Rupiah Jatuh ke Rekor Terendah, Media Internasional Pertanyakan Arah Kebijakan Ekonomi RI
Whiesa Daniswara June 04, 2026 03:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Pelemahan rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam sejarah memicu sorotan luas media internasional.

Media berbasis Qatar itu mengutip Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, yang menyebut level Rp18.000 sebagai "ambang batas psikologis" bagi investor.

Menurut Josua, pelemahan rupiah dipicu meningkatnya permintaan dolar AS akibat kenaikan harga minyak serta menyusutnya surplus perdagangan Indonesia.

"Pasokan dolar dari perdagangan barang semakin berkurang, sementara kebutuhan dolar untuk impor energi, bahan baku, dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan musiman tetap signifikan," kata Josua kepada AFP seperti dikutip dari Al Jazeera.

Ia menilai kenaikan suku bunga dan intervensi Bank Indonesia belum cukup untuk membalikkan tren depresiasi rupiah.

CNA menyebut kekhawatiran pasar meningkat karena Indonesia merupakan pengimpor minyak bersih yang sangat rentan terhadap lonjakan harga energi global.

Baca juga: Bank Indonesia Ungkap Dalang Anjloknya Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Media Singapura itu juga menyoroti langkah Bank Indonesia yang telah menaikkan suku bunga menjadi 5,25 persen dan memperketat aturan pembelian dolar AS guna menjaga stabilitas pasar.

Sorotan lebih tajam datang dari The Straits Times melalui laporan "Rupiah Near Key Psychological Level That Has Markets on Guard for Intervention".

Media tersebut menilai penembusan level Rp18.000 menjadi ujian penting bagi pemerintah dan Bank Indonesia dalam memulihkan kepercayaan investor.

The Straits Times melaporkan rupiah merupakan mata uang dengan performa terburuk di Asia pada 2026 dan memperingatkan bahwa pelemahan lebih lanjut dapat mempercepat arus keluar modal asing dari pasar saham maupun obligasi Indonesia.

Ahli strategi BNP Paribas, Parisha Saimbi, mengatakan level tersebut akan menjadi perhatian utama pasar.

"18.000 kemungkinan merupakan level psikologis yang akan dipantau secara cermat oleh pelaku pasar," ujarnya seperti dikutip dari The Straits Times.

Media itu juga menyoroti memburuknya sentimen terhadap aset Indonesia setelah muncul kekhawatiran mengenai prospek peringkat utang negara, meningkatnya biaya subsidi energi, serta kebijakan pemerintah terkait pengelolaan ekspor komoditas.

Baca juga: Ketua Banggar DPR: Rupiah Sudah Undervalue, Seharusnya Tak Melebihi Rp 17.600 per Dolar AS

Di Eropa, RTL Today mengangkat laporan "Indonesian Rupiah Falls to Record Low Against US Dollar" dengan fokus pada kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.

RTL Today melaporkan pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan pengesahan revisi undang-undang yang memperluas pengawasan parlemen terhadap Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, mengatakan perubahan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai independensi lembaga keuangan negara.

"Di tengah tekanan geopolitik global, pasar membutuhkan kepastian bahwa kebijakan moneter, pengawasan keuangan, dan stabilisasi pasar tetap independen dan bebas dari intervensi politik," kata Kepala Ekonom Central Bank Asia, David Sumual, kepada AFP seperti dikutip dari RTL Today.

David memperingatkan bahwa persepsi melemahnya independensi institusi ekonomi dapat meningkatkan premi risiko dan menambah tekanan terhadap pasar keuangan.

Baca juga: Rupiah Ambruk Rp18.000 per Dolar AS, Pelaku Industri Makin Pusing: Ogah Investasi dan Rekrutmen

RTL Today juga mengutip ekonom Universitas Indonesia, Teuku Riefky, yang menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi perang di Timur Tengah, tetapi juga kekhawatiran investor terhadap sejumlah program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar.

"Jika ini berlanjut, dampaknya akan berupa inflasi berkelanjutan karena meningkatnya biaya produksi dan bahan baku," ujarnya.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.