Ucapkan Selamat Tinggal pada Asap Knalpot di Malioboro Mulai November Ini
Hari Susmayanti June 04, 2026 09:09 AM

 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah menargetkan kawasan wisata Malioboro akan bebas kendaraan bermotor mulai akhir November mendatang.

Nantinya, kawasan Malioboro hanya boleh dilintasi kendaraan non-bahan bakar minyak (BBM).

Sementara becak motor dan kendaraan berbahan bakar BBM tidak diizinkan melintas.

Langkah ini jadi bagian dari upaya merealisasikan satu area Low Emission Zone (LEZ) alias zona emisi rendah di sepanjang kawasan Malioboro.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Chrestina Erni Widyastuti mengungkapkan salah satu upaya untuk membebaskan kawasan Malioboro adalah dengan melakukan pembatasan terhadap bentor dan kendaraan pribadi.

Ditargetkan pada November mendatang, bentor sudah tidak ada lagi di kawasan Malioboro.

"Target yang terdekat adalah di akhir November nanti enggak ada bentor di Malioboro. Jadi yang boleh melintas kan hanya yang non-BBM, seperti becak kayuh sama becak listrik. Itu target terdekat ya," ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Menurut Erni, setelah menjadi kawasan LEZ, nantinya akses kendaraan yang melintasi Malioboro akan sangat terbatas.

Hanya moda transportasi khusus yang diizinkan melintasi ikon wisata Kota Yogyakarta tersebut.

"Jadi kan di sana low emission zone. Yang boleh melintas hanya kendaraan darurat, becak kayuh, becak listrik, lalu juga Trans Jogja. Untuk Trans Jogja juga kita upayakan nanti ada tambahan bus listriknya, supaya layanan semakin baik," imbuhnya.

Baca juga: Kesaksian Keluarga Balita Naura: Dugaan Malapraktik RSUD Prambanan Sleman

Bentor Mulai Dimusnahkan

BECAK LISTRIK - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menjajal becak listrik bantuan dari PT KAI di KUPT Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Rabu (3/6/2026).
BECAK LISTRIK - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menjajal becak listrik bantuan dari PT KAI di KUPT Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Rabu (3/6/2026). (Tribun Jogja/Dok. KAI Daop 6 Yogyakarta)

Sebagai langkah awal menuju kawasan LEZ, pemerintah DIY dan Kota Yogyakarta mulai melakukan pemusnahan bentor.

Sebanyak 50 bentor dimusnahkan dengan menggunakan alat berat pada Rabu (3/6/2026) kemarin.

Kegiatan pemusnahan ini dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan rangkaian HUT ke-79 Pemkot Yogyakarta.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menegaskan, langkah ini diambil demi mewujudkan cita-cita kawasan Malioboro dan sumbu filosofi yang minim polutan.

Sebagai gantinya, para pengemudi bentor yang berkenan merelakan armadanya dimusnahkan, mendapat ganti becak listrik yang ramah lingkungan.

"Ya, lambat tapi pasti bahwa becak konvensional harus habis. Kemudian secara bertahap becak listrik hadir. Hari ini 50 unit (bentor) kita hancurkan," tandasnya. 

260 Becak Listrik

Hasto memaparkan, hingga saat ini sudah ada sekitar 260 unit becak listrik yang mengaspal di Kota Pelajar, khususnya di seputaran kawasan Malioboro.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari pengadaan bertahap, mulai peluncuran awal, hingga bantuan unit becak listrik dari berbagai pihak.

"Bertahap, sampai (target) di sumbu filosofi menggunakan sarana transportasi yang minim terhadap polutan lingkungan ini tercapai," pungkas Wali Kota. 

Mengenal Sumbu Filosofi

Sumbu Filosofi (lengkapnya Sumbu Filosofi Yogyakarta) adalah sebuah garis imajiner yang sangat sakral di Yogyakarta. 

Garis ini membentang lurus sepanjang sekitar 6 kilometer dari utara ke selatan, menghubungkan tiga titik utama: Gunung Merapi, Kraton Yogyakarta, dan Laut Selatan (Samudra Hindia).

Sumbu ini bukan sekadar tata kota biasa, melainkan maha karya Sri Sultan Hamengku Buwono I (pendiri Kraton Yogyakarta) pada tahun 1755 yang sarat akan makna filosofis, spiritual, dan daur hidup manusia.

1. Sumbu Utara: Panggung Krapyak ke Kraton

Filosofi: Sangkan Paraning Dumadi (Asal Mula Kehidupan).

Makna: Jalur ini melambangkan perjalanan manusia dari dalam rahim (benih) hingga lahir, tumbuh dewasa, dan siap membina rumah tangga.

Simbol: Perjalanan dimulai dari Panggung Krapyak (melambangkan rahim/wadah benih) menuju ke utara hingga sampai di Kraton Yogyakarta.

2. Sumbu Selatan: Tugu Pal Putih (Tugu Jogja) ke Kraton

Filosofi: Paraning Dumadi (Tujuan Akhir Kehidupan).

Makna: Jalur ini melambangkan perjalanan hidup manusia yang sudah dewasa menuju kematangan spiritual dan kembali kepada Sang Pencipta (Tuhan).

Simbol: Dimulai dari Tugu Pal Putih (simbol manunggalnya rasa, cipta, dan karsa) bergerak ke selatan melalui Jalan Malioboro hingga mencapai Kraton. Jalur ini juga mengingatkan manusia untuk menyembah Tuhannya (Manunggaling Kawula Gusti).

3. Kraton Yogyakarta sebagai Pusat

Kraton diposisikan tepat di tengah-tengah Sumbu Filosofi ini, melambangkan keseimbangan jagat raya (kosmos) dan pusat pemerintahan serta spiritualitas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.