Kisah Naro: Sempat Terlantar di Hutan Sumatera, Kini Enyam Pendidikan di Sekolah Rakyat Trenggalek
Rendy Nicko June 04, 2026 01:47 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Kisahnya seperti dalam novel, Naro (11) asal Pulau Sumatera menjadi salah satu siswa Sekolah Rakyat Trenggalek (SRT) yang penuh lika-liku.

Selama 4 bulan hidup di tempat penampungan Kayu Akasia di Pulau Sumatera. Menurut dari penuturan wali asuh Komarudin (50) ia kabur dari rumah dan hidup survive bersama pekerja.

Salah satu pekerja, Tri ingin mengambil anak asuh dengan izin sang mandor. Setelah ada persetujuan akhirnya diperbolehkan untuk diasuh dibawa ke Jawa.

"Di sana itu ikut 4 bulan, anak ini kok tidak pulang-pulang. Akhirnya kami anak itu dibawa ke Jawa, minta sama mandornya," ujar Komarudin kepada TRIBUNMATARAMAN.COM, Selasa (2/6/2026).

Naro hanya dibekali selembar foto sang kakak. Namun, setibanya di Jawa, Naro ikut bersama empat orang pekerja.

"Jadi dia ikut siapa saja yang membuatnya merasa nyaman. Ternyata, dari keempat pekerja itu, tidak ada satu pun yang membuat Naro nyaman. Akhirnya lari dari rumah," bebernya.

Di tengah pelarian kepada wali asuh sebelumnya, Naro secara kebetulan bertemu dengan anak Komarudin. Naro kemudian diajak bermain ke rumah Komarudin dan langsung merasa kerasan.

Melihat anak tersebut tidak mau pulang, Komarudin sempat membujuknya untuk kembali ke tempat asalnya.

Namun, Naro dengan tegas menolak dan memilih untuk tetap tinggal bersama Komarudin.

"Kami tanyakan. Kok kamu tidak pulang? Dia jawab. Tidak, saya ikut di sini saja, ikut Bapak. Saya tanya lagi, benar mau ikut Bapak? Saya suruh pulang, besoknya dia main ke sini lagi," kenangnya sembari berkaca-kaca.

Melihat Naro yang begitu nyaman, Komarudin kemudian memasukkannya ke sekolah mengaji.

Akan tetapi, baru berjalan sekitar dua minggu, aktivitas tersebut terputus. Naro sempat diambil kembali dan dibawa ke wilayah Kecamatan Dongko selama dua minggu oleh pihak yang membawanya pertama kali, yakni Tri.

"Setelah dua minggu di sana, anak ini lari lagi. Larinya langsung main ke rumah saya lagi karena dia merasa nyaman di sini," jelasnya.

Demi kepastian nasib sang anak, Komarudin berinisiatif memanggil perangkat desa setempat.

Langkah ini diambil untuk melakukan mediasi antara Komarudin dan pihak Tri terkait hak asuh Naro.

Hal ini didasari atas keinginan kuat dari Naro sendiri yang merasa tidak nyaman jika harus tinggal bersama Tri.

Di rumah sederhana inilah, Naro mendapatkan kenyamanan. Komarudin bersama sang istri Luvita Nisa, di Dusun Bendil RT 18 RW 08 Desa Wonocoyo Kecamatan Pogalan memulai hidup baru.

Komar mengisahkan ketangguhan Naro. Hujan-hujanan pada malam hari bersamaan suara gemuruh petir.

Anak kecil itu berlarian hujan-hujanan. Berlarian tanpa mengenal lelah.

Istrinya mendengar suara gerak-gerik pada malam hari karena saat itu ia tengah membuat mie di dapur.

"Seperti ada anak kecil di luar. Sepertinya Naro," ujar Luvita kepada suaminya.

Komar melanjutkan, Naro capek akhirnya tertidur di atas tumpukan semen hanya dengan beralaskan sarung.

Kala subuh tiba. Ibu dari Komarudin ingin Salat Subuh dan membuka pintu rumah samping. Terdengar oleh Naro membuatnya terbangun dan langsung pindah ke sawah untuk melanjutkan tidur.

Hingga mentari mulai terik. Ia mendapatkan laporan dari warga bahwa masih tertidur di lokasi yang sama.

