Kasus Malaria di Belinyu Bangka Tembus 111 Orang, Warga Mulai Cemas
Fitriadi June 05, 2026 09:23 AM

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Lonjakan kasus malaria di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Hasil pemeriksaan terbaru yang dilakukan tim gabungan Dinas Kesehatan dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bangka kembali menemukan empat penambang timah positif malaria di kawasan Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus.

Temuan baru tersebut menambah jumlah penderita malaria di Kabupaten Bangka menjadi 111 orang hingga Rabu (3/6/2026).

Angka itu meningkat dibandingkan pekan-pekan sebelumnya dan menegaskan bahwa penyebaran penyakit yang sempat dieliminasi dari Bangka kini menjadi ancaman serius, khususnya di wilayah pesisir Belinyu.

Tim gabungan kembali turun ke lapangan pada Rabu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap para penambang dan warga yang bermukim di sekitar lokasi tambang.

Baca juga: Warga Takut Keluar Rumah, Wabah Malaria Hantui Pesisir Belinyu

Pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari upaya menemukan kasus secara dini sekaligus memutus rantai penularan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bangka, Anggia Murni, mengatakan sebanyak 29 orang diperiksa di Pantai Batu Atap dan dua di antaranya dinyatakan positif malaria.

Baca juga: Kolong Bekas Tambang Bagian dari Ekosistem Malaria

Sementara di Pantai Bubus, dari 107 orang yang menjalani pemeriksaan, dua orang juga terkonfirmasi terinfeksi.

“Iya, kemarin kami turun lagi ke Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus. Di Batu Atap diperiksa 29 orang dan dua positif malaria, sedangkan di Bubus diperiksa 107 orang dan dua orang positif,” kata Anggia, Kamis (4/6/2026).

Menurut dia, tambahan empat kasus tersebut membuat jumlah penderita malaria yang tercatat di Kabupaten Bangka terus bertambah.

Dari total 111 kasus yang ditemukan, sebagian masih menjalani perawatan baik rawat inap maupun rawat jalan.

“Sampai saat ini jumlah warga yang terkena malaria sebanyak 111 orang. Yang menjalani rawat inap masih dalam masa pengobatan sekitar 50 orang, sedangkan yang telah selesai menjalani perawatan sebanyak 49 orang,” ujarnya.

Dinas Kesehatan terus melakukan survei darah massal di kawasan pesisir yang menjadi pusat penyebaran kasus. Sebelumnya, pemeriksaan door to door di Dusun Bubus juga menemukan delapan warga positif malaria dari 99 orang yang diperiksa.
Peningkatan kasus malaria membuat Pemerintah Kabupaten Bangka menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Bupati Bangka Fery Insani mengingatkan bahwa daerah tersebut sebenarnya telah menyandang status eliminasi malaria sejak 2014.

“Dulu kita sudah eliminasi malaria. Tahun 2014 kita dinyatakan zero malaria. Tiba-tiba muncul puluhan kasus, tentu ini menjadi perhatian serius,” kata Fery.

Warga Cemas

Di tengah meningkatnya jumlah penderita, kecemasan mulai dirasakan masyarakat.

Wika, warga Pantai Batu Atap, mengaku keluarganya ikut terdampak. 

Anaknya sempat dirawat di rumah sakit setelah hasil pemeriksaan darah menunjukkan positif malaria.

“Awalnya dikira demam biasa. Setelah cek darah di puskesmas ternyata positif malaria dan dirujuk ke rumah sakit,” ujarnya.

Meski anggota keluarganya kini mulai membaik, rasa khawatir masih membayangi warga.

Informasi mengenai tambahan kasus baru membuat sebagian masyarakat memilih membatasi aktivitas di luar rumah.

“Kami masih takut keluar rumah. Tadi dapat kabar masih ada yang positif dan kondisinya menggigil,” katanya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Mawar, warga lainnya yang dua anaknya terinfeksi malaria setelah mengalami gejala demam dan menggigil.

“Takut sekali, tapi saya berharap anak-anak cepat sembuh setelah diberi obat oleh tim medis,” ujarnya.

Awasi Mobilitas Warga

Sementara itu, Plt Kasatpol PP Kabupaten Bangka Achmad Suherman mengatakan pihaknya terus memperketat pengawasan di kawasan Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus.

Posko pemantauan tetap disiagakan untuk mengawasi mobilitas warga dan mencegah penyebaran penyakit semakin luas.

“Dengan adanya penambahan warga atau penambang yang positif malaria, kami akan terus melakukan pengawasan untuk mengantisipasi penularan ke masyarakat lainnya,” tegas Achmad.

Ia juga mengakui masih menghadapi kendala karena sebagian penambang enggan menjalani pemeriksaan kesehatan.

Karena itu, pemerintah bersama perangkat desa dan ketua RT akan mengatur waktu penghentian sementara aktivitas tambang agar seluruh pekerja dapat mengikuti pemeriksaan.

Achmad mengimbau masyarakat tidak takut menjalani tes kesehatan apabila didatangi petugas.

“Kami berharap masyarakat kooperatif. Ketika petugas medis datang, jangan takut untuk diperiksa. Ini demi kesehatan bersama dan agar kasus malaria bisa segera dikendalikan,” katanya. (v1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.