Awal Mula Kecurigaan Prabowo pada Dadan Cs: Gerak Cepat Gandeng BPKP-PPATK Usai Dapat Laporan Miring
Sarah Elnyora Rumaropen June 04, 2026 11:35 AM

Tribunnews.com|Anita K Wardhani

SURYAMALANG.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto akhirnya membongkar kronologi di balik layar terkait pencopotan mendadak Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana beserta dua wakilnya yang berujung pada penetapan status tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) RI.

Langkah tegas ini diambil sang kepala negara setelah mengendus rentetan laporan miring mengenai indikasi penyelewengan dalam tata kelola program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tak ingin kecurigaannya berlarut-larut, Prabowo langsung bergerak cepat menggelar pertemuan rahasia bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

 

Penetapan Tersangka oleh Kejagung

Dadan Hindayana bersama dua wakil BGN, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya resmi ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (3/6/2026).

Ketiganya langsung ditunjukkan ke publik dengan mengenakan rompi pink khas tahanan Kejagung.

Presiden Prabowo Subianto sendiri yang membagikan langsung proses pencopotan para pejabat di BGN ini kepada publik, di mana penyelewengan yang dilakukan Dadan Hindayana Cs menjadi pemicu utamanya.

Padahal, ketiga orang ini dulunya merupakan figur 'kesayangan' Presiden karena dianggap mampu menjalankan tugas berat untuk negara dalam mengatur program MBG.

Kronologi Rapat Rahasia dan Pencopotan

Prabowo mengungkapkan, dirinya mencopot pimpinan lembaga yang menjalankan program MBG tersebut, setelah bertemu dengan BPKP, Muhammad Yusuf Ateh dan juga Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana.

Presiden sengaja memanggil kedua pejabat tersebut untuk meminta agar dilakukan penelusuran mendalam terhadap dugaan penyimpangan di BGN.

Baca juga: TV 75 Inci hingga Motor Listrik Rp1 T, Ini Sederet Barang yang Di-mark up Dadan Hindayana Cs

Langkah ini diambil setelah sebelumnya Prabowo banyak menerima laporan miring mengenai lembaga tersebut.

“Waktu saya mendapat laporan-laporan itu saya panggil Kepala BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah) dan juga Kepala PPATK, dan saya panggil berapa pejabat lain, saya tanya: "Tolong saya mendapat laporan tentang BGN (Badan Gizi Nasional),” kata Prabowo di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu.

Berdasarkan penelusuran Tribunnews (grup suryamalang), Presiden sebenarnya memiliki jadwal awal untuk bertemu Kepala BPKP dan Kepala PPATK pada Senin malam (1/6/2026) sekitar pukul 19.00 WIB di Istana Jakarta. Namun, pertemuan penting tersebut dijadwal ulang menjadi keesokan harinya.

Pada Selasa, 2 Juni 2026, Presiden kemudian bertemu dengan Kepala PPATK dan BPKP di rumah dinas Widya Chandra.

Pertemuan tersebut digelar pada siang hari, tepat sebelum Presiden menghadiri rapat tertutup di Wisma Danantara.

Tak butuh waktu lama setelah pertemuan itu, pada malam harinya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari mendadak menggelar konferensi pers untuk mengumumkan pencopotan pimpinan BGN.

Baca juga: Viral Menu MBG Ada Ulat, SPPG di Lumajang Ditutup Sementara Oleh BGN

Pengumuman pencopotan tersebut dilakukan di Kantor Presiden, tepat di bawah ruangan tempat Presiden biasanya menggelar sidang kabinet paripurna.

Prabowo mengaku, sudah lama mendapat laporan mengenai adanya kekurangan dan penyelewengan di lembaga tersebut.

Menurut Prabowo, bila suatu lembaga atau organisasi tidak berjalan dengan baik, maka hal itu sangat dipengaruhi oleh faktor pimpinannya.

“Dalam setiap organisasi selalu pengaruh pimpinan sangat, sangat besar. Pemimpin baik, organisasi baik. Pemimpin tidak baik, organisasi tidak baik. Apalagi pemimpin tidak bener, tidak kompeten, atau tidak jujur,” tegas Prabowo.

Dari Pakar Serangga hingga Dapur Umum

Di tengah pusaran kasus ini, perjalanan karier Dadan Hindayana menuju jabatan strategis di lingkaran pemerintahan ikut menjadi sorotan.

