TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ratusan siswa-siswi SMA BOPKRI 1 (BOSA) Yogyakarta tampak bersemangat mengikuti dialog tentang pemahaman Pancasila yang dikemas melalui Sarasehan Pancasila, Kamis (4/6/2026), di hall basket SMA BOSA.
Kegiatan yang digagas Perhimpunan Warga Pancasila (PWP) dan PiJAR berkolaborasi dengan Yayasan BOPKRI Yogyakarta bertujuan menanamkan pemahaman pancasila pada momentum perayaan Hari Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni.
Beberapa narasumber yang hadir antara lain Dr Bambang Kesowo, seorang Birokrat dan Mantan Menteri Sekretariat Negara Era Presiden Megawati Soekarno Putri.
Mahasiswi sekaligus pemerhati media sosial, Holly Aulia, dan terakhir mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
Di hadapan para pelajar, Ganjar Pranowo menganalogikan bahwa negara harus memiliki pondasi yang kuat layaknya sebuah bangunan.
Menurutnya Pancasila menjadi pondasi bagi bangsa Indonesia yang harus dijaga serta dirawat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Dasar yang kuat negara (kita) itu namanya Pancasila. Seperti bangunan,, kalau fondasi gak kuat maka bangunan roboh,” katanya.
Dialog interaktif pun terbangun antara narasumber dengan para pelajar yang hadir dalam acara tersebut.
Ganjar Pranowo juga merespons pertanyaan dari pelajar mengenai beberapa isu yang menurut mereka sudah melenceng dari nilai-nilai Pancasila.
Beberapa isu yang mengemuka di antaranya melemahnya nilai tukar rupiah yang berdampak pada sulitnya pemenuhan ekonomi bagi masyarakat.
Hal lainnya tentang penegakan hukum yang dilakukan berdasarkan kepentingan politik, serta isu deforestasi yang dinilai sangat mengkhawatirkan.
“Apa yang disampaikan Dayu (salah satu pelajar) ada yang menarik. Anak-anak muda ternyata menyikapi isu lingkungan, sudah masuk climate change, dan sudah masuk isu pekerjaan,” ungkapnya.
Menurut Ganjar, tidak ada yang salah jika seorang pelajar mulai membicarakan isu-isu tersebut.
Sebab menurutnya kemenangan sebuah negara bukan lagi ditentukan oleh para tentara, bukan lagi dengan modal uang yang besar.
“Tidak modal tentara, tidak modal uang, tetapi modal otak, modal knowledge (pengetahuan). Ketika kita sepakat dengan pancasila saat itulah kita semua akan menjaga Indonesia dan akan memajukan,” ungkapnya.
Baca juga: Rencana Malioboro Bebas Asap Kendaraan Bermotor, Ini Langkah Pemda DIY dan Pemkot Yogyakarta
Perkembangan dunia digital saat ini mengubah perilaku dan cara pandang manusia.
“Dengan adanya tantangan cyber bullying dan hoax, di sinilah sistem operasi Pancasila bekerja. Dari sisi siber ternyata banyak orang merasa bebas berbuat jahat di internet,” ujar Holly Aulia.
Menurutnya banyak ditemukan pengguna media soaial yang memiliki second account atau akun kedua yang digunakan untuk ujaran kebencian.
“Makanya kita harus sadari kalau nilai keagaman enggak luntur. Kita sebarkan toleransi sesuai sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab. Kita lupa kalau akun yang kita serang itu ternyata manusia,” ungkapnya.
Sementara Dr Bambang Kesowo dalam paparannya memperlihatkan contoh-contoh tindakan yang bertentangan dengan Pancasila.
“Bisa dilihat bahwa perbuatan semacam ini, bisa dilakukan mulai dari kepala desa hingga bupati, gubernur sampai ke atasnya itu ada,” terang dia.
Karenanya, Bambang mengingatkan permasalahan ini menjadi pekerjaan berat bagi generasi penerus. (*)