Harga MinyaKita di Pasar Kuto Palembang Rp21 Ribu per Liter, Stok Langka Sejak Sebulan Terakhir
Slamet Teguh June 06, 2026 12:32 PM

 

Laporan wartawan Sripoku.com, Angga

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Harga minyak goreng subsidi MinyaKita di Pasar Kuto Palembang mengalami lonjakan signifikan di tengah kelangkaan pasokan yang telah berlangsung selama sekitar satu bulan terakhir.

Berdasarkan pantauan Sripoku.com di Pasar Kuto, Jalan Dr. M. Isa, Kelurahan Kuto Batu, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, Sabtu (6/6/2026), MinyaKita sulit ditemukan di sejumlah lapak pedagang kebutuhan pokok.

Akibat keterbatasan stok, banyak pedagang beralih menjual minyak goreng premium seperti Fortuner, Sanco, Sania, dan Bimoli yang harganya lebih tinggi dibandingkan minyak goreng subsidi.

Salah seorang pedagang sembako, Koh Li, mengatakan pasokan MinyaKita sudah tidak masuk ke pasar sejak sekitar sebulan terakhir.

“MinyaKita sudah lama kosong, sejak bulan lalu kami tidak mendapatkan stok. Beberapa pedagang lain juga mengalami kesulitan yang sama,” ujar Koh Li.

Menurutnya, kelangkaan pasokan membuat harga jual MinyaKita melonjak jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.

“Harga MinyaKita kalau ada bisa mencapai Rp21 ribu per liter. Biasanya kalau stok lancar, harganya sekitar Rp18 ribu hingga Rp19 ribu per liter,” katanya.

Baca juga: Stok Minyakita Langka, DPRD Sumsel Gandeng Disperindag Bakal Sidak ke Distributor

Baca juga: Minyakita Langka dan Harga Kacang Kedelai Naik, Kejari Lubuklinggau Gelar Sidak ke Pasar dan Bulog

Keterbatasan pasokan yang masuk ke pasar tradisional menyebabkan stok semakin sulit diperoleh, sementara permintaan masyarakat tetap tinggi.

Pedagang lainnya, Kakang, mengaku masih memiliki stok MinyaKita karena mendapat pasokan dari kerabatnya di Pulau Jawa.

“Saya dapat stok dari Jawa. Karena biaya dan keterbatasan pasokan, saya jual Rp21 ribu per liter,” ujarnya.

Menurut Kakang, langkah tersebut terpaksa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen sekaligus menjaga keuntungan usaha.

“Kalau tidak seperti itu, sulit mendapatkan stok MinyaKita,” katanya.

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga, Ema, mengaku keberatan dengan kenaikan harga minyak goreng dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya.

“MinyaKita selama ini yang paling bisa diandalkan karena harganya lebih terjangkau dibandingkan minyak goreng lainnya,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan pasokan dan harga minyak goreng subsidi di pasaran.

“Kita salah satu negara penghasil sawit terbesar, tetapi harga minyak goreng terus naik. Kondisi ini sangat memberatkan kami sebagai ibu rumah tangga,” tuturnya.
 
 

 

Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.