Naro (11) asal Pulau Sumatera yang ditemukan oleh pekerja
INVISIBLE PEOPLE - Naro (11) asal Pulau Sumatera yang ditemukan oleh pekerja. Lantas dibawa ke Pulau Jawa, hingga akhirnya diasuh oleh Komarudin warga asal Pogalan, Trenggalek dan bersekolah di Sekolah Rakyat. 

Setelah terbangun, ia berlarian seperti halnya anak kecil. Komar pun membuntuti. Memeluk erat dan mengajaknya pulang untuk mandi dan berganti pakaian.

"Sudah ayo pulang mandi, makan. Bajunya langsung saya buang," kenangnya. 

Sebelum masuk ke Sekolah Rakyat, Tri sebenarnya sempat mendaftarkan Naro ke Dinas Sosial.

Di sisi lain, Komarudin dan istrinya juga berupaya memberikan pendidikan formal dengan menyekolahkan Naro di SDN Wonocoyo selama dua minggu.

Begitu fasilitas Sekolah Rakyat resmi dibuka, Komarudin langsung memboyong Naro untuk mengenyam pendidikan di sana.

Pada awal masuk ke Sekolah Rakyat, Komarudin tidak menampik jika anak asuhnya itu sempat merasa canggung. Namun, setelah diberikan pengertian, Naro akhirnya bersemangat dan aktif.

"Saya bilang ke dia, di sana temannya lebih banyak. Tempat tidur dan makan pun lebih enak daripada di rumah, fasilitas bermainnya lengkap. Akhirnya dia mau ikut dan sangat senang sekali di sana," tuturnya.

Meski tinggal di asrama Sekolah Rakyat, Komarudin tetap rutin menjenguk Naro setiap satu minggu sekali pada hari Minggu, atau menjemputnya saat hari libur tiba.

Setelah beberapa bulan belajar di Sekolah Rakyat, Komarudin mengaku bersyukur melihat perkembangan positif yang ditunjukkan Naro.

Perubahan tersebut terlihat mulai dari kemampuan akademis hingga perilaku sehari-hari.

"Alhamdulillah, banyak sekali perkembangannya ke arah yang lebih baik. Mulai dari belajar membaca hingga perilakunya. Walaupun kadang ya tetap ada usilnya namanya juga anak-anak," ujarnya sembari tersenyum.

Bagi Komarudin, keberadaan Sekolah Rakyat sangat membantu masyarakat, khususnya bagi anak-anak yang kurang beruntung. 

"Sekolah rakyat itu sangat bagus dan sangat membantu sekali bagi kami," ucapnya.

Dikatakannya, orang tua sangat terbantu karena seluruh fasilitas, mulai dari seragam, buku sekolah, makan.

Lalu, untuk kebutuhan mandi, hingga cuci pakaian telah ditanggung sepenuhnya secara gratis bagi siswa tanpa terkecuali.

"Termasuk pendidikan karakter pendampingan psikolognya sudah dibantu SR. Program ini sangat bagus dan tidak bisa didapatkan di sekolah negeri maupun sekolah lainnya. Hanya ada di Sekolah Rakyat," tegasnya.

Ia pun menaruh harapan besar agar Sekolah Rakyat semakin maju ke depannya. Sehingga mampu merangkul lebih banyak anak putus sekolah agar bisa kembali memgenyam bangku pendidikan.

"Semoga sekolah rakyat semakin maju. Semakin banyak yang anak-anak putus sekolah itu yang masuk lagi ke sekolah," tutupnya. 

Sementara, Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Pogalan, Ali Ludin, membenarkan adanya proses asesmen terhadap Naro sebelum resmi masuk ke Sekolah Rakyat.

Ali menceritakan, awal mulanya ia menerima laporan dari Dinas Sosial mengenai keberadaan seorang anak bernama Naro di Desa Wonocoyo yang memerlukan asesmen kelayakan untuk masuk Sekolah Rakyat.

"Setelah itu saya langsung asesmen ke lapangan. Alhamdulillah, Pak Komar selaku walinya dan Naro sendiri memang berminat untuk masuk Sekolah Rakyat. Setelah itu, saya bantu proses pendaftarannya," terang Ali Ludin.

