POSBELITUNG.CO, BANGKA - Sebuah cerita rakyat dari Bangka Belitung mencuri perhatian dewan juri.
Cerita yang dibawakan lewat karya tutur berjudul “Legenda Bukit Bejungor”, sukses meraih Juara I Kategori Umum pada Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan RI.
Adalah Desri Susilawani, pendongeng asal Babel, yang membawakan cerita tersebut.
Prestasi yang diraihnya tidaklah mudah. Desri harus bersaing dengan sekitar 2.000 peserta dari berbagai daerah sebelum akhirnya dinobatkan sebagai yang terbaik di tingkat nasional.
Kemenangan ini sekaligus menjadi bukti bahwa cerita rakyat daerah memiliki kekuatan untuk tampil dan diapresiasi di panggung nasional.
Menurut Desri, salah satu kekuatan yang dihadirkannya dalam karya tersebut adalah penekanan pada identitas lokal yang kuat.
Ia mengakui kualitas peserta lain juga sangat baik, namun memilih menonjolkan unsur budaya daerah sebagai pembeda.
“Bunda mengakui kalau peserta-peserta lain enggak kalah bagusnya. Bunda mengambil ide-ide dari konten yang Bunda buat dongeng ini dengan lebih menguatkan kekuatan lokalnya,” ujar Desri kepada Posbelitung.co, Jumat (5/6/2026).
Meski menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, Desri tetap mempertahankan nuansa khas Melayu Bangka Belitung dalam gaya bertuturnya.
Dialek daerah sengaja dipertahankan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang ingin diperkenalkan kepada khalayak luas.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah penggambaran kebiasaan masyarakat tempo dulu ketika orang tua bercerita kepada anak-anak.
Sebelum dongeng dimulai, anak-anak biasanya diminta memijat kaki orang tua yang lelah setelah bekerja.
“Ketika di awal video itu, langsung diajak untuk memijit kaki. Ada kebiasaan di zaman dulu itu orang tua kalau mau cerita, upahnya dipijit kaki karena lelah. Semakin lama pijitannya, makin lama ceritanya,” jelasnya.
Keunikan tradisi tersebut kemudian dikemas menjadi bagian dari alur penceritaan sehingga menghadirkan sentuhan monolog yang membuat dongeng terasa lebih hidup dan dekat dengan penonton.
Legenda Bukit Bejungor sendiri berasal dari Desa Gudang, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan.
Sebelum menulis ulang cerita tersebut, Desri melakukan riset mendalam dengan merujuk berbagai sumber, termasuk buku sastra lisan Melayu Bangka.
Dalam proses adaptasi, ia menghilangkan unsur-unsur kekerasan agar cerita lebih sesuai disampaikan kepada anak-anak.
Tak hanya mengangkat nilai budaya, Desri juga menyisipkan pesan sosial yang relevan dengan kehidupan masa kini, yakni pentingnya menghentikan perundungan atau bullying.
“Ini sangat relate sekali dengan kehidupan sekarang, dan anak-anak harus mendengarkan cerita ini supaya perundungan ini berhenti. Kita ingin tidak lagi mendengar ada kasus-kasus perundungan, baik oleh anak-anak atau orang dewasa,” katanya.
Kecintaan Desri terhadap dunia anak telah tumbuh sejak 2001.
Perjalanan panjang itu membawanya menekuni dunia dongeng secara serius.
Pada 2014, ia bergabung dengan Kampung Dongeng Indonesia dan kemudian menggagas berdirinya Kampung Dongeng Bangka Belitung.
Setahun berselang, ia mulai aktif memenuhi berbagai undangan mendongeng di sejumlah daerah di Kepulauan Bangka Belitung.
Bersama tim Kampung Dongeng Bangka Belitung, Desri terus menggelar berbagai kegiatan literasi dan dongeng, bahkan beberapa kali dipercaya menjadi juri dalam lomba mendongeng.
Baginya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui cerita, tetapi juga melalui bahasa yang digunakan untuk menyampaikannya.
“Bahasa Indonesia itu wajib, tapi juga jangan meninggalkan bahasa leluhur kita, bahasa daerah kita. Tetap harus dilestarikan bahasa daerah, termasuk budayanya dan ceritanya,” tuturnya.
Di balik berbagai prestasi yang diraih, Desri memiliki harapan sederhana.
Ia ingin tradisi mendongeng kembali hidup di rumah-rumah dan menjadi bagian dari keseharian keluarga.
“Orang tua wajib mendongeng untuk anak, khususnya untuk anak yang masih kecil. Dongeng ini menjadi fasilitas atau sarana bagi orang tua untuk membangun komunikasi dengan anaknya,” ungkapnya. (Posbelitung.co/Rizky Irianda Pahlevy)