Tangis Balita di Bantul Yogyakarta Diikat Ibu, Ditinggal di Kontrakan, Lelah Asuh Anak Sendirian
ninda iswara June 04, 2026 01:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Seorang balita berusia tiga tahun ditemukan dalam kondisi tangan dan kaki terikat.

Tak hanya tangan dan kakinya yang diikat, mulut balita berinisial ACB (3) ini juga dilakban.

Tangisannya membuat tetangga tergerak untuk menghampirinya di sebuah kontrakan di Padukuhan Kedaton RT 07, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tetangga bernama Abdul Baqir Zein awalnya mendengar tangisan lirih dari kontrakan di sebagalh rumahnya pada Senin (1/6/2026) pukul 20.00 WIB.

"Saksi 1 sedang bakar sate di depan kontrakan mendengar suara tangisan anak kecil dari kamar kontrakan yang ditempati oleh korban sekitar pukul 20.00 WIB," ujar Kasi Humas Polres Bantul Iptu Rita Hidayanto.

Baca juga: Dugaan Malapraktik Tewaskan Anak 3 Th, RSUD Prambanan Yogyakarta Klarifikasi, Bupati Sleman: Maaf

ACB ternyata diikat oleh ibu kandungnya sendiri yang berinisial TKS (25).

Sebelum saksi menemukan ACB menangis, ia sempat melihat TKS keluar-masuk kontrakannya sekitar pukul 18.00 WIB.

Saksi yang mendengar tangisan korban pun langsung menghubungi pemilik kontrakan, Muhamad Astrianto Sofi W.

Dikarenakan pintu terkunci dari dalam, saksi membuka jendela menggunakan linggis.

Saat ditemukan, ACB sudah dalam kondisi lemas.

Kaki dan tangannya diikat menggunakan lakban bening.

Begitu juga dengan mulutnya yang juga dilakban.

"Kedua tangan diikat menggunakan lakban bening dan kedua kaki diikat menggunakan lakban bening dan selendang warna merah maroon," kata Rita.

Alasan Ikat Anak

Hasil pemeriksaan kepolisian mengungkap bahwa ibu kandung korban nekat melakban anaknya karena ingin keluar sejenak untuk mencari hiburan dan melepas kelelahan yang selama ini dirasakan.

Beban mengasuh anak seorang diri disebut menjadi pemicu utama tindakan tersebut.

Kondisi itu terjadi karena sang suami bekerja di Jakarta dan hanya pulang ke Yogyakarta sekitar satu kali dalam sebulan.

"Tindakan melakban tersebut tidak dipikirkan oleh pelaku risiko apa yang terjadi pada anak karena sudah terlalu capek mengurus anak sendiri. Sedangkan ayah korban/suami pelaku kerja di Jakarta pulang ke Yogyakarta setiap sebulan sekali," kata Rita.

BOCAH DIIKAT IBU - Polisi membawa TKS (jilbab coklat) ibu yang mengikat anaknya di sebuah rumah kontrakan di Pleret, Bantul, Yogyakarta Rabu (3/6/2026) (Kompas.com/Markus Yuwono)

Diselesaikan Kekeluargaan

Meski peristiwa ini sempat menjadi perhatian publik, ayah kandung korban, RF, memilih untuk memaafkan istrinya.

Ia juga berkomitmen memperbaiki hubungan keluarga agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

Menurut pihak keluarga, tindakan tersebut dipandang sebagai dampak dari tekanan psikis akibat kelelahan mengurus anak sendirian serta pengalaman pertama menjadi seorang ibu.

"Ayah kandung korban untuk saat ini memaafkan pelaku dan sanggup untuk memperbaiki rumah tangga sehingga kejadian tersebut tidak terulang lagi," kata Rita.

Saat ini, korban diketahui berada dalam perawatan keluarga dari pihak ayah kandungnya di wilayah Patuk.

Sementara itu, RF turut menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kegaduhan yang muncul akibat persoalan yang menimpa keluarganya.

RF menegaskan ingin menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan.

Ia akan berdiskusi langsung dengan sang istri mengenai pengasuhan anak.

Meski sang anak telah disiksa, RF tidak ingin melaporkan istrinya.

Ia memilih untuk menyelesaikan secara kekeluargaan demi menempuh jalan damai.

"Suami selaku kepala rumah tangga/wali dari Korban meminta agar kejadian tersebut diselesaikan secara kekeluargaan," ujar Rita.

(TribunTrends/Ninda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.