BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), harga beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) milik Bulog di wilayah Bangka dipastikan masih tetap stabil.
Perum Bulog Kantor Cabang Bangka memastikan belum ada perubahan harga tebus maupun harga jual beras SPHP meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan dalam beberapa hari terakhir.
Pemimpin Cabang Bulog Kantor Cabang Bangka, Dimas Wage Tantri, mengatakan hingga saat ini harga tebus beras SPHP di gudang Bulog masih bertahan di angka Rp11.300 per kilogram.
Sementara itu, harga eceran tertinggi (HET) atau harga jual kepada masyarakat juga masih normal, yakni sebesar Rp13.100 per kilogram.
"Alhamdulillah masih harga lama. Harga tebus beras SPHP di gudang Bulog masih Rp11.300 per kilogram, sedangkan untuk harga jual sesuai HET tetap Rp13.100 per kilogram," kata Dimas kepada Bangkapos.com, Jumat (5/6/2026).
Dimas menjelaskan, hingga kini pihaknya belum melihat adanya dampak langsung dari pelemahan rupiah terhadap harga beras SPHP di Bangka.
Menurut dia, ketersediaan stok yang memadai menjadi faktor penting dalam menjaga kestabilan harga di tengah gejolak ekonomi global.
Tak hanya harga yang dipastikan tetap, stok beras di gudang Bulog Bangka juga disebut dalam kondisi aman.
Bulog Bangka, kata Dimas, baru saja menerima tambahan pasokan sebanyak 250 ton beras dari Palembang. Jumlah tersebut merupakan bagian dari rencana pengiriman total sekitar 2.000 ton beras ke wilayah Bangka.
"Stok aman. Kami baru mendapat kiriman 250 ton dari Palembang, dan ke depan direncanakan total sekitar 2.000 ton akan masuk," ujarnya.
Saat ini, stok beras yang tersimpan di gudang Bulog Bangka tercatat mencapai sekitar 1.380 ton.
Dengan jumlah tersebut, Dimas memastikan persediaan masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam dua hingga tiga bulan ke depan, berdasarkan rata-rata penyaluran beras setiap bulan.
"Secara perhitungan penyaluran bulanan Bulog Bangka, stok saat ini menurut kami masih cukup untuk dua sampai tiga bulan ke depan," katanya.
Ia menambahkan, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras karena stok Bulog terus bergerak atau revolving dan secara berkala mendapatkan tambahan pasokan dari Kantor Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.
"Karena stok kami terus revolving dan mendapat tambahan dari Kanwil Sumsel, jadi masyarakat tidak perlu khawatir," ujar Dimas.
Diketahui, nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan menembus level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026).
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama bahan pangan dan barang yang memiliki keterkaitan dengan impor maupun biaya distribusi.
Namun, untuk komoditas beras SPHP di Bangka, Bulog memastikan harga masih terkendali dengan pasokan yang tetap terjaga.
Situasi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat di tengah gejolak kurs rupiah.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)