Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orangtua menganggap penyakit jantung pada anak hanya terjadi pada anak dengan bawaan sejak lahir.
Padahal kenyataannya, anak yang sebelumnya terlihat sehat pun tetap bisa mengalami infeksi jantung.
Baca juga: Bukan Cuma Paru-paru, TB Bisa Serang Jantung pada Anak, Kenali Gejala Perikarditis
Masalahnya, gejala awal infeksi jantung pada anak sering tidak khas.
Keluhannya kerap menyerupai penyakit biasa seperti demam berkepanjangan, mudah lelah, nafsu makan turun, atau anak terlihat lebih lemas dari biasanya.
Akibatnya, tidak sedikit kasus baru terdeteksi ketika kondisinya sudah lebih berat.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Sarah Rafika Nursyirwan, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengatakan orangtua perlu memahami bahwa faktor risiko infeksi jantung pada anak tidak selalu terlihat jelas sejak awal.
“Iya, anak yang kondisi sebelumnya sehat memang dia benar-benar tidak ada sakit sama sekali atau tidak, karena seringkali gak ketahuan,” ujarnya pada media briefing virtual yang diselenggarakan, Kamis (4/6/2026).
Salah satu tantangan terbesar pada infeksi jantung anak adalah gejalanya yang samar.
Pada banyak kasus, anak awalnya hanya tampak sakit seperti biasa.
Karena gejala tersebut tidak spesifik, orangtua sering menganggap kondisi akan membaik sendiri.
Padahal pada infeksi jantung, keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi.
Menurut Dr. Sarah, beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- demam lama yang tidak membaik,
- anak semakin lemas,
- sesak napas,
- berat badan turun,
- jantung berdebar,
- nyeri dada,
- bibir atau kuku tampak kebiruan,
- pingsan,
- bengkak pada tubuh.
“Gejalanya sifatnya bisa samar ya, demam yang lama cepat lelah, sesak atau bengkak yang awalnya dikira penyakit biasa jadi harus hati-hati,” jelasnya.
Menurut Dr. Sarah, ada sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko infeksi jantung meski anak sebelumnya tampak sehat.
Beberapa di antaranya:
1. Infeksi yang Tidak Diobati Tuntas
Infeksi pada gigi, kulit, maupun tenggorokan yang dibiarkan terlalu lama dapat menjadi sumber penyebaran kuman.
Ketika masuk ke aliran darah, kuman bisa mencapai jantung.
2. Daya Tahan Tubuh Rendah
Anak dengan malnutrisi, penyakit kronis, autoimun, atau kondisi yang menurunkan imunitas lebih rentan mengalami infeksi berat.
3. Penggunaan Alat Medis Jangka Panjang
Pada anak yang menggunakan kateter pembuluh darah besar, hemodialisis, atau alat medis tertentu, risiko infeksi dapat meningkat bila kebersihan tidak terjaga optimal.
4. Penyakit yang Belum Terdeteksi
Kadang anak terlihat sehat, tetapi ternyata memiliki kondisi bawaan atau gangguan kesehatan yang belum diketahui sebelumnya.
“Bisa saja tapi tentunya tidak semua ya, dengan anak-anak dengan kondisi sehat yang ada faktor resiko tertentu, misalnya ada malnutrisi ada kondisi penyakit tertentu daya tahan yang rendah itu akan lebih berisiko dia mengalami infeksi jantung,” katanya.
*Kenapa Infeksi Bisa Sampai ke Jantung?*
Infeksi jantung terjadi ketika kuman berhasil masuk ke aliran darah lalu mencapai jaringan jantung.
Kondisi ini dapat menyerang:
- selaput pembungkus jantung,
- otot jantung,
- lapisan dalam jantung,
- hingga katup jantung.
Jika mengenai katup jantung, kuman dapat membentuk kumpalan yang mengganggu aliran darah.
Pada beberapa kasus, komplikasi dapat berkembang menjadi gagal jantung atau kerusakan permanen.
Karena itu, dokter biasanya membutuhkan pemeriksaan lanjutan seperti:
- pemeriksaan fisik,
- tes darah,
- rekam jantung,
- USG jantung (ekokardiografi),
- pemeriksaan penunjang lain sesuai kondisi anak.
Menurut Dr. Sarah, sebagian besar komplikasi infeksi jantung sebenarnya bisa dicegah.
Beberapa langkah sederhana yang penting dilakukan orangtua antara lain:
- mengobati infeksi sampai tuntas,
- menjaga kebersihan tangan,
- merawat kesehatan gigi dan mulut,
- memenuhi kebutuhan nutrisi anak,
- memastikan imunisasi lengkap,
- tidak menunda pemeriksaan bila gejala berlangsung lama.
Pada anak dengan kondisi medis tertentu, pemantauan rutin juga menjadi bagian penting untuk mencegah infeksi berulang.
Infeksi jantung pada anak memang tidak selalu mudah dikenali.
Namun perubahan kecil yang berlangsung terus-menerus perlu diperhatikan.
Ketika demam berlangsung lama, anak makin lemas, atau muncul gejala yang tidak biasa, pemeriksaan lebih lanjut menjadi penting.
Sebab, pada banyak kasus, masalahnya bukan sekadar flu berkepanjangan atau infeksi biasa.
Melainkan kondisi yang memerlukan penanganan lebih cepat agar jantung anak tetap terlindungi hingga dewasa nanti.