Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Fiona Sihasale
TRIBUN-PAPUA.COM, BIAK NUMFOR – Harapan pihak keluarga untuk menemukan anggota mereka yang hilang pasca-ledakan bom di Biak Numfor menemui babak baru.
Pemerintah Kabupaten Biak Numfor resmi mengusulkan perpanjangan masa pencarian korban ledakan bom—yang diduga sisa Perang Dunia II—di Kompleks Perikanan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Papua.
Operasi lapangan tim gabungan yang semula dijadwalkan berakhir, kini resmi diperpanjang selama dua hari ke depan.
Keputusan krusial ini diambil setelah adanya permintaan dari pihak keluarga korban yang hingga kini masih menanti kepastian keberadaan orang-orang tercinta mereka.
Baca juga: Sambangi Korban Ledakan Bom di Biak, Anggota DPR Yan Mandenas Serahkan Bantuan dan Hibur Anak-anak
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor, Zacharias L. Mailoa mengungkapkan, perpanjangan ini merupakan hasil kesepakatan dari pertemuan darurat antara pemda dan keluarga terdampak langsung.
Secara regulasi dan ketentuan yang berlaku, tim gabungan sebenarnya telah menuntaskan tugas operasi pencarian selama enam hari terakhir.
Namun, atas dasar kemanusiaan dan desakan keluarga, proses pencarian dipastikan tetap berlanjut.
"Dari hasil pertemuan bersama keluarga korban terdampak langsung, mereka meminta agar pencarian ditambah selama dua hari lagi."
"Karena itu kami langsung berkoordinasi dengan Kapolres dan pihak Basarnas, sekaligus menyiapkan surat resmi kepada Basarnas untuk meminta perpanjangan pencarian," ujar Zacharias Mailoa usai menemui keluarga korban di Posko Pengungsian, Sabtu (6/6/2026).
Zacharias berharap, tambahan waktu berharga ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh tim gabungan untuk menyisir lokasi.
Target utamanya adalah menemukan korban yang masih hilang sejak insiden ledakan dahsyat pada 31 Mei 2026 lalu tersebut.
"Kami berharap dalam dua hari tambahan ini tim gabungan bisa menemukan jenazah korban yang belum ditemukan sehingga proses penanganan dapat berjalan lebih cepat," lanjutnya sembari mengapresiasi loyalitas Polres Biak Numfor dan Basarnas.
Di sisi lain, Pemkab Biak Numfor memastikan penanganan terhadap warga yang kehilangan tempat tinggal tetap menjadi prioritas utama.
Koordinasi intensif terus digendong bersama tim gabungan di bawah komando Polres Biak Numfor dan Basarnas.
Bagi warga yang rumahnya dinyatakan aman oleh aparat kepolisian, mereka telah diperbolehkan kembali untuk beraktivitas di rumah masing-masing.
Namun, bagi warga yang rumahnya hancur atau mengalami kerusakan parah akibat efek kejut ledakan, pemda telah menyiapkan tempat pengungsian yang layak. Bukan di tenda darurat, melainkan di Hotel Mapia.
"Khusus bagi keluarga yang terkena dampak langsung dan rumahnya mengalami kerusakan, untuk sementara kami siapkan pengungsian di Hotel Mapia sambil pemerintah melihat kondisi rumah yang layak untuk kembali ditempati," jelas Zacharias.
Sedikitnya 15 kamar hotel telah disiapkan dan ditanggung oleh pemerintah daerah untuk menjamin kenyamanan warga selama masa pemulihan pasca-bencana.
Baca juga: Update Ledakan Bom di Biak: Tim Gabungan Temukan 32 Potongan Tubuh, 3 Korban Masih Misteri
Tim DVI Identifikasi 34 Potongan Tubuh
Sebelumnya, tabir mengerikan dari dampak ledakan ini sempat dibeberkan oleh Kapolres Biak Numfor dalam konferensi persnya.
Memasuki hari keenam pasca-kejadian, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Papua dilaporkan berkejaran dengan waktu di lokasi petaka.
Hasilnya, tim forensik berhasil mengumpulkan puluhan bagian jasad dari area steril ledakan.
"Tim DVI Polda Papua sudah mengidentifikasi 34 potongan tubuh," ungkap Kapolres Biak Numfor.
Kendati demikian, proses identifikasi mendalam menemui tantangan berat. Dari puluhan potongan tubuh yang ditemukan, hanya sedikit yang bisa diambil sampelnya untuk dicocokkan.
"Hanya 6 sampel DNA postmortem yang bisa diambil sebagai sampel DNA."
"Selanjutnya sampel tersebut akan segera dikirim ke Laboratorium DNA Pusdokkes Polri untuk pemeriksaan lebih mendalam," pungkas Kapolres. (*)