Wariskan Gagasan Jaga Aceh Mulia, Kapolda Luncurkan Buku "Polda Aceh Meutuah"
mufti June 04, 2026 11:24 AM

Buku ini harus menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Aceh, para mahasiswa, peneliti, aparatur pemerintah, dan seluruh masyarakat. M Nasir, Sekda Aceh

Kapolda Aceh Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah resmi meluncurkan buku berjudul “Polda Aceh Meutuah: Sabe Tajaga Aceh Mulia”. Peluncuran berlangsung di Aula Landmark BSI Aceh, Banda Aceh, Rabu (3/6/2026). 

Buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup putra asal Tangse, Kabupaten Pidie, itu sejak masa kecil hingga menjadi pimpinan tertinggi Kepolisian Daerah Aceh. Selain itu, buku setebal lebih dari 250 halaman tersebut juga merekam berbagai tantangan dan gagasan yang dijalankan Irjen Marzuki selama memimpin Polda Aceh sejak Agustus 2025.

Salah satu bagian penting dalam buku itu mengulas kepemimpinan Irjen Marzuki saat menghadapi bencana ekologis yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh tidak lama setelah dirinya dilantik sebagai Kapolda Aceh. 

Di tengah situasi tersebut, ia dituntut tetap memastikan pelayanan kepolisian kepada masyarakat berjalan optimal, serta mengupayakan agar warga terdampak bencana segera tertangani.

Tak hanya itu, buku ini juga memuat upaya Polda Aceh dalam menyelesaikan sejumlah persoalan seperti aktivitas tambang ilegal hingga menindak peredaran narkoba, sekaligus menjelaskan konsep “Polda Aceh Meutuah” yang menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal Aceh ke dalam pelaksanaan tugas kepolisian.

Dalam acara peluncuran itu, Irjen Marzuki mengatakan, buku Polda Aceh Meutuah ini menjadi wadah untuk berbagi pengalaman sekaligus menuangkan gagasan tentang konsep kepolisian yang berlandaskan kearifan lokal Aceh tanpa mengesampingkan ketentuan dalam Undang-Undang Kepolisian.

Ia meyakini bahwa pendekatan yang bertumpu pada nilai-nilai kearifan lokal mampu menyentuh hati masyarakat Aceh, sehingga tugas kepolisian dalam menjaga kamtibmas dan menegakkan hukum dapat berjalan selaras dengan karakter dan jiwa masyarakat Aceh.

“Kearifan lokal Aceh, dapat menyentuh hati rakyat Aceh. Sehingga tugas kepolisian dalam menjaga kamtibmas dan penegakan hukum selaras dengan jiwa masyarakat Aceh itu sendiri,” ujarnya.

Ia juga menilai, konsep Polda Aceh Meutuah ini juga menjadi bagian dari upaya membangun dan menjaga hubungan sosial masyarakat Aceh di masa depan. Karena itu, aparat kepolisian yang bertugas di Aceh sebagai tanah perdamaian dinilai perlu memiliki pendekatan dan karakteristik yang khas.

“Konsep ini adalah konsep menjaga hubungan sosial masa depan masyarakat Aceh. Bahwa Aceh bukan hanya perlu aman, tapi juga butuh kenyamanan. Dua hal, aman dan nyaman,” ungkapnya.

Sementara, penulis buku Nurlis Effendi, mengungkap, bahwa proses penulisan dilakukan secara mandiri berdasarkan pengamatannya terhadap berbagai aktivitas dan gagasan Irjen Marzuki sejak awal menjabat sebagai Kapolda Aceh.

Buku ini, kata dia, juga merupakan salah satu sarana untuk mewariskan gagasan “Jaga Aceh Mulia” dalam tubuh kepolisian di Tanah Rencong.

“Saya menulis buku ini tanpa beliau sadari. Ketika saya mulai bersama Bapak Kapolda sejak Agustus 2025 saya sudah mulai mencatat kegiatan Pak Kapolda ini ketika saya melihat beliau punya gagasan. Gagasan, ide tentang Polda Aceh Meutuah ini. Saya melihat sekian lama sejak perjalanan kepolisian, belum ada pemimpin-pemimpin kepolisian di Aceh yang menanamkan instrumen lokal di Polda Aceh,” kata Nurlis.

Menurut Nurlis, awalnya dia sempat mengkaji aturan-aturan di kepolisian dan meminta pandangan berbagai tokoh mengenai konsep yang dibangun Kapolda Aceh tersebut.

“Ternyata enggak ada yang melanggar. Dan saya bertanya juga pada beliau, apakah ada daerah lainnya yang menerapkan seperti pola Pak Kapolda ini tentang Polda Aceh Metuah. Ternyata ada beberapa daerah, tapi tidak seaktif yang dilakukan oleh pak Marzuki,” ungkapnya.

Nurlis menilai pendekatan yang dilakukan Kapolda Irjen Marzuki menghadirkan nuansa baru dalam hubungan institusi kepolisian dengan lembaga adat di Aceh. Salah satunya yakni komunikasi intens antara Polda Aceh dan lembaga Wali Nanggroe.