Pria asal Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan ini mengaku dalam prosesnya, sempat menemui kendala pada bagian administrasi kependudukan.

Berdasarkan pengecekan data Adminduk, data kartu keluarga (KK) Naro ternyata masih tercatat di wilayah Sumatra.

"Karena data yang ada pada Naro cuma KK itu, akhirnya saya konsultasikan dengan Dinas Sosial. Alhamdulillah, pihak dinas memberikan kemudahan, sehingga Naro tetap bisa masuk sekolah meskipun administrasinya masih terdata di Sumatera," urai Ali.

Ali pun memberikan apresiasi tinggi terhadap fleksibilitas kebijakan ini demi menyelamatkan masa depan anak. 

Dirinya berharap anak-anak yang menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat bisa betah dan meraih cita-citanya.

"Alhamdulillah, dengan adanya Sekolah Rakyat ini, banyak sekali warga yang terbantu untuk urusan pendidikan. Di sana semuanya gratis dan fasilitasnya sangat lengkap," tandasnya.

Terpisah, beberapa bulan yang lalu Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul bertolak ke Trenggalek.

Beliau mengapresiasi tinggi terhadap komitmen Pemerintah Kabupaten Trenggalek dalam merealisasikan program Sekolah Rakyat. 

Gus Ipul menilai progres pembangunan Sekolah Rakyat di Trenggalek menunjukkan hasil memuaskan.

Hal itu direpresentasikan Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin. Pasalnya sudah memperlihatkan minat dan semangat yang besar sejak awal koordinasi di Jakarta.

"Progres Sekolah Rakyat saya kira bagus sekali. Sejak awal, Pak Bupati datang ke Jakarta dengan penuh semangat dan mengikuti seluruh proses yang ada," ujar Gus Ipul di Pendopo Manggala Praja Nugraha Trenggalek, Minggu (29/3/2026).

Dikatakannya, proses pengajuan pembangunan tersebut bukanlah perkara mudah.

Masing-masing daerah diwajibkan serius dalam menyiapkan lahan. Pun juga memastikan smeja persyaratan administratif bisa benar-benar clear and clean.

Sehingga Kabupaten Trenggalek bisa melalui tersebut dari tahap ke tahap berikutnya. Sebinhha menjadi salah satu dari 104 titik pembangunan tahap pertama.

"Trenggalek sudah menjadi bagian dari 104 titik yang dibangun pada tahap pertama. Ada siteplan nanti menampung 1.000 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA yang dikhususkan bagi warga Kabupaten Trenggalek," ujarnya.

Sementara, Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengatakan di SRT ini akan menjamin hak pendidikan anak-anak kurang beruntung.

Kendati saat ini masih menggunakan ruang kelas sementara, proses belajar mengajar dan fasilitas asrama sudah mulai beroperasi penuh sembari menunggu pembangunan gedung permanen.

"Tentu saya bersyukur Sekolah Rakyat ini bisa dilaksanakan. Di sini nanti ada asrama langsung karena sistemnya boarding school. Saya berterima kasih dan sembari juga kita menunggu progres untuk pembangunan sekolah permanen," ujar Mochamad Nur Arifin.

Untuk mendukung aktivitas pembelajaran dan pemulihan karakter anak, Pemerintah Kabupaten Trenggalek melibatkan kolaborasi lintas sektor dalam penyediaan tenaga pendidik dan tenaga ahli.

Bupati yang akrab disapa Mas Ipin ini menjelaskan bahwa tenaga pengajar didatangkan melalui penugasan dari Dinas Pendidikan. 

Selain itu, terdapat tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dari Kementerian Sosial (Kemensos), serta psikolog yang disiapkan oleh sentra terapi.

Mas Ipin menegaskan dirinya berkomitmen untuk menjadikan Sekolah Rakyat ini sebagai sekolah inklusi yang ramah bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

"Saya juga berpesan, sekolah ini harus bisa menjadi sekolah inklusi. Kami akan membuka ruang untuk tenaga pendidik yang memiliki kompetensi inklusi. Harapannya, teman-teman difabel nantinya juga bisa bersekolah di sini," tuturnya.

