Jakarta (ANTARA) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) meraih pendanaan internasional dengan total nilai 477,87 juta dolar AS untuk tiga proyek panas bumi di Indonesia.

Berdasarkan keterangan resmi yang dikutip di Jakarta, Sabtu, disebutkan pendanaan untuk proyek PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 (2x55 MW), serta PLTP Lahendong Unit 7-8 (50 MW) itu tercantum dalam skema on-lending melalui pembiayaan concessional loan yang menawarkan suku bunga lebih atraktif serta tenor yang lebih panjang dibandingkan pembiayaan komersial.

Adapun rincian bantuan pendanaan itu adalah PLTP Lumut Balai Unit 3 dengan target operasi (COD) pada 2030 senilai 158,86 juta dolar AS dari JICA; PLTP Lumut Balai Unit 4, yang ditargetkan COD pada 2032 senilai 148,97 juta dolar AS dari JICA; dan PLTP Lahendong Unit 7-8 dengan target COD pada 2030 senilai 170,04 juta dolar AS dari Bank Dunia.

"Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari roadmap PGE untuk mengembangkan potensi panas bumi hingga tiga gigawatt (GW). Setelah beroperasi, proyek-proyek ini akan menambah pasokan listrik rendah emisi dan memperkuat peran panas bumi dalam bauran energi nasional," kata Direktur Utama PGE Ahmad Yani.

Dukungan pendanaan tersebut, lanjutnya, diperoleh setelah tiga proyek perseroan masuk ke dalam Green Book 2026 yang diterbitkan Kementerian Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).

"Capaian ini mencerminkan kesiapan proyek untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya, seiring dengan kinerja bisnis dan operasional perseroan yang terus menunjukkan pertumbuhan positif," ujarnya.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, PGE mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 40 persen yakni 43,90 juta dolar AS dibandingkan 31,35 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya (yoy).

Perseroan juga membukukan pendapatan sebesar 116,56 juta dolar AS atau meningkat 14,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja positif ditopang oleh pertumbuhan produksi yang konsisten.

Pada 2025, PGE mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) dengan total produksi mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh).

Tren positif tersebut berlanjut pada kuartal I 2026 dengan produksi listrik meningkat 15,22 persen (yoy) menjadi 1.370 GWh.

Sementara itu, dengan masuknya ketiga proyek ini ke dalam Green Book, pendanaan yang didapatkan diharapkan dapat membantu perseroan mempertahankan cost of debt yang kompetitif sekaligus meningkatkan keekonomian proyek dalam jangka panjang.

Green Book 2026 bernama "Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026" memuat proyek-proyek nasional yang berhasil mendapatkan komitmen pendanaan luar negeri yang dikoordinasikan Pemerintah Indonesia melalui berbagai mitra pembangunan internasional.

Daftar tersebut disusun berdasarkan Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor Kep. 52/M.PPN/IIK/06/2026.

Sebelumnya, proyek-proyek tersebut telah masuk dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah Tahun 2025-2029 (Blue Book) Bappenas yang telah memenuhi berbagai aspek kesiapan teknis, finansial, lingkungan, dan kelembagaan yang dipersyaratkan.

"Masuknya proyek ke dalam green book menjadi tonggak penting menuju implementasi dan pengembangan lanjutan," ujar Ahmad Yani.