Terbilang sebagai orang baru di lingkaran Prabowo Subianto, Dadan secara mengejutkan berhasil masuk dalam daftar kabinet pemerintahan Prabowo.

Latar belakang Dadan sebagai seorang akademisi dan pakar entomologi, ilmuwan yang mempelajari serangga, mencakup perilaku, siklus hidup, dan habitatnya, justru menjadi jembatan awal yang mempertemukan pria asal Garut, Jawa Barat ini dengan Prabowo.

Pertemuan pertama mereka terjadi usai pohon cemara udang (casuarina equisetifolia) di rumah pribadi Prabowo di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, diserang cendawan hingga daunnya menjadi layu.

Baca juga: Yayasan Mitra SPPG Terafiliasi Dadan Hindayana Raup Miliaran Per Hari, Kelola Dana Rp353 Triliun

Nama Dadan menjadi satu dari tiga orang yang diajukan ke Prabowo untuk menangani pohon cemara tersebut.

Setelah sukses mengatasi masalah itu, perjalanan karier Dadan berubah drastis.

Dadan kemudian ditarik masuk menjadi pakar di tim Prabowo. Ia intens terlibat dalam berbagai diskusi dan kerap memberikan masukan penting.

Berkat kedekatannya dengan Prabowo, Dadan semula sempat berharap bisa diberikan jabatan sebagai komisaris di salah satu perusahaan negara, namun, presiden memiliki pandangan berbeda.

Dadan justru ditantang untuk mengurusi MBG yang merupakan program prioritas utama Prabowo, hingga akhirnya ia resmi ditunjuk sebagai Kepala Badan Gizi Nasional di kabinetnya.

 Sayangnya, dari status orang kesayangan Prabowo, pengelolaan program MBG ini malah menyeret Dadan ke dalam kasus hukum.

Dulu Dipuji Kembalikan Rp70 Triliun

Kasus ini menjadi ironi yang sangat tajam.

Sosok yang pernah dipuji setinggi langit oleh Presiden karena mengembalikan dana program MBG senilai Rp70 triliun itu, kini justru ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola program yang sama.

Sebelum tersandung kasus di Kejagung, Dadan Hindayana sempat mendapat apresiasi luar biasa dari Prabowo Subianto terkait sikapnya dalam mengelola anggaran negara pada awal pelaksanaan program MBG.

Saat itu, Dadan yang menjabat Kepala BGN memilih untuk mengembalikan dana program MBG sebesar Rp70 triliun kepada negara.

Padahal, lembaga yang dipimpinnya baru saja memperoleh tambahan anggaran yang cukup besar hingga mencapai Rp100 triliun untuk periode 2025.

Baca juga: Dugaan Korupsi MBG: Diwarnai Pengejaran, Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs Resmi Tersangka

Momen pujian tersebut disampaikan Prabowo secara terbuka dalam prosesi sidang senat pengukuhan mahasiswa baru sekaligus wisuda sarjana pada Sabtu (18/10/2025).

Prabowo menilai, keputusan Dadan mengembalikan uang negara menjadi catatan yang sangat langka dalam sejarah pemerintahan Indonesia.

“Rp70 triliun dikembalikan. Ini saya kira dalam sejarah Republik Indonesia, hampir nggak pernah terjadi pejabat mengembalikan uang" ucapnya. 

"Biasanya udah mulai November pejabat menghabis-habiskan uang, mencari kegiatan untuk anggaran dihabiskan,” kata Prabowo kala itu dikutip dari tayangan YouTube UKRI.

Baca juga: Kantor BGN Digeledah Kejagung Usai Prabowo Copot Dadan, di Tengah Isu Jual Beli Titik Dapur MBG

Pengembalian dana fantastis tersebut dilakukan, karena saat itu BGN mengaku bersikap realistis terhadap kemampuan pelaksanaan program di lapangan.

BGN menyatakan, tidak sanggup membangun 30.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum program MBG hingga akhir tahun 2025, namun kini segala pujian dan prestasi masa lalu itu sirna. 

Dadan Hindayana resmi ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi program MBG termasuk dua petinggi BGN lainnya, Sony Sanjaya dan Lodewijk Pusung juga turut memakai rompi pink.

(Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.