Dari Tembakau Ekspor hingga Sumur Bor, Langkah PTPN I Regional 5 Perkuat Kesejahteraan Petani
Wiwit Purwanto June 05, 2026 11:32 PM


 
SURYA.CO.ID SURABAYA - PTPN I Regional 5 terus memperkuat pengembangan komoditas tembakau sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat sekitar wilayah operasional.

Pada musim tanam 2026, perusahaan menggandakan luas areal tanam tembakau di Klaten, Jawa Tengah, dan menyalurkan bantuan puluhan sumur bor untuk mendukung kebutuhan air pertanian.

Komitmen tersebut ditandai melalui kegiatan Tanam Perdana Tembakau Tahun Tanam 2026 di Kebonarum, Kabupaten Klaten, serta penyaluran Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa 38 titik sumur bor dan tujuh unit mesin pompa air bagi masyarakat di tujuh desa.

Region Head PTPN I Regional 5, Subagiyo, mengatakan peningkatan luas tanam menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengembangkan kembali komoditas tembakau Klaten yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berorientasi ekspor.

“Tanam perdana tahun ini menjadi momentum penting bagi pengembangan tembakau Klaten. Dengan peningkatan luas tanam dari 25 hektare menjadi 50 hektare, kami optimistis komoditas ini dapat terus berkembang,” kata Subagiyo di Kantor Pusat PTPN I Regional 5, Jalan Merak, Surabaya, Jumat (5/6/2026).

Baca juga: Warga Gurah Kediri Gembira, Dapat Bantuan Sumur Bor untuk Masjid dan Lingkungan

Pada tahun tanam 2026, perusahaan mengembangkan komoditas tembakau Besuki Na-Oogst yang ditanam di bawah naungan (TBN) dengan total luas lahan mencapai 50 hektare di wilayah Klaten.

Komoditas tersebut merupakan salah satu produk unggulan PTPN I Regional 5 yang dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan industri cerutu premium di pasar internasional.

"Perusahaan menargetkan produktivitas sebesar 1.700 kilogram per hektare, dengan masa tanam sekitar tujuh bulan dan panen satu kali dalam setahun. Hasil produksi difokuskan untuk memenuhi kebutuhan industri cerutu premium ekspor, dengan pasar utama Amerika Serikat dan Eropa," jelas Subagiyo.

Salurkan Sumur Bor dan Pompa Air untuk Tujuh Desa

Di tengah tantangan budidaya yang dipengaruhi perubahan cuaca dan keterbatasan sumber daya manusia, perusahaan terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga produktivitas dan kualitas tanaman.

Langkah tersebut dilakukan melalui pengaturan naungan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan berimbang, serta optimalisasi pengelolaan sumber daya air.

Sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat sekitar, PTPN I Regional 5 juga menyalurkan bantuan melalui program TJSL berupa 38 titik sumur bor dan tujuh unit mesin pompa air.

Bantuan tersebut disalurkan ke tujuh desa, yakni Towangsan, Sukorejo, Jetis, Pluneng, Nglinggi, Manjung, dan Karanglo dengan total nilai program mencapai Rp 99,9 juta.

Salah satu penerima manfaat, Dalino, petani asal Desa Sukorejo, mengaku bantuan tersebut sangat membantu petani dalam memenuhi kebutuhan air, terutama saat musim kemarau.

“Adanya bantuan sumur bor dan mesin pompa air dari PTPN I ini sangat meringankan beban para petani yang sebelumnya kesulitan mendapatkan akses air untuk lahan pertanian. Kami mendoakan agar program tanam perdana tembakau PTPN I ini berjalan sukses dan mencapai target yang diharapkan,” ujar Dalino.

Kepala Bagian Sekretariat dan Umum PTPN I Regional 5, Reggy Irawan Setiyobudi, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

“Kami berharap bantuan 38 titik sumur bor dan 7 unit mesin pompa air ini dapat meningkatkan ketersediaan air bagi pertanian sehingga petani dapat meningkatkan intensitas tanam hingga dua kali dalam setahun,” harap Reggy.

Dorong Manfaat Ekonomi dan Sosial Berkelanjutan

Program TJSL tersebut dijalankan menggunakan pendekatan Creating Shared Value (CSV), yakni menciptakan manfaat bersama antara perusahaan dan masyarakat secara berkelanjutan.

Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan perusahaan, program ini mencatat Social Return on Investment (SROI) sebesar 16,19. Angka tersebut jauh melampaui target perusahaan yang ditetapkan sebesar 3 dan menunjukkan manfaat sosial yang diterima masyarakat lebih besar dibandingkan nilai investasi program.

Menurut Subagiyo, keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari capaian produksi dan kinerja bisnis, tetapi juga dari dampak sosial yang dirasakan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan dan pembangunan berkelanjutan.

“Kami berharap perluasan areal tanam tembakau di Kebonarum Klaten ini dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar, membuka lapangan kerja, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkas Subagiyo.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.