“Nah, hal ini yang belum pernah saya tulis dan dapatkan di Polda Aceh,” ujarnya. Lebih lanjut, Nurlis juga mengungkap, dalam penulisan buku ini dirinya melibatkan dua penyunting dari latar belakang berbeda, yakni Pemred Harian Serambi Indonesia Zainal Arifin M. Nur dari kalangan jurnalis dan Prof Rustam Efendi dari kalangan akademisi. 

“Saya ingin mengombinasikan editing jurnalistik dengan akademisi. Jadi ada dua dimensi yang berbeda dalam buku ini yang di mix (gabung) jadi satu karya,” katanya. 

Dicetak di Serambi Indonesia

Sebagai informasi, buku ini dicetak di PT Aceh Media Grafika/Harian Serambi Indonesia, dan proses penyusunannya juga dilakukan oleh staf layout koran Harian Serambi Indonesia.

Dari segi kualitas, buku Polda Aceh Meutuah ini mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh, di antaranya datang dari Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal dan Akademisi UIN Ar-Raniry Dr Reza Idria.

Menurut kedua tokoh tersebut, kualitas cetak dan kertas yang digunakan untuk buku Polda Aceh Meutuah ini cukup berkualitas. Di mana, buku yang memiliki tebal lebih dari 250 halaman itu tidak terasa berat seperti buku-buku pada umumnya.

Tak hanya itu, tampilan dan desain yang dihadirkan pada buku tersebut juga cukup mewah, serta dilengkapi banya foto-foto menarik yang membuat pembaca tidak bosan. 

Acara peluncuran buku turut dihadiri Sekretaris Daerah Aceh, anggota DPR RI, perwakilan Wali Nanggroe Aceh, unsur Forkopimda Aceh, pimpinan BUMN dan BUMD di Aceh, para bupati dan wali kota se-Aceh, serta Kapolres dan Kapolresta se-Aceh.

Peluncuran juga dirangkai dengan diskusi ringan yang dipandu oleh akademini Fisip USK Dr. Effendi Hasan dan menghadirkan Kapolda Aceh Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, penulis Nurlis Effendi, serta editor Zainal Arifin M. Nur sebagai narasumber.

Sumber inspirasi generasi muda

Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, berharap buku Polda Aceh Meutuah: Sabe Tajaga Aceh Mulia” dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Aceh dalam memahami pentingnya kepemimpinan, integritas, dan kolaborasi dalam membangun daerah.

Harapan tersebut disampaikan M. Nasir saat menyampaikan sambutan pada peluncuran buku yang mengangkat gagasan dan konsep kepemimpinan Kapolda Aceh Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, di Gedung BSI Landmark Aceh, Banda Aceh, Rabu (3/6/2026).

“Kami berharap buku ini tidak hanya menjadi dokumentasi internal kepolisian. Buku ini harus menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Aceh, para mahasiswa, peneliti, aparatur pemerintah, dan seluruh masyarakat untuk memahami bahwa membangun daerah memerlukan kolaborasi, integritas, dan kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat,” kata M. Nasir.

Menurutnya, buku karya Jubir Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi itu bukan sekadar karya tulis yang mendokumentasikan perjalanan dan gagasan seorang pemimpin, tetapi juga memuat nilai-nilai yang dapat menjadi referensi bagi generasi masa kini dan masa mendatang.

Atas nama Pemerintah Aceh, M. Nasir menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Ia menilai konsep Polda Aceh Meutuah mencerminkan visi kepolisian yang tidak hanya berperan sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra dan pengayom masyarakat dalam mewujudkan keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan.

“Kami memahami bahwa konsep Polda Aceh Meutuah mencerminkan visi kepolisian yang tidak hanya berperan sebagai penegak hukum, tapi juga sebagai mitra dan pengayom masyarakat dalam mewujudkan keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan,” katanya.

Lebih lanjut, M. Nasir mengaku memperoleh banyak pelajaran dan pandangan baru dari berbagai pertemuannya dengan Kapolda Aceh. Menurut dia, pembahasan yang dilakukan tidak hanya berkaitan dengan persoalan keamanan, tetapi juga menyentuh aspek etika dan moral dalam penyelenggaraan pemerintahan.

“Beberapa momentum saya bertemu dengan Pak Kapolda, kita tidak pernah membicarakan kasus, tapi selalu beliau menyampaikan sesuatu yang baru kepada saya. Saya banyak mendapat nasihat-nasihat pemerintahan, bagaimana bersikap etik, moral dalam menghadapi kawan, bukan kawan, atau orang lain di dalam mengarungi pemerintahan ini,” ujarnya.

Ia juga menyoroti makna filosofis kata “meutuah” yang menjadi identitas dalam konsep tersebut. Dalam khazanah budaya Aceh, kata itu tidak hanya bermakna mulia atau beruntung, tetapi juga mengandung nilai keberkahan, kemanfaatan, dan kehormatan.

“Ketika istilah tersebut dilekatkan pada institusi kepolisian, maka harapan yang ingin diwujudkan adalah hadirnya kepolisian yang profesional, humanis, dipercaya masyarakat, serta membawa manfaat yang luas bagi daerah dan bangsa,” tutur M. Nasir.(ra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.