TRIBUNNEWS.COM - Mantan Perdana Menteri (PM) Israel Ehud Barak melontarkan kritik keras terhadap kebijakan pemerintah Israel dalam konflik di Lebanon.
Ia juga menuding PM Benjamin Netanyahu lebih mementingkan kelangsungan politik dibanding keamanan negara.
Barak menggambarkan kondisi perang yang menurutnya berjalan tanpa arah jelas.
Ia mengatakan tentara Israel “berjuang dengan tangan terikat” demi mempertahankan zona penyangga keamanan.
Disebutkan Barak, bahwa pasukan zionis israel bertujuan mencegah serangan rudal anti-tank dan menghambat pergerakan drone, mengutip Al Mayadeen, Jumat (5/6/2026).
Menurut Barak, kegagalan Israel menghadapi ancaman drone yang telah berkembang selama bertahun-tahun merupakan kegagalan yang memalukan.
Baca juga: Perang Iran Hari ke-98: Israel Tetap Bombardir Lebanon, Hizbullah Sebut Gencatan Senjata Lelucon
Ia menilai solusi terhadap ancaman tersebut tidak bisa diperoleh secara cepat.
Bahkan jika ditemukan tetap akan mahal dan tidak sepenuhnya efektif.
Ia juga menyoroti meningkatnya frustrasi di kalangan militer dan masyarakat Israel akibat jatuhnya korban hampir setiap hari serta ancaman terus-menerus terhadap pasukan di lapangan.
Dalam kritiknya, Barak secara langsung membantah klaim kemenangan Netanyahu setelah gencatan senjata sebelumnya.
Ia menyebut pernyataan Netanyahu bahwa Hizbullah telah dipukul mundur selama beberapa dekade sebagai “kesombongan yang hampa”.
Barak menilai berbagai operasi yang sebelumnya diklaim sebagai keberhasilan besar Israel, termasuk serangan terhadap pager, pembunuhan Sayyed Hassan Nasrallah dan sejumlah komandan Hizbullah.
Hingga serangan terhadap Pasukan Radwan dan sistem rudal Hizbullah, kini tidak memberikan dampak strategis berarti.
Menurutnya, di bawah kepemimpinan Sheikh Naim Qassem, Hizbullah tetap bertahan dan terus melakukan serangan terhadap militer zionis Israel maupun permukiman di wilayah utara.
“Merangkum situasi di Lebanon dari perspektif perdana menteri dalam satu kata: kegagalan. Dalam dua kata: kegagalan total,” tulis Barak.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)