TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG – Jodoh memang tidak ada yang tahu dan bisa datang dari belahan dunia mana saja.
Hal inilah yang dialami oleh Yuni Maryana, seorang gadis asal Kayuagung yang besok pagi akan melangsungkan pernikahan dengan pria asal Afyon, Turki bernama Abdullah Ozdemir.
Kisah cinta beda benua ini bermula dari dunia maya sejak 3 tahun lalu. Kepada Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post, Yuni membagikan kisah perjalanan hingga akhirnya Abdullah rela terbang jauh-jauh menemui dirinya di Indonesia.
Diceritakan Yuni awal perkenalan mereka terjadi melalui Direct Message (DM) di Instagram. Menariknya, Yuni mengaku awalnya sama sekali tidak merespons pesan dari bule asal Turki.
"Awalnya sih kurang digubris ya, karena kurang percaya. Tapi lama-lama karena dia nanyanya baik-baik, jadi lama-lama iba juga," kata Yuni ditemui di kediamannya di RT 02, lingkungan 02, Kelurahan Jua-jua, Kamis (4/6/2026) malam.
Kendala bahasa pun sempat menjadi tantangan. Yuni yang saat itu berkomunikasi bahasa Inggris mengaku harus mengandalkan bantuan aplikasi penerjemah.
Hubungan keduanya tak berjalan instan. Yuni menuturkan, 6 bulan berkomunikasi di Instagram, barulah mereka bertukar nomor WhatsApp. Bahkan, butuh waktu 6 bulan lagi di WhatsApp sebelum akhirnya berani melakukan video call (VC) untuk pertama kalinya.
Sejak awal berniat serius, Abdullah selalu menunjukkan itikad baiknya. Yuni menyebutkan setiap kali mereka berkomunikasi via telepon atau video call, pihak keluarga Yuni selalu dilibatkan dan diperlihatkan.
"Karena dia terlihat baik, serius, keluarganya juga dikenalkan sama aku. Dan setiap VC itu keluarga aku selalu diliatin," tutur Yuni.
Keseriusan itu dibuktikan Abdullah dengan melamar Yuni sejak enam bulan yang lalu sebelum akhirnya memutuskan terbang ke Indonesia.
Layaknya pasangan yang akan melangkah ke jenjang pernikahan, Yuni dan Abdullah juga tak luput dari ujian. Menjelang hari bahagia, mereka sering terjadi pertengkaran akibat perbedaan pendapat.
"Tantangannya banyak. Kalau nak diceritakan, kami sering blok-blokan WA, sering berantem biasalah, tidak sependapat. Apalagi semenjak mau nikah ini banyak nian masalahnya," curhat Yuni. Namun keteguhan hati Abdullah berhasil meluluhkan semua rintangan tersebut.
Perjuangan Abdullah untuk sampai ke Kayuagung pun tidaklah mudah. Ia berangkat dari Turki pada tanggal 31 dan baru tiba di Indonesia pada tanggal 2 Juni 2026 lalu. Perjalanannya memakan waktu cukup lama karena adanya kendala penerbangan.
Diuraikan, tiket penerbangan Abdullah yang seharusnya transit di Dubai terpaksa dibatalkan karena adanya konflik di Timur Tengah.
"Bandara Dubai ditutup, sempat di-cancel pesawat dia. Jadi langsung dari Turki ke Kuala Lumpur (Malaysia) dan dari Malaysia baru langsung ke Palembang," urai Yuni.
Sayangnya, di momen bahagia keluarga besar Abdullah dari Turki berhalangan hadir secara langsung di Kayuagung. Yuni menjelaskan ada beberapa kendala yang membuat mertuanya tak bisa terbang ke Indonesia.
"Ada nenek, tapi kakeknya lagi berhalangan (sakit). Terus di sana (Timur Tengah) juga lagi konflik, jadi takutnya kenapa-napa. Suami juga di sini sudah lama, sebulan, jadi gak mungkin meninggalkan orang tuanya lama-lama," bebernya.
Ditemui jelang hari bahagianya, Yuni tak menampik bahwa dirinya masih merasa tidak percaya bisa berjodoh dengan pria dari benua yang berbeda. Bahkan, ia mengaku terkejut dengan antusias warga dan media yang menyoroti pernikahannya.
"Kaget sih, kok banyak media yang datang. Jujur masih tidak percaya. Gak nyangka saja. Ya rasanya feeling, oh jodohnya bukan di sini (Indonesia)," ungkap Yuni sembari tersenyum saat didampingi sang calon suami, Abdullah.
Terkait mahar atau mas kawin, Yuni membocorkan bahwa Abdullah memberikan mahar cukup fantastis sesuai dengan adat setempat.
"Mas kawinnya kalau (sebutan) di sini itu 10 suku (emas), terus uangnya minta sejumlah nominal tanggal lahirku," ujarnya.
Rencananya setelah resmi menikah, Yuni akan langsung diboyong oleh Abdullah untuk menetap di Turki.
"Insya Allah iya di sana, ikut suami," tambahnya. "Abdullah sendiri diketahui bekerja di sebuah pabrik di negara asalnya tersebut," sambungnya.
Sebelum menetap kembali di Kayuagung dan bertemu jodohnya, Yuni menceritakan dulunya adalah seorang guru honorer.
"Kemarin sempat bergawe (bekerja) di Batam sebagai guru honor di SD. Balik ke sini gara-gara Covid kemarin. Pas balik ke sini, kebetulan ikut adik tes CPNS," kisahnya.
Kini, hari-hari Yuni diisi dengan persiapan jelang keberangkatannya ke Turki. Mengingat masa berlaku visa gratis Abdullah di Indonesia hampir habis, keduanya berencana akan terbang meninggalkan Indonesia akhir bulan ini.
"Tanggal 30 (berangkat) lagi ke Turki, ini ngabisin visa gratis di Indonesia," sebutnya.
Saat ditanya perasaannya berada di Indonesia, Abdullah yang duduk di samping Yuni tampak tersipu dan mengaku senang, meski ia sangat mengeluhkan cuaca yang terik.
"Are you happy in here?, Yes," jawab Abdullah singkat.
Namun ketika ditanya soal cuaca, ia langsung merespons cepat,
"Indonesia is hot?, Yes, hot, very hot," ucap pria Turki tersebut yang langsung disambut tawa Yuni.
(*)