Ironi Sentra Garam Terbesar Jabar di Cirebon, 50 Tahun Jalan Pengangkut Hasil Tambak Tak Diaspal
Kemal Setia Permana June 04, 2026 09:11 AM

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Di balik hamparan tambak garam yang menjadikan Kabupaten Cirebon sebagai salah satu lumbung garam nasional, tersimpan persoalan infrastruktur yang tak kunjung terselesaikan.

Jalan utama yang menjadi akses ribuan petambak garam dan nelayan di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, hingga kini masih rusak parah dan belum pernah mendapatkan pembangunan permanen sejak sekitar tahun 1970-an.

Padahal, jalur sepanjang sekitar 7 hingga 8 kilometer itu menjadi urat nadi aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, menghubungkan permukiman warga dengan ribuan hektare lahan tambak garam hingga bibir pantai.

Kondisi tersebut dikeluhkan para petambak yang setiap hari harus melintasi jalan berlubang, berbatu dan kerap tergenang air saat musim hujan maupun banjir rob.

Salah seorang petani garam asal Desa Rawaurip, Ismail Marzuki (39) mengatakan, jalan tersebut telah menjadi akses utama masyarakat pesisir bahkan sejak sebelum dirinya lahir.

Baca juga: Mobil Boks Robohkan Palang Perlintasan Kereta Api di Cimindi, Ganti Rugi Ditanggung Pelaku

"Jalan ini sudah ada sejak sekitar tahun 1970-an. Dari dulu sampai sekarang menjadi akses utama untuk mengangkut hasil garam dan aktivitas nelayan ke laut. Tapi sampai hari ini belum pernah diaspal atau dibeton," ujar Ismail saat ditemui media, Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, satu-satunya penanganan yang pernah dilakukan hanya berupa pengerasan jalan sekitar tahun 2011 hingga 2012.

Saat itu, pengerasan dilakukan bersamaan dengan proyek pembangunan pagar batu kubus di sepanjang pesisir Kecamatan Pangenan untuk mengantisipasi abrasi.

Namun, upaya tersebut dinilai belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada jalur tersebut.

"Kalau musim hujan atau air pasang, jalan semakin sulit dilalui. Padahal jalur ini sangat penting untuk mengangkut hasil produksi garam," ucapnya.

Ismail menuturkan, abrasi dan banjir rob yang masih sering terjadi turut memperburuk kondisi jalan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga para petani garam yang harus mengangkut hasil panen dari tambak menuju lokasi penampungan maupun pemasaran.

Padahal, kawasan Rawaurip dan sekitarnya dikenal sebagai salah satu sentra produksi garam terbesar di Jawa Barat. 

Kabupaten Cirebon sendiri tercatat memiliki hamparan tambak garam terluas di Indonesia dan menjadi salah satu penopang produksi garam nasional.

Meski memiliki kontribusi besar terhadap sektor pergaraman, perhatian terhadap infrastruktur pendukung dinilai belum sebanding dengan potensi ekonomi yang dihasilkan.

Baca juga: Breaking News: Tabrakan Beruntun 3 Kendaraan di Jalan Raya Sumedang-Wado: 1 Tewas, 5 Luka

Sekretaris Desa Rawaurip, Yudi mengungkapkan, pihak pemerintah desa (pemdes) sebenarnya telah berulang kali mengusulkan perbaikan jalan tersebut kepada berbagai tingkatan pemerintahan.

"Sejak tahun 2020 sampai sekarang selalu kami usulkan, baik ke pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat. Kendalanya sampai sekarang status jalan itu belum jelas masuk kewenangan siapa," jelas Yudi.

Menurutnya, ketidakjelasan status kewenangan menjadi salah satu penyebab utama belum terealisasinya pembangunan jalan tersebut hingga saat ini.

Yudi menjelaskan pemerintah desa tidak dapat mengalokasikan anggaran desa untuk memperbaiki ruas jalan tersebut karena bukan merupakan aset maupun kewenangan desa.

"Kami ingin jalan ini diperbaiki karena sangat dibutuhkan masyarakat. Tapi desa tidak bisa masuk karena bukan kewenangan kami," katanya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi jalan memang memprihatinkan.

Pada sejumlah titik terlihat kubangan air berlumpur yang menutupi badan jalan.

Permukaan jalan berupa tanah bercampur batu kali dengan kondisi tidak rata dan berlubang.

Di beberapa bagian lainnya, hamparan batu-batu berserakan tampak memenuhi badan jalan tanpa adanya lapisan aspal maupun beton.

Saat kendaraan melintas, pengendara harus memperlambat laju kendaraan untuk menghindari batu-batu tajam dan genangan yang berpotensi membahayakan.

Di sisi jalan tampak hamparan semak belukar, area tambak, serta sejumlah tiang listrik yang membentang mengikuti jalur pesisir.

Pemandangan tersebut menjadi gambaran kontras antara besarnya potensi ekonomi kawasan tambak garam dengan kondisi infrastruktur yang masih tertinggal.

Bagi masyarakat Rawaurip, jalan tersebut bukan sekadar akses penghubung.

Jalur itu merupakan denyut kehidupan ribuan petambak dan nelayan yang setiap hari menggantungkan penghasilan mereka pada hasil laut dan garam.

Namun hingga puluhan tahun berlalu, harapan untuk menikmati jalan yang layak masih terus menunggu kepastian. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.