SURYA.CO.ID, SURABAYA - Terungkap penyebab atau duduk perkara yang membuat seorang remaja di Surabaya berinisial TJK (19) tewas usai dikeroyok teman-temannya pada Minggu (31/5/2026).
Remaja yang baru saja lulus SMA ini sempat dirawat di rumah sakit selama lima hari sebelum akhirnya mengembuskan nafas terakhir pada Kamis (4/6/2026).
Korban diketahui mengalami luka parah hingga tak sadarkan diri atau koma selama lima hari di ruang ICU RSUD dr Soetomo Surabaya.
Kasus ini sudah dilaporkan ke Mapolrestabes Surabaya dan sejumlah terduga pelaku sudah diamankan.
Jenazah korban juga dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya untuk dilakukan autopsi dan visum lanjutan oleh Tim Inafis Polrestabes Surabaya.
Baca juga: Kronologi Lengkap Remaja Surabaya Tewas Dikeroyok Teman Gara-Gara Sandal, Sempat Dibiarkan Pingsan
Hana Novia Kristiani (32), kakak kandung korban meyakini adiknya dikeroyok.
"Kalau misalnya hanya satu atau dua orang, saya menganggap itu tidak dikeroyok. Tapi jika orangnya itu lebih dari dua orang, saya menganggap itu adalah sebuah pengeroyokan dan motifnya mungkin bisa dikatakan berencana," ujarnya saat ditemui awak media di rumah duka kawasan Jalan Manukan Yoso II, Manukan Kulon, Tandes, Surabaya, pada Kamis sore.
Mengenai dugaan motif pengeroyokan terhadap sang adik, Hana mengaku belum mengetahui secara detail motif utama para terduga pelaku.
Namun, dia memastikan duduk perkaranya bukan karena utang piutang.
Hana lalu mengurai kemungkinan penyebab pengeroyokan itu yang diawali dari pertengahan Mei 2026 saat sang adik terlibat permasalahan dengan temannya yang diduga kuat merupakan salah satu terduga pelaku pengeroyokan.
Permasalahan tersebut perihal ganti rugi sandal milik terduga pelaku yang sudah dipakai oleh korban.
Namun, permasalahan tersebut, ia anggap sudah selesai karena sang adik sudah memberi ganti rugi berupa sandal yang baru.
"Kan pada waktu itu juga saya sudah beritika baik untuk mengganti dan mengembalikan dengan sandal baru tapi mungkin dari pihak tersangkanya tidak sesuai dengan kemauannya karena merasa bahwa harganya tidak sesuai dengan yang harga yang sandal yang baru," ungkapnya.
Sehingga, Hana merasa persoalan mengenai sandal itu dianggapnya berlebihan jika menjadi motif utama yang mendasari terduga pelaku merencanakan pengeroyokan terhadap korban.
"Cuma sangat disayangkan bahwa anaknya akhirnya menjadi emosi bahkan sampai berujung melakukan tindakan anarki yang mana menghilangkan nyawa seseorang hanya karena motif ganti rugi sebuah sandal," katanya.
Hana mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari pihak Kepolisian. Beberapa orang terduga pelaku pengeroyokan terhadap adiknya sudah ada yang ditangkap untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
"Jadi sampai dengan hari ini juga pelakunya masih dalam proses penyelidikan dan saya sepenuhnya menyerahkan ke pihak yang berwajib," pungkasnya.
Tetangga korban Nia Sanjaya (38), mengurai detik-detik kejadian yang sempat diungkapkan tante korban.
Berikut kronologisnya:
Nia menerangkan pada Minggu (31/5/2026) dini hari, korban berjalan sendirian hendak membeli minuman ringan kemasan di toko kelontong depan gapura gang permukiman rumahnya.
Ternyata, toko kelontong tujuan pertama korban sudah tutup, sehingga korban terpaksa berjalan menuju ruas sisi tengah jalan raya tersebut, untuk menuju toko kelontong di dekat SMAN 11 Kota Surabaya.
Setelah membeli barang yang diinginkan, korban didatangi oleh gerombolan remaja empat orang. Mereka lantas berusaha mengeroyok korban di lokasi tersebut.
Diduga gerombolan tersebut tak puas menghajar korban di lokasi tersebut, lantas mereka mengajak korban secara paksa menuju ke suatu area sepi kawasan Jalan Tengger, sekitar pukul 02.00 WIB.
Setibanya di sana, mereka kembali mengeroyok korban hingga tak sadarkan diri.
Saat kondisi korban tetap tak kunjung petanda membaik setelah didiamkan, mereka membawa korban ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Para pelaku membawa korban dengan cara membonceng menggunakan motor menuju ke sebuah rumah sakit swasta kawasan Jalan Manukan Tengah.
