FKP 2026, RSUD Bali Mandara Fokus Pada Kanker dan Kualitas Hidup Pasien
Putu Dewi Adi Damayanthi June 06, 2026 02:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bali Mandara Provinsi Bali menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP) Tahun 2026. 

Agenda tahunan ini dilaksanakan sebagai wadah transparansi untuk memperkenalkan layanan medis terbaru sekaligus menyerap aspirasi dan masukan langsung dari elemen masyarakat serta para pemangku kepentingan (stakeholders).

Direktur RSUD Bali Mandara, dr. I Gusti Ngurah Putra Dharma Jaya, M.Kes, menjelaskan bahwa forum ini memegang peranan penting dalam menyelaraskan program kerja rumah sakit dengan ekspektasi masyarakat luas.

"Hari ini kita buat acara Forum Komunikasi Publik yang tujuannya untuk memperkenalkan layanan-layanan baru kami di Rumah Sakit Bali Mandara. Di samping itu kita juga minta masukan dari masyarakat terkait apa yang sudah kami kerjakan kemudian apa yang akan kami kerjakan ini bisa diterima atau tidak. Seperti itu aja," ujar dr. Putra Dharma Jaya saat ditemui di sela-sela acara, Sabtu 6 Juni 2026.

Baca juga: Seorang Pria Tidur di Jalur Motor Tol Bali Mandara, Petugas Cium Bau Alkohol

Berdasarkan data performa interaksi publik, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan RSUD Bali Mandara berada pada kategori yang sangat baik.

"Kalau yang terakhir kita lihat sekitar 85 persen ya kepuasan masyarakat terhadap layanan kami. Jadi Itu kalau itu artinya sudah cukup baik layanan kami sehingga masyarakat bisa menerima kami sebagai pusat layanan rujukan khususnya di Bali," tambahnya.

Lebih lanjut, ia juga mengonfirmasi bahwa mayoritas pasien, yakni sekitar 85 persen dari total pasien yang berobat, menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Dharma Jaya mengungkapkan bahwa layanan onkologi (kanker) menjadi salah satu unit yang paling banyak diakses oleh masyarakat karena didukung oleh fasilitas medis yang mutakhir dan komprehensif.

"Terus terang layanan kanker untuk kami ya cukup besar. Untuk mereka datang ke rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan ya. Artinya mereka ingin memastikan kesehatan mereka atau kalau mereka memang ada kanker untuk pemeriksaan lebih lengkapnya apa aja yang mau dikerjakan apa yang mau diinikan atau terapi yang mau diberikan itu biasanya mereka datangnya ke sini. Karena kalau dari sisi kelengkapan fasilitas yang kita punya ya cukup lengkaplah di Bali Mandara," jelasnya.

Ia merinci bahwa layanan unggulan kanker di rumah sakit ini mencakup tindakan pembedahan atau onkologi, kemoterapi, radioterapi (penyinaran), kedokteran nuklir, hingga penambahan fasilitas mutakhir berupa brakiterapi. 

Fasilitas brakiterapi ini secara spesifik digunakan untuk penanganan kasus kanker serviks, baik dari tahapan diagnostik maupun terapi langsung. 

Sejauh ini, tren medis di RSUD Bali Mandara menunjukkan kasus kanker payudara dan kanker serviks menempati posisi paling dominan. 

Melalui penguatan fasilitas ini, ia berharap warga Bali tidak perlu lagi melakukan pengobatan ke luar daerah.

"Harapannya dengan kegiatan ini kita berharap layanan kami bisa diterima oleh masyarakat, kemudian bisa meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Bali khususnya sehingga masyarakat Bali itu enggak perlu keluar untuk cari pengobatan di luar cukup pengobatan di Bali sehingga Bali Mandara," terangnya.

Di sisi teknis pelaksanaan, Ketua Panitia FKP RSUD Bali Mandara, I Kade Iman Darmawan, menegaskan bahwa pelaksanaan kegiatan ini merupakan amanat legal formal yang wajib dijalankan oleh instansi penyedia layanan publik.

"Jadi kegiatan forum konsultasi publik ini sesuai dengan undang-undang nomor 25 tahun 2009 dan Permenpan RB nomor 16 tahun 2017. Dasarnya itu. Jadi kegiatan forum konsultasi publik ini merupakan salah satu bentuk komitmen rumah sakit dalam melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan untuk meningkatkan layanan kesehatan di rumah sakit," kata Kade Iman.

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia sengaja mengusung tema khusus mengenai wellness (kebugaran dan kesehatan menyeluruh) untuk mengubah paradigma kesehatan masyarakat.

"Saat ini kita mengambil tema tentang wellness. Jadi kami ingin mengajak seluruh peserta untuk melihat kesehatan itu tidak hanya dari sisi pada saat sakit saja tetapi bagaimana menjaga kesehatan, meningkatkan kualitas hidup serta mencegah terjadinya penyakit," paparnya.

Kade Iman memaparkan, forum ini dihadiri oleh total 109 peserta, yang terbagi atas 80 orang peserta luring (online) dan 29 orang peserta luring/tatap muka (offline). 

Komposisi peserta telah disesuaikan dengan regulasi standar biro organisasi, yang melibatkan perwakilan perangkat daerah, camat, kepala desa, kepolisian, Koramil, institusi pendidikan, hingga praktisi kesehatan.

Seluruh masukan yang didapatkan dari lintas sektor ini dipastikan akan dihimpun sebagai basis data kebijakan rumah sakit ke depan. 

"Kemudian di akhir kegiatan nanti jadi hasil dari forum konsultasi publik ini akan menjadi bahan evaluasi dan apa perbaikan berkelanjutan bagi rumah sakit dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas humanis mudah diakses serta mendukung terwujudnya budaya hidup sehat di masyarakat," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.