South Andaman Menunggu: Akankah Putra dan Putri Aceh Menjadi Tuan Rumah di Lautnya Sendiri?
Ansari Hasyim June 06, 2026 10:28 AM

Oleh: Dr(c). Ir. Dedi Kurniawan, S.T., M.M

Dosen/Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Pelayaran Malahayati

ACEH kembali mendapat kabar yang membawa harapan. Temuan cadangan gas besar di kawasan South Andaman membuka optimisme baru mengenai masa depan ekonomi daerah dan kontribusi Aceh dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Di tengah berbagai tantangan pembangunan dan kebutuhan penciptaan lapangan kerja, kabar ini tentu patut disambut dengan rasa syukur dan harapan.

Baca juga: Tegas! KPA Mintas Gas Blok Andaman Selatan Diolah di Aceh, Jubir: Demi Rakyat dan Ekonomi Daerah

 

Ketika aktivitas industri migas di kawasan South Andaman berkembang dan membutuhkan ribuan tenaga kerja dalam berbagai bidang, apakah putra-putri Aceh telah siap mengambil peran di dalamnya?

Pertanyaan ini penting karena sejarah telah mengajarkan banyak hal kepada kita.

Tidak sedikit daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, tetapi masyarakat lokal hanya memperoleh manfaat yang terbatas karena tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. 

Investasi datang, proyek berjalan, aktivitas ekonomi tumbuh, namun tenaga kerja lokal sering kali belum mampu bersaing karena kurangnya keterampilan, pengalaman, maupun sertifikasi yang dipersyaratkan.

Jika kondisi seperti itu kembali terjadi, maka Aceh berisiko hanya menjadi lokasi operasi tanpa menjadi pusat pertumbuhan sumber daya manusia yang menikmati manfaat ekonomi secara maksimal.

Karena itu, South Andaman seharusnya tidak hanya dipandang sebagai peluang eksplorasi dan produksi gas.

Lebih dari itu, South Andaman harus menjadi momentum untuk mempersiapkan sumber daya manusia Aceh agar mampu menjadi bagian penting dari industri yang akan tumbuh di wilayahnya sendiri.

Banyak orang membayangkan industri migas hanya membutuhkan insinyur atau tenaga ahli dengan pendidikan tinggi. Faktanya tidak demikian.

Di balik operasi besar sebuah proyek migas terdapat begitu banyak profesi yang dibutuhkan.

Operator, teknisi, awak kapal pendukung, tenaga logistik, personel keselamatan, mekanik, teknisi listrik, hingga berbagai pekerjaan operasional lainnya memiliki peran yang sama pentingnya. 

Banyak dari pekerjaan tersebut sesungguhnya dapat diisi oleh generasi muda Aceh apabila dipersiapkan sejak dini melalui pendidikan vokasi, pelatihan kompetensi, dan sertifikasi yang sesuai dengan standar industri.

Di sinilah letak tantangan sekaligus peluang besar bagi Aceh.

Persiapan sumber daya manusia tidak dapat dilakukan secara mendadak. Industri migas memiliki standar keselamatan yang sangat tinggi.

Setiap pekerja harus memahami prosedur keselamatan kerja, penanganan keadaan darurat, pertolongan pertama, pencegahan kebakaran, serta berbagai aspek operasional lainnya.

Kompetensi tersebut tidak cukup diperoleh melalui teori semata, tetapi harus dibangun melalui pendidikan dan pelatihan yang sistematis.

Karena itu, jika Aceh ingin memperoleh manfaat yang optimal dari perkembangan South Andaman, maka investasi terbesar yang harus dilakukan sejak sekarang bukan hanya pada infrastruktur fisik, melainkan juga pada pembangunan manusia.

Kabar baiknya, Aceh sebenarnya telah memiliki modal yang cukup penting dalam upaya tersebut.

Salah satunya adalah keberadaan Politeknik Pelayaran Malahayati yang berada di bawah Kementerian Perhubungan.

Sebagai institusi pendidikan vokasi maritim milik pemerintah, Politeknik Pelayaran Malahayati selama ini telah berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia profesional di bidang pelayaran dan transportasi laut selama lebih dari 5tahun.

Kampus ini memiliki fasilitas pendidikan dan pelatihan, instruktur yang kompeten, serta pengalaman dalam membangun budaya keselamatan dan profesionalisme yang menjadi kebutuhan utama dunia kerja maritim.

Keunggulan tersebut menjadi relevan ketika berbicara mengenai kebutuhan industri migas offshore maupun onshore. Aktivitas migas lepas pantai memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan dunia maritim.

Mobilisasi personel, operasi kapal pendukung, logistik, keselamatan kerja, hingga berbagai aspek operasional lainnya membutuhkan kompetensi yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem pendidikan maritim.

Karena itu, keberadaan Politeknik Pelayaran Malahayati dapat menjadi salah satu aset strategis Aceh dalam mendukung penyiapan putra daerah untuk menyambut peluang yang muncul dari South Andaman.

Tentu bukan berarti seluruh kebutuhan tenaga kerja migas dapat dipenuhi oleh satu institusi, tetapi keberadaannya memberikan fondasi awal yang sangat berharga bagi pengembangan SDM berbasis kompetensi.

Karena itu, menurut saya, ukuran keberhasilan South Andaman nantinya tidak boleh hanya dilihat dari berapa besar gas yang berhasil diproduksi atau berapa banyak investasi yang masuk ke Aceh.

Ukuran yang jauh lebih penting adalah berapa banyak anak muda Aceh yang memperoleh pekerjaan berkualitas, berapa banyak tenaga profesional Aceh yang terlibat dalam rantai industri energi tersebut, dan seberapa besar nilai tambah yang kembali kepada masyarakat daerah karena disitulah sesungguhnya makna pembangunan yang berkeadilan.

South Andaman sedang membuka sebuah pintu. namun pintu itu tidak otomatis membawa kita masuk ke dalamnya. Kita tetap harus memiliki kunci, dan kunci itu adalah sumber daya manusia.

Jika Aceh mampu mempersiapkan manusianya mulai hari ini, maka ketika industri migas South Andaman berkembang beberapa tahun mendatang, putra-putri Aceh tidak lagi berdiri di luar pagar sebagai penonton.

Mereka akan hadir sebagai teknisi, operator, pelaut, supervisor, manajer, bahkan pemimpin yang ikut menentukan arah perjalanan industri tersebut.

South Andaman sedang menunggu. Pertanyaannya sederhana: akankah putra Aceh menjadi tuan rumah di lautnya sendiri?

Jawabannya ditentukan oleh apa yang kita kerjakan hari ini.(*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.