WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Impian mengubah nasib dan mendulang pundi-pundi rupiah di Negeri Sakura kini selangkah lebih dekat bagi ratusan pencari kerja di Ibu Kota.
Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Timur secara resmi memfasilitasi agenda seleksi perekrutan tenaga kerja migran yang akan diberangkatkan menuju Jepang. Langkah strategis ini digelar di markas PPKD kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Kamis (4/6/2026).
Program penempatan berskala internasional ini lahir dari sebuah kolaborasi apik antara Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) dengan PT Transjakarta.
Baca juga: PKPI Beri Pelatihan Bahasa Inggris Gratis untuk Warga Susukan Jaktim, Agar Bisa Kerja ke Luar Negeri
Sinergi ini tidak hanya sekadar membuka lowongan pekerjaan, melainkan menjadi secercah harapan di tengah ketatnya persaingan pasar kerja domestik yang kian kompetitif.
Kepala PPKD Jakarta Timur, Teguh Hendarwan, menjelaskan bahwa antusiasme masyarakat untuk mengadu nasib ke luar negeri sangat luar biasa.
Pada hari pelaksanaan, suasana kantor PPKD tampak dipadati oleh peserta yang siap bertarung melalui berbagai tahapan ujian secara ketat.
"Sebanyak 120 orang mengikuti seleksi sebagai pekerja migran dengan mengikuti tes tulis, psikotes, dan interview hari ini. Kami sudah mulai rekrutmen sejak pekan lalu dan totalnya sudah ada 720 peserta yang mengikuti seleksi," ungkap Teguh di sela-sela peninjauan jalannya seleksi, Kamis (4/6/2026).
Kuota Terbatas Ditengah Ribuan Pelamar
Teguh tidak menampik bahwa persaingan untuk bisa terbang ke Jepang terbilang sangat sengit.
Pihak PPKD Jakarta Timur membidik target sekitar 1.500 calon pekerja migran yang akan terjaring masuk ke dalam ketel seleksi pada pekan ini saja.
Ironisnya, dari ribuan peminat tersebut, hanya puluhan orang terbaik yang nantinya akan dinyatakan lolos dan diberangkatkan ke Jepang.
Hal ini dikarenakan kuota yang disediakan oleh P3MI memang terbatas, yakni sebanyak 3.000 orang saja untuk dialokasikan ke seluruh wilayah Indonesia.
Jumlah tersebut disesuaikan secara presisi dengan regulasi dan permintaan langsung dari pihak Pemerintah Jepang.
"Khusus yang diberangkatkan oleh PPKD Jakarta Timur, selama tiga tahun terakhir ini baru mencapai 35 orang. Untuk kali ini, kami menargetkan sebanyak 40 orang yang bekerja di bidang scaffolding, otomotif, serta pramudi," urai Teguh.
Bagi peserta yang beruntung dan dinyatakan lulus seleksi administrasi serta psikotes, mereka tidak langsung diterbangkan begitu saja.
PPKD Jaktim akan membekali mereka dengan masa karantina pelatihan bahasa Jepang intensif selama 45 hari hingga 3 bulan guna mengejar standar kelulusan sertifikasi N4.
Tak hanya bahasa, pelatihan skill mengemudi yang mumpuni juga diberikan secara khusus bagi pelamar pramudi sebelum menandatangani kontrak kerja berdurasi 2 hingga 3 tahun.
Baca juga: Ada 7 Ribu Lowongan Kerja ke Luar Negeri di Job Fair yang Digelar Pemkab Tangerang di Gading Serpong
Kisah Khoeron: Berjuang Demi Masa Depan Anak dan Istri
Di balik deretan bangku ujian, terselip kisah-kisah penuh emosi dari para pejuang nafkah yang rela meninggalkan tanah air demi kehidupan yang lebih layak.
Salah satunya adalah Khoeron Darojat (30), seorang ayah satu anak yang mantap membulatkan tekad mengikuti seleksi kedua sebagai calon pramudi di Jepang.
Khoeron bercerita bahwa ia pertama kali mengendus informasi peluang emas ini melalui akun media sosial resmi milik PPKD Jakarta Timur.
Godaan penghasilan yang jauh di atas rata-rata menjadi pemantik utama yang membakar semangatnya untuk merantau jauh ke negeri orang.
"Ingin mengubah nasib sehingga harus ke luar negeri dan pilihannya adalah Jepang. Kebetulan istri saya juga sudah merestuinya," tutur Khoeron dengan mata berbinar penuh harap.
Sebelum memutuskan mendaftar, Khoeron merupakan seorang pekerja di perusahaan jasa layanan antar-jemput barang milik swasta.
Namun, impian untuk memberikan jaminan masa depan yang mapan bagi buah hatinya membuat pria berusia kepala tiga ini berani keluar dari zona nyaman.
Ia mengaku, realitas beban hidup di Indonesia dengan upah minimum regional (UMR) membuatnya kesulitan untuk menyisihkan tabungan masa depan.
"Saya berharap bisa bekerja di Jepang demi menghidupi keluarga dan masa depan anak. Kalau kerja di Indonesia penghasilan UMR dan sulit buat nabung," keluhnya jujur.
Jika ia berhasil lolos, pendapatan fantastis di kisaran Rp20 juta per bulan jika dirupiahkan sudah siap menanti untuk dibawa pulang ke tanah air.
Melalui program rekrutmen terintegrasi ini, PPKD Jakarta Timur berharap dapat terus menjadi jembatan yang aman, legal, dan tepercaya bagi para pekerja lokal untuk meraih karier gemilang di kancah internasional, sekaligus memotong mata rantai penyaluran pekerja migran ilegal yang berisiko di kemudian hari.