dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik La Liga untuk musim 2025-26. Pelatih asal Jerman tersebut meraih penghargaan bergengsi itu setelah berhasil membawa Barcelona memenangkan gelar liga domestik untuk kedua kalinya secara beruntun. Tim asuhannya tampil dominan sepanjang musim dengan catatan luar biasa di kandang, memanfaatkan situasi kacau yang melanda rival utama mereka, Real Madrid.
Kampanye domestik bersejarah bagi raksasa Katalunya
Pengumuman resmi dari La Liga pada hari Rabu mengonfirmasi bahwa Flick mengalahkan pelatih Getafe, Jose Bordalas, dan pelatih kepala Villarreal, Marcelino, dalam pemungutan suara terakhir. Manajer asal Jerman itu membawa Barcelona meraih kemenangan luar biasa di liga, menutup musim dengan total 94 poin. Barcelona tampil superior sepanjang tahun, mencetak 95 gol dan hanya menelan enam kekalahan dari 38 pertandingan domestik. Catatan penting lainnya, klub Katalunya tersebut mencatat sejarah sebagai tim pertama yang memenangkan seluruh 19 laga kandang dalam satu musim sejak format 38 pertandingan diperkenalkan. Flick berhasil menanamkan gaya permainan khasnya secara kuat di klub.
Statistik luar biasa meski gagal di kompetisi Eropa
Secara keseluruhan, Flick mencatatkan statistik impresif selama masa kepelatihannya di Spanyol. Sepanjang musim ini di semua kompetisi, skuadnya bermain dalam 57 pertandingan dengan torehan 44 kemenangan, tiga kali imbang, dan 10 kekalahan. Meski sukses di kancah domestik, performa di kompetisi Eropa masih menjadi pekerjaan rumah. Flick kembali gagal mencapai target utama klub di Liga Champions untuk tahun kedua berturut-turut, setelah tersingkir di perempat final melawan Atletico Madrid. Walau begitu, dominasi mereka di ajang domestik tetap tak terbantahkan.
Memanfaatkan kekacauan di musim Real Madrid
Pencapaian luar biasa Flick bersama Barcelona semakin menonjol karena situasi penuh kekacauan yang dialami rival abadi mereka, Real Madrid. Ketika klub Katalunya menikmati kestabilan, tim ibu kota justru menjalani musim buruk tanpa satu pun trofi, disertai konflik internal di ruang ganti serta perselisihan antara pemain dan staf pelatih. Krisis tersebut memuncak ketika Xabi Alonso meninggalkan posisinya sebagai pelatih hanya setelah setengah musim. Alvaro Arbeloa kemudian ditunjuk sebagai pengganti untuk menstabilkan situasi, namun gagal membawa perbaikan taktis yang berarti. Akibatnya, Real Madrid menutup musim tanpa gelar apa pun. Setelah tahun yang mengecewakan ini, mereka kini bersiap memulai era baru yang kemungkinan besar akan dipimpin oleh Jose Mourinho dalam periode keduanya yang sangat dinantikan.
Fokus pada kejayaan Eropa musim depan
Menatap masa depan, Flick dan skuadnya akan menikmati libur yang layak sebelum memulai persiapan untuk musim mendatang. Walau dominasi mereka di kompetisi domestik tidak diragukan, target utama musim depan jelas adalah merebut trofi Liga Champions. Manajer asal Jerman itu harus mampu menerjemahkan konsistensi di liga ke pentas Eropa untuk benar-benar menandai era ini sebagai periode emas dalam sejarah klub.