Opini: AI Melayani Kemanusiaan atau Menghancurkannya?
Dion DB Putra June 05, 2026 09:19 AM

Oleh: Marianus Viktor Ukat
Mahasiswa Semester 6 Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di pengujung dekade ketiga abad ke-21, umat manusia berdiri di persimpangan yang belum pernah ada sebelumnya. Tentunya, kecerdasan buatan ( AI) bukan lagi fiksi ilmiah. 

Ia telah menjadi jantung dari peradaban digital yang mengatur di bidang logistik, menentukan diagnosa medis, memengaruhi keputusan hukum bahkan opini publik. 

AI adalah novum dalam sejarah manusia. Karena itu, pertanyaan dari judul di atas bukan sekadar retorika, melainkan pertanyaan eksistensi manusia dalam menentukan arah sejarah.

Paus Leo XIV dalam ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Agung), yang ditandatangani pada 15 Mei 2026 dan kemudian dirilis dan dipublikasikan secara resmi ke publik pada 25 Mei 2026, menempatkan Gereja Katolik sebagai suara moral di tengah kebisingan teknologi. 

Baca juga: Opini: Ensiklik Magnifica Humanitas- Cara Paus Leo Melawan Kebangkitan Menara Babel

Ensiklik ini bukan sekadar hanya dokumen keagamaan, tetapi memberikan pandangan yang begitu luas perihal manifesto humanisme yang menantang narasi dominan tentang AI dari sudut pandang martabat manusia, keadilan sosial, dan tanggung jawab moral kolektif. 

Secara hakikat, ensiklik ini membuka dengan citra yang memukul kesadaran manusia dewasa ini untuk segera menyadari akan eksistensinya di dunia ini. 

Karena itu, seperti uraian Paus Leo XIV, “Umat manusia yang diciptakan oleh Tuhan dalam segala keagungannya, saat ini menghadapi pilihan penting: membangun “Menara Babel” atau membangun kota tempat Tuhan dan umat manusia tinggal bersama” (Ray & Roeloffs, 2026). 

Demikian ungkapan ini menggunakan metafora “Babel” bukan secara kebetulan. Babel bukan pula sekadar kisah tentang kesombongan manusia saat itu. 

Tetapi maksud dari Babel adalah kisah tentang proyek bersama yang kehilangan orientasinya; pembangunan yang pesat tanpa hikmah tentang “mengapa” dan “untuk siapa”.

Inilah tepatnya bahaya AI hari ini dengan perkembangan yang luar biasa cepat bahkan segala kemampuan artificial yang melampaui ekspektasi. 

Namun, pertanyaan mendasar: AI hadir supaya apa? AI untuk siapa? AI demi apa? Inilah yang kerap tertimbun di bawah euforia inovasi dan persaingan geopolitik.

Siapa yang Memegang Kekuatan AI?

Konsentrasi paling tajam dari Magnifica Humanitas adalah kritiknya terhadap kekuatan teknologi. Secara eksplisit, ensiklik ini mencatat bahwa di masa lalu negaralah yang memandu inovasi. 

Namun, hari ini penggerak utama perkembangan AI adalah pihak swasta yang sering bersifat transnasional sekaligus memiliki sumber daya serta kapasitas intervensi yang melampaui banyak pemerintah. Ini bukan sekadar catatan sosiologis. 

Ini adalah peringatan moral bahwa ketika segelintir korporasi teknologi mengontrol infrastruktur data, algoritma, dan model AI yang membentuk realitas jutaan orang, kita berhadapan dengan bentuk kekuasaan yang belum memiliki preseden dalam sejarah. 

Karena itu, demokrasi seyogianya dirancang untuk mendistribusikan kekuasaan tetapi konsentrasi AI bergerak melawan arahnya. 

Di sini, Paus Leo XIV tidak anti teknologi. Ensikliknya dengan jelas menyebut AI sebagai alat berharga yang membutuhkan kewaspadaan. 

AI bukan musuh, melainkan nilai instrumen yang bergantung sepenuhnya pada tangan yang memegangnya dan tujuan yang mengarahnya. 

Namun, kewaspadaan itu mensyaratkan transparansi dan tata kelola yang kuat. Artinya, sesuatu yang belum secara memadai diwujudkan dalam kerangka regulasi global saat ini. 

Untuk itu, ensiklik ini menjadi substansi orientasi moral kehidupan manusia dewasa ini untuk segera sadar akan bahaya yang lebih besar ketika manusia salah menggunakan AI atau kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari.

Martabat Kerja di Tengah Disrupsi Digital

Jika Rerum Novarum dari Paus Leo XIII membela kaum buruh dari eksploitasi kapital industri, ensiklik Magnifica Humanitas dari Paus Leo XIV ini membela tatanan kehidupan dewasa ini dari perpindahan yang diakibatkan oleh otomasi AI. 

