84 Siswa Keracunan usai Makan MBG, Sampel Makanan dan Muntahan Diuji di Laboratorium
Eko Setiawan June 05, 2026 11:25 PM

TRIBUNBATAM.id - Kasus dugaan keracunan usai mengonsumsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini, sebanyak 84 pelajar di Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui program tersebut.

Puluhan siswa mendadak mengalami gejala serupa mulai dari mual, muntah, pusing hingga diare.

Dari total korban, sebanyak 12 siswa masih menjalani perawatan intensif karena kondisi yang lebih berat, sementara korban lainnya telah diperbolehkan pulang setelah mendapat penanganan medis.

Insiden ini langsung memicu investigasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan dan Satgas MBG. Sampel makanan yang dikonsumsi para siswa serta muntahan korban kini telah diamankan untuk diperiksa di laboratorium.

Ketua Satgas MBG Bangkalan, Bambang Budi Mustika, mengatakan pengambilan sampel dilakukan sesaat setelah laporan dugaan keracunan diterima.

"Sampel yang sudah diamankan untuk uji laboratorium berupa makanan dan muntahan korban," kata Bambang, Jumat (5/6/2026).

Namun hingga kini penyebab pasti insiden tersebut masih menjadi misteri. Pemerintah harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium di Surabaya yang diperkirakan baru keluar dalam waktu 10 hingga 15 hari ke depan.

"Kita tunggu hasil laboratorium. Dari sana baru bisa diketahui secara pasti apa penyebab keracunan yang dialami para siswa," ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kokop Dupok 1 yang memasok makanan kepada ribuan penerima manfaat MBG langsung dihentikan sementara.

Langkah itu diambil karena kasus ini telah memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan.

"Sesuai Permenkes Nomor 2 Tahun 2013, apabila ada dua orang atau lebih mengalami gejala yang sama setelah mengonsumsi makanan yang sama, maka dapat dikategorikan sebagai KLB. Karena itu dapur dihentikan sementara," jelas Bambang.

Satgas MBG juga melakukan pemeriksaan epidemiologis terhadap seluruh penerima manfaat program yang mencapai 3.723 orang, mulai dari siswa PAUD, SD, SMP, SMA hingga balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Data menunjukkan korban berasal dari sejumlah sekolah di Kecamatan Kokop. Bahkan seorang warga turut menjadi korban setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang anaknya.

Menurut Bambang, warga tersebut justru mengalami gejala cukup berat dengan muntah hingga lima kali dan harus menjalani perawatan infus.

Secara keseluruhan terdapat 13 orang yang mendapatkan infus, terdiri dari 12 siswa dan satu warga.

Satgas MBG menduga salah satu faktor yang berpotensi menjadi penyebab insiden ini adalah rentang waktu yang cukup panjang antara proses memasak dan waktu konsumsi makanan.

Makanan diduga mulai dimasak sekitar pukul 23.00 WIB dan baru dikonsumsi siswa keesokan harinya sekitar pukul 10.00 WIB.

"Saya khawatir pada kondisi bumbu atau bahan makanan yang dimasak terlalu lama sebelum dikonsumsi. Kalau dimasak sekitar pukul 11 malam dan dimakan pukul 10 pagi, waktunya sudah cukup panjang," katanya.

Meski demikian, dugaan tersebut masih menunggu pembuktian melalui hasil laboratorium.

Pada hari kejadian, menu MBG yang dibagikan kepada sekitar 3.732 penerima manfaat terdiri dari nasi putih, sate ayam, tempe, acar timun dan wortel, serta potongan buah semangka.

Selain kualitas makanan, tim investigasi juga menyoroti fasilitas pendukung di dapur penyedia makanan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang disebut masih menggunakan standar lama.

Hingga Jumat (5/6/2026), belasan siswa masih menjalani perawatan, sementara pemerintah daerah terus memantau perkembangan kondisi korban sambil menunggu hasil laboratorium yang akan mengungkap penyebab pasti insiden tersebut.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.