Wamenpar Ungkap Kunjungan Wisman Tumbuh 8 Persen di Tengah Geopolitik Global, Apa Peran Bali?
Putu Dewi Adi Damayanthi June 06, 2026 10:29 AM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketangguhan sektor pariwisata Indonesia teruji nyata di tengah tingginya tensi geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi dunia yang luar biasa.

Alih-alih merosot, angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke tanah air sepanjang Januari hingga April 2026 justru menunjukkan pertumbuhan positif yang signifikan.

Sebagaimana disampaikan Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, dalam pidato pengarahan deklarasi Indonesia Wellness and Beauty Entrepreneur Association (IWBEA) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali pada Jumat 5 Juni 2026.

"Sepanjang Januari hingga April 2026 ini, kita menerima kunjungan 4,68 juta wisatawan mancanegara atau tumbuh sekitar 8 persen lebih, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025," ungkap Ni Luh Puspa.

Baca juga: Kronologi Pemandu Wisata Meninggal di dalam Mobil yang Tabrak Pohon di Gianyar Bali

Fenomena ini didorong oleh pergeseran perilaku wisatawan pasca pandemi COVID-19 yang kini berorientasi pada perjalanan holistik mencari makna hidup, koneksi dengan alam, serta kebugaran fisik, mental, dan spiritual.

Dalam lanskap pertumbuhan tersebut, Bali memegang peranan krusial sebagai pilar utama sekaligus generator pariwisata kebugaran nasional.

Filosofi hidup masyarakat Bali yang menempatkan harmoni antara alam, manusia, dan spiritualitas secara inheren menjadi daya tarik magis bagi dunia, membuat Bali tetap mendominasi total kunjungan pariwisata Indonesia pada triwulan pertama 2026.

KEK Sanur yang diproyeksikan sebagai pusat kebugaran baru ini melengkapi kesiapan Bali untuk menangkap proyeksi pertumbuhan pasar global wellness tourism yang diperkirakan tumbuh di atas 10 persen per tahun hingga 2029.

"Kementerian Pariwisata mencatat bahwa pasar wellness tourism global ini diproyeksikan tumbuh dengan rata-rata lebih dari 10 persen per tahun hingga tahun 2029, menjadikannya sebagai salah satu peluang terbesar dalam industri perjalanan dunia," tuturnya.

Melalui ajang Bali Wellness and Beauty Expo (BWB Expo) 2026, terjadi lonjakan peserta hingga 35 persen dengan total 95 stan dan keterlibatan 140 merek, yang membuktikan tingginya kepercayaan pasar domestik dan internasional terhadap ekosistem kebugaran di Bali.

Komparasi strategis ditunjukkan oleh dua kementerian dalam mendorong industri ini. 

Dari perspektif makro pariwisata, Wamenpar Ni Luh Puspa menekankan penempatan wellness tourism sebagai strategi diversifikasi produk wisata untuk mendatangkan wisatawan berkualitas, memperpanjang durasi tinggal.

Selain itu, meningkatkan pengeluaran belanja (spending) demi dampak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

"Bali punya daya tarik luar biasa, jumlah kunjungan Indonesia masih didominasi jumlah kunjungan ke Bali termasuk dalam Triwulan tahun 2026 ini," ujarnya.

Sebaliknya, dari ceruk penguatan fondasi usaha, Wakil Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Helvi Yuni Moraza, membedah struktur industri ini yang didominasi oleh pelaku usaha mikro.

Wamen UMKM memaparkan data Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) UMKM per Desember 2025, di mana terdapat 92.689 UMKM di sektor kecantikan dan kebugaran, dengan komposisi mengejutkan yakni 99,75 persen merupakan usaha mikro, 0,22 persen usaha kecil, dan hanya 0,03 persen usaha menengah.

Di sinilah letak komparasi fokus keduanya ketika Kemenpar bergerak menarik pasar dan mengemas destinasi, Kementerian UMKM bergerak di hilir dengan target menaikkan kelas para pelaku usaha mikro ini melalui konsolidasi organisasi, peningkatan kapasitas produk, pembiayaan, hingga target rasio kewirausahaan nasional sebesar 3,2 persen pada tahun 2026.