Namun, posisi Leo XIV lebih nuansir daripada sekadar pembelaan lugas. Ensiklik ini tidak menyerukan penolakan terhadap otomasi, namun sebaliknya menuntut agar transisi digital diiringi oleh kebijakan ekonomi yang menghormati martabat orang-orang yang paling rentan terhadap disrupsi. 

Ekonomi yang hanya mengejar efisiensi tanpa mempertanyakan distribusi manfaatnya adalah ekonomi yang mengkhianati kemanusiaan. Di sinilah prinsip subsidiaritas dan tujuan universal dari materi menemukan resonansinya. 

AI seharusnya memperluas akses pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi. Bukan untuk memperdalam jurang antara yang terhubung dan yang tertinggal. 

Faktanya hari ini bahwa manfaat AI secara tidak proporsional dinikmati oleh mereka yang sudah memiliki modal, konektivitas, dan literasi digital. 

Di antara sekian banyak aspek dari ensiklik ini, bagian yang paling mengejutkan dan mendesak secara etis adalah seruan tentang sistem senjata otonom. 

Paus Leo XIV, secara eksplisit, menyatakan bahwa AI harus dilucuti dan tidak boleh mendominasi kemanusiaan. Kehadiran AI bukanlah kekuatan yang bertentangan dengan kemanusiaan dan juga bukan secara inheren jahat. 

Paling urgen adalah AI tidak pernah netral, karena AI mengambil karakteristik dari yang membuatnya, membiayainya, mengaturnya, bahkan menggunakannya. 

Oleh karena itu, Paus Leo XIV menyerukan agar setiap orang mampu menggunakan AI saat ini demi membangun kebaikan bersama (bonum commune) dan tetaplah menjadi manusia yang otentik tanpa mengikuti arus pengembangannya. 

Di sisi lain, mentalitas tanggung jawab menjadi basis utama agar AI tidak boleh mengambil seluruh hidup manusia sendiri. 

Untuk itu, pada akhirnya “manusia akan mengenal hatinya sendiri sebagai tempat di mana Tuhan ingin berdiam” (Fatlolon, 2026). 

AI Melayani atau Menghancurkan Manusia?

Manusia adalah makluk ciptaan paling mulia yang seyogianya harus memahami eksistensinya dalam dunia ini. Karena itu, AI hadir sebagai yang melengkapi dan membantu manusia untuk menjalankan pekerjaannya. 

Bukan malah AI hadir menjadikan manusia sebagai alatnya. Dalam pasar kerja, AI sudah mengalami peran paling intrinsik dalam setiap pekerjaan manusia. 

Oleh karena itu, pada prinsipnya eksistensi manusia yang lahir dan hidup ke dalam dunia harus dipertanyakan dengan tujuan seperti apa menjalani hidup ini, mengapa dengan hidup ini, dan bagaimana arah tujuan hidup ini selanjutnya? 

Orang harus kembali mempertanyakan dirinya bahwa kehadiran di dunia ini harus dijalankan untuk apa dan demi apa? Tidak hanya sekadar menjalani hidup ini karena konformitas diri terhadap perkembangan semata. 

Apabila demikian maka yang dijalaninya adalah kekosongan diri terhadap pemaknaan atas kehidupannya. Di sini, hal itu sama seperti ketika orang berlari, kita berlari, atau ketika orang duduk, kita juga ikut duduk. 

Salah satu filsuf yang sangat antusias memberi kritik terhadap cara hidup orang-orang yang ikut-ikutan pada masanya adalah Friedrich Nietzsche. 

Maka, sebagai alternatifnya, ia menawarkan konsep “manusia unggul” dalam artian bahwa individu yang berani membebaskan diri dari belenggu norma sosial massa (Magnus, 2026). 

Mereka yang berani adalah yang mampu menciptakan nilai-nilai moral sendiri secara otonom tanpa ada kontaminasi terhadap norma-norma kelompok. 

Oleh karena itu, bersamaan dengan ensiklik Magnifica Humanitas, Gereja mengajak semua orang untuk memulihkan dan memperkuat kemampuan diri setiap pribadi untuk hidup sepenuhnya sebagai manusia. 

Akan tetapi yang ditolak adalah bentuk reduksi manusia untuk menjadi substart biologis yang perlu diperbaharui, bahkan mengorbankan manusia demi kemajuan. 

Akhirnya, jawaban atas pertanyaan dari judul opini adalah ensiklik ini sendiri. 

Bahwasanya, ensiklik ini memberikan sesuatu yang lebih mendasar pada sebuah orientasi dengan arah tujuan (telos) setiap teknologi harus diukur dari kontibusinya untuk perkembangan integral manusia, keadilan, dan pada persaudaraan universal. 

“Kemanusiaan yang Agung” bukan sekadar slogan, melainkan pernyataan tentang apa yang kita percaya bahwa manusia ini sebagai yang diciptakan menurut gambar Allah (Imago Dei), yang memiliki martabat yang tidak bisa dinegosiasikan dan kita dipanggil untuk membangun dunia yang lebih baik bersama. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.