Tak dinyana-nyana, lanjut Nia, di tengah perjalanan tubuh korban ambruk ke belakang hingga terjatuh ke tanah. Dan, korban tetap saja lunglai, lemas, dan tak sadarkan diri.
"Setelah itu ditaruh di belakang sempat terjatuh katanya. Itu dalam keadaan dia sudah enggak sadar gitu. Setelah itu dia digeletakkan di dekatnya toko yang jualan sembako," ujarnya saat ditemui awak media di rumah duka Jalan Manukan Yoso II, pada Kamis malam.
Pada momen tersebut, beberapa orang dari gerombolan itu, berusaha menghubungi keluarga korban.
Namun, mereka tidak langsung menghubungi anggota keluarga korban, melainkan beberapa teman dekat korban yang tinggal bertetangga dengan korban di Jalan Manukan Yoso II.
Tak ayal, pihak luar yang datang melihat kondisi korban adalah teman korban yang tinggal bertetangga dengan korban.
Setelah melihat kondisi korban benar-benar mengkhawatirkan, saksi yang merupakan tetangga korban tadi berusaha mendatangi keluarga korban untuk bertemu dengan tante korban.
"Di situ setelah korbannya digeletakkan, ada salah satu temannya itu telepon ke temannya si NN. Setelah itu dari situ dibawalah ke rumah sakit di rumah sakit itu," katanya.
Nia mengungkapkan, korban masih bisa berkomunikasi secara terbatas dalam durasi waktu singkat selama dirawat oleh tim medis rumah sakit swasta tersebut.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama, karena korban malah semakin memburuk. Hingga pihak keluarga memutuskan membawa korban ke RSUD dr Soetomo Surabaya, pukul 05.00 WIB.
"Sempat ditanya-tanya itu dipanggil ini namanya siapa; Thomas gitu. Ini siapa; kakak-kakaknya dia masih ingat waktu itu. Tapi akhirnya terus itu kondisinya semakin turun semakin turun gitu. Iya sempat masih bisa diajak ngomong. Waktu ditanya itu masih tahu; namanya siapa gitu. Setelah itu kondisinya semakin enggak sadar," ungkapnya.
Setelah korban dirujuk tempat perawatan di rumah sakit terbaru, Nia bersama beberapa orang tetangga dekat korban datang menjenguk korban ke rumah sakit, pada Senin (1/6/2026).
Ternyata, setibanya di sana, ia memperoleh kabar bahwa korban sudah menjalani operasi tahap pertama dan akan berlanjut pada operasi tahap kedua.
Namun, belakang diketahui, kondisi korban semakin memburuk bahkan beberapa organ tubuh korban semakin menurun fungsinya.
Dan, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 04.11 WIB, pada Kamis (4/6/2026), setelah koma selama hampir lima hari.
"Itu kondisinya sudah menurun. Sudah dioperasi. Karena tempurung otaknya itu sudah retak. Jadi diotaknya itu terjadi pembengkakkan. Itu akibat pemukulan dari benda tumpul. Infonya sih seperti itu," jelasnya.
Nia mengungkapkan, sehari sebelum korban meninggal dunia, Rabu (3/6/2026) pihak keluarga korban memutuskan menempuh jalur hukum untuk mengusut kasus tersebut.
Sejak semalam, keluarga korban didampingi oleh pengurus RT menuju ke Mapolrestabes Surabaya untuk membuat pelaporan resmi Kepolisian.
"Setelah itu dari pihak keluarga itu melaporkan bahwa kejadian ini memang terjadi dini hari setelah pelaporan itu kondisinya semakin drop semakin drop terus pagi jam 04.11 itu dikabarkan sudah meninggal," pungkasnya.
Ketua RT 01 RW 01, Manukan Kulon, Wijayanto Raharjo mengatakan, sudah ada beberapa orang terduga pelaku yang diamankan oleh Kepolisian, atas kasus pengeroyokan terhadap korban.
Dia tak menampik, beberapa orang terduga pelaku, merupakan teman satu sekolah korban.
"Benar 4 orang. Iya benar diamankan empat orang. Iya tadi pagi semuanya. 3 orang Ini 1 ada yang satu sekolah ada yang tidak. Ya itu menurut info yang saya terima," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di rumah duka korban.
Sementara itu, Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Raditya Herlambang membenarkan pihaknya mengamankan beberapa orang terduga pelaku pengeroyokan terhadap korban.
Namun, mereka masih menjalani serangkaian tahapan penyelidikan dan penyidikan lanjutan atas kasus tersebut di Mapolrestabes Surabaya, hingga Kamis malam.
"Ini masih proses pemeriksaan. Perkembangan mohon waktu kami infokan," ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com, pada Kamis malam.