"Kementerian UMKM ditugaskan untuk target pertumbuhan ekonomi pemerintah melalui UMKM naik kelas dan pertumbuhan wirausaha. Pada tahun 2026, proporsi jumlah usaha kecil menengah sebagai indikator UMKM naik kelas ditargetkan mencapai 3,15 persen," kata dia.

"Dan rasio kewirausahaan nasional sebagai indikator pertumbuhan wirausaha ditargetkan mencapai 3,2 persen. Ke depan kita jadikan UMKM dan wirausaha sebagai aktor ekonomi yang produktif dan mendorong ekonomi nasional," sambung Helvi.

Wamen UMKM, menambahkan bahwa potensi kekayaan hayati Indonesia sangat melimpah dengan lebih dari 30.000 spesies tanaman berpotensi bahan baku wellness.

Berdasarkan peta jalan ASEAN, Indonesia diamanatkan memimpin dalam bidang holistic wellness berbasis alam, dan Bali ditetapkan sebagai proyek percontohan (pilot project) utamanya.

"Kabinet di bawah Presiden Prabowo Subianto bahkan telah mengalokasikan dukungan pembiayaan hingga Rp320 triliun bagi UMKM untuk memastikan akselerasi ini," jelasnya.

Helvi berpesan agar seluruh pelaku usaha memegang teguh prinsip LIDI, yakni Loyalitas, Integritas, Disiplin, dan Inovatif, agar mampu memenangi persaingan global dan menempatkan Indonesia di posisi nomor dua dunia dalam industri kebugaran masa depan.

Pemerintah Provinsi Bali mengunci kesiapan ekosistem ini melalui regulasi yang kokoh.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, yang mewakili Gubernur Bali, memaparkan bahwa Bali telah memayungi industri ini melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 55 Tahun 2019 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional.

Regulasi ini memberikan kepastian hukum dan tata kelola bagi pelestarian pengobatan tradisional Bali yang holistik, mulai dari sertifikasi pengusada, pendirian panti sehat usada, hingga standardisasi jamu, spa, dan produk herbal lokal.

"Bali memiliki kekuatan yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yaitu harmoni antara alam, budaya, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Tri Hita Karana," ujar Sumarajaya.

"Nilai inilah yang menjadi fondasi berkembangnya berbagai layanan wellness, mulai dari spa, yoga, meditasi, healing tourism, pengobatan tradisional, hingga gaya hidup sehat yang kini semakin diminati oleh para wisatawan dunia," imbuhnya.

Pergub ini menjadi instrumen integrasi kebugaran tradisional ke dalam industri pariwisata modern berbasis visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, demi mewujudkan pariwisata kebugaran yang ramah lingkungan dan menyejahterakan masyarakat daerah.

"Dalam beberapa tahun ini, industri wellness telah berkembang menjadi salah satu pilar utama pariwisata global," bebernya.

Deklarasi wadah profesi ini dikumandangkan secara langsung oleh Sekretaris Jenderal IWBEA, Feri Augustian Soleh. 

Di hadapan pimpinan kementerian, lembaga, dan delegasi negara sahabat, Feri membacakan naskah deklarasi yang menandai babak baru industri kebugaran tanah air.

"Kami para pengusaha, praktisi, akademisi, peneliti, dan pemerhati industri wellness dan kecantikan di Indonesia menyadari sepenuhnya potensi besar kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal Nusantara, dengan ini menyatakan pendirian sebuah wadah organisasi profesi dan wirausaha yang bernama IWBEA," ujar Feri dalam deklarasinya.

Asosiasi ini berkomitmen mengawal empat prinsip utama, yakni pelestarian kearifan lokal, keberlanjutan lingkungan, sinergi kewirausahaan, serta pemenuhan standar global melalui akselerasi riset dan teknologi untuk melahirkan produk kebugaran Indonesia yang aman, bermutu, dan terpercaya di panggung dunia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.