Kepergian Paklek Pusam Tinggalkan Duka Mendalam, Pusamania: Stadion Terasa Sepi Tanpa Sapaan Beliau
Samir Paturusi June 04, 2026 11:11 AM

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA  – Wafatnya Samin bin Puang atau yang akrab disapa Paklek Pusam meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar suporter sepak bola di Samarinda.

Sosok yang selama puluhan tahun setia mendukung tim kebanggaan Pesut Etam itu dikenang sebagai figur ramah, penuh semangat, dan menjadi pemersatu di tribun stadion.

Dirigen Pusamania, Rio mengaku sangat kehilangan atas kepergian sosok yang dianggap sebagai orang tua bagi para suporter Samarinda.

Rio mengatakan dirinya telah mengenal Paklek Pusam sejak era Persisam hingga perjalanan klub bertransformasi menjadi Borneo FC Samarinda.

"Saya kenal beliau mulai zaman Persisam. Tentu siapa yang tidak kenal dengan almarhum, khususnya pencinta sepak bola Kota Tepian. Mulai zaman Persisam, Putra Samarinda, Pusam sampai sekarang Borneo FC, pasti mereka semua kenal dan akrab dengan almarhum," ujarnya.

Baca juga: BREAKING NEWS: Paklek Pusam Meninggal Dunia, Pusamania Kehilangan Ikon Loyalitas Sepak Bola

Menurut Rio, sebutan Paklek Pusam lahir dari rasa hormat para suporter kepada sosok Samin yang dianggap sebagai sesepuh di kalangan Pusamania.

"Karena kami menganggap Paklek sebagai orang yang kami tuakan dan hormati di Pusamania. Dari situlah kami mulai memanggil beliau dengan sebutan Paklek," katanya.

Di mata para suporter, Paklek Pusam dikenal sebagai pribadi yang selalu membawa keceriaan di tribun.

Meski usia tak lagi muda dan kondisi kesehatannya mulai menurun, semangatnya untuk mendukung tim kesayangan tidak pernah pudar.

"Beliau orang yang sangat ceria, selalu menyapa teman-teman di tribun. Tidak pernah lelah. Walaupun usianya sudah tua dan beberapa pertandingan terakhir beliau mengalami sakit pinggang, beliau tetap datang ke stadion untuk mendukung Borneo FC," kenang Rio.

Salah satu kenangan yang paling membekas adalah kebiasaan Paklek Pusam menyapa para suporter sebelum pertandingan dimulai maupun saat jeda laga berlangsung.

Dengan gaya khasnya, ia kerap menyebut daerah asal para suporter yang hadir di stadion.

"Beliau selalu menyapa teman-teman dari mana saja yang hadir. Kadang menyebut Cendana, Palaran, dan daerah-daerah lainnya. Itu yang membuat suasana tribun hidup. Kami kehilangan sosok yang sangat aktif dan begitu ramah," tuturnya.

Rio mengungkapkan kabar meninggalnya Paklek Pusam membuat banyak suporter terkejut. Tidak hanya Pusamania dan pendukung Borneo FC, sejumlah kelompok suporter dari berbagai daerah juga menyampaikan belasungkawa.

"Kami sangat kaget dan merasa kehilangan. Bukan hanya Pusamania atau Borneo FC Fans, tetapi hampir seluruh suporter di Samarinda. Bahkan teman-teman dari Arema, Bonek dan kelompok suporter lainnya menghubungi saya dan menyatakan ingin hadir ke rumah duka malam ini," ujarnya.

Baca juga: Pusamania Berharap Borneo FC Bisa Tampil Maksimal saat Hadapi Malut United di Laga Terakhir

Pertemuan terakhir Rio dengan Paklek Pusam terjadi saat pertandingan terakhir Borneo FC melawan Malut United FC. 

Saat itu, meski kondisi fisiknya tidak lagi prima, Paklek tetap hadir memberikan dukungan langsung dari tribun.

Kini, sosok yang selama ini menjadi ikon suporter Samarinda itu telah berpulang. Namun bagi banyak orang, semangat, loyalitas, dan kehangatan Paklek Pusam akan tetap hidup dalam ingatan para pencinta sepak bola Kota Tepian.

"Yang pasti stadion akan terasa lebih sepi tanpa sapaan beliau," pungkasnya. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.