Mas Ipin, sapaan akrabnya ini mengaku seiring pemerintah daerah telah mengantisipasi potensi munculnya rasa rindu rumah (homesick) pada anak-anak yang tinggal di asrama.

Ia mengakui kenyamanan anak-anak akan dikawal langsung oleh wali asuh dan wali asrama yang memiliki latar belakang sebagai pekerja sosial profesional.

Proses perekrutan siswa masuk ke asrama ini juga telah melalui tahap dialog yang matang bersama orang tua wali murid.

"Anak-anak dibuat nyaman agar tidak homesick. Ada wali asuh dan wali asrama yang semuanya berlatar belakang pekerja sosial yang memang sudah berikatan dengan wali murid," jelasnya.

Dikatakannya, masuknya anak-anak ke sini juga sudah dalam proses dialog. Mulai ditanya maunya seperti apa dan seterusnya.

Bupati yang hobi sepak bola ini menilai antusiasme anak-anak ini sangat tinggi. 

Itu terbukti kala dirinya mencoba memancing respons para siswa untuk maju ke depan. Seluruh anak menyambutnya dengan berebutan maju dan tampak sangat gembira.

Pemerintah Kabupaten Trenggalek akan terus memantau dan mengevaluasi perkembangan anak-anak di Sekolah Rakyat secara berkala. 

Bupati muda yang hobi sepakbola ini berharap program ini dapat mewujudkan cita-cita besar dalam menyejahterakan masyarakat kecil.

"Bismillah, kita lihat perkembangannya dan akan kita evaluasi. Yang penting, apa yang menjadi cita-cita Presiden Prabowo agar wong cilik (rakyat kecil) bisa gumuyu (tertawa/bahagia) nanti bisa benar-benar terlaksana," pungkasnya.

Terpisah, pegiat pendidikan sekaligus dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang asal Trenggalek, Misbahus Surur, menerangkan bahwa Sekolah Rakyat barangkali perlu juga mengadakan seleksi peserta didik.

Surur mengaku alasan kuat merekomendasikan ada seleksi, pasalnya di lapangan, karena sulitnya mencari calon siswa, tidak sedikit mereka yang bertugas untuk mencari calon siswa, melakukan kerja asal comot dan asal dapat. 

Padahal banyak juga calon siswa itu yang tidak memiliki niat melanjutkan sekolah. 

"Jangan sampai SR isinya adalah kumpulan anak nakal yang tidak memiliki niat dan semangat disekolahkan, sehingga cenderung memanfaatkan momen untuk bermalas-malasan karena merasa semua telah difasilitasi pemerintah." 

Surur khawatir kalau-kalau SR menjadi wadah kumpul bagi siswa-siswa dengan latar belakang mirip, yang masing-masing membawa masalah psikologis dari rumahnya.

Situasi tersebut, bisa semakin membuat sekolah yang digadang-gadang sebagai alternatif anak-anak yang kurang mampu, malah menciptakan keos tersendiri di sekolahan.

"Jadi misalnya cerita Naro di atas tadi, menjadi kisah inspiratif yang langka sebetulnya. Alangkah bagusnya kalau yang sekolah di SR itu profilenya sebagian besar seperti kisah Naro itu," selorohnya.

Pria asli Kecamatan Munjungan, Trenggalek, ini menegaskan ada seleksi tersebut supaya SR bisa menjadi wadah bagi siswa yang benar-benar kurang mampu dan memiliki niat mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Mereka inilah anak-anak yang benar-benar membutuhkan pendidikan. 

"Program itu sangat-sangat bermanfaat dan akan segera dirasakan dampaknya bila dapat menyasar anak-anak seperti Naro itu," tutupnya.

Pengamatan penulis saat Naro pertama kali masuk di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 50 Trenggalek, tepat di Kompleks Balai Latihan Kerja (BLK) Trenggalek, Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek.

Tidak ada raut muka yang sedih dari Naro. Pun juga tidak nampak gundah seperti siswa-siswi lainnya.

Bertepatan ia mendapatkan kamar tidur tingkat 2 alias di atas. Dirinya senang dan menunjukkan gembira.

Kisah Naro tersebut adalah satu dari sekian ribu anak yang sangat terbantu. Masa depan cerah untuk meraih mimpi dan menggapai cita.

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.