Tak Ada Arwah Gentayangan di Tana Toraja, Semuanya Sudah Diupacarakan dengan Semestinya
Moh. Habib Asyhad June 06, 2026 07:34 PM

Kenapa makam-makam orang di Tanah Toraji menggantung di atas gunung, karena ada kepercayaan bahwa tanah hanya layak ditanani tumbuhan, bukan untuk kuburan.

Penulis: Heru Kustara/Mayong S. Laksono | Tayang di Majalah Intisari edisi Desember 1992 dengan judul "Tak Ada Arwah Gentayangan di Tana Toraja"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Kesakralan patung tao-tao, tanda abadi orang Tana Toraja yang telah meninggal, agaknya mulai pudar. Kalau dulu dibuat sekadar menonjolkan karakter (tanpa mempedulikan bentuk dan detail) si mati, sekarang semakin dimiripkan aslinya. Seperti foto saja layaknya.

Di gerbang depan makam Toraja, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, terdapat patung-patung mirip manusia. Ada yang terbuat dari kayu nangka, ada pula yang dari bambu. Semuanya didandani, dihias, dipajang dalam posisi berderet.

Itulah tao-tao, yang dalam bahasa Toraja berarti orang-orangan. Tanda simbolik bagi seseorang yang sudah meninggal.

Patung dianggap mewakili jasad yang tak lagi berbentuk manusia. Begitulah jabaran pembuatnya. Selama pembuatnya bukan seniman ukir yang ahli, selama itu pula hasilnya tak pernah bagus.

Pertimbangan utama hanyalah tampilnya karakter dasar: mata melotot atau sayu, apakah tulang rahang menonjol, berkumis atau klimis, pakai gigi emas atau ompong. Selebihnya rekaan si pembuat—yang belum tentu pemahat ahli.

Sudah lewat ajal tapi belum tentu mati

Kematian adalah pesta. Begitulah semboyan orang Toraja di tanah kelahirannya. Ini diwarnai kesadaran adat, bahwa arwah harus diupacarakan dan dipestakan agar sampai ke nirwana.

Seseorang, meski sudah lewat ajal, dianggap tidak mati sebelum ada pernyataan mati dari pimpinan adat. Dia dianggap sakit dan diharuskan menunggu.

Beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun, tergantung kesiapan keluarganya. Sebab akan menyangkut persiapan biaya upacara plus pengadaannya, baik tempat maupun ternak potong kerbau dan babi.

Ketika keluarga sudah siap, pernyataan kematian dicetuskan. Seorang toparenge' memulai tugasnya memimpin upacara.

Biasanya diawali dengan pemotongan seekor kerbau, kemudian diikuti pemotongan kerbau berikutnya sehari kemudian. Jumlah ternak yang dipotong dan jumlah hari upacara, ditentukan sesuai status dan tingkatan kasta orang yang meninggal.

Juga disesuaikan dengan kemampuan. Ada yang upacara satu malam, kerbau yang dipotong hanya 1 atau 2 ekor.

Yang tiga malam memberi keleluasaan untuk memotong 5 sampai 7 ekor. Lima malam sampai 9 ekor, dan upacara 7 malam hampir tidak terbatas.

Kelengkapannya pun bertingkat, bisa diukur dari jumlah kerbau yang dipotong pada upacara 7 malam. Kelengkapan tingkat pertama memberi keleluasaan sampai 12 ekor, tingkat kedua sampai 24 ekor, dan seterusnya.

Menurut kebiasaan, jika perayaan sampai melibatkan 24 ekor kerbau potong, patung kayu si mati harus dibuat. Begitu pun untuk jumlah kerbau lebih banyak, jika memang mampu. Walau ketentuan maksimal hanya 24, realisasi jumlah bisa mencapai 36, 60, bahkan sampai 200 ekor.

Mata akan terbelalak jika menghitung jumlah uangnya. Belum ongkos pembuatan patung, belum harga kerbau per ekornya, belum yang lain-lainnya. Jika harga kerbau antara 20 hingga 35 juta per ekornya, coba bayangkan berapa total biaya yang mesti dikeluarkan?

Inilah dasar keharusan menunggu, baik sampai seluruh anggota keluarga siap maupun pesanan patung jadi. Seandainya tidak mampu, adat tidak mengharuskan untuk memaksa diri.

Ada kalanya pimpinan adat justru membantu jika menyangkut keluarga tidak mampu. Juga tidak boleh menipu diri.

Menyatakan akan memotong 9 kerbau padahal kemampuan hanya sampai 3 ekor, misalnya. Atau sebaliknya, mengaku tidak sanggup memesan patung, padahal kastanya tinggi dan seluruh anggota keluarga mampu membiayai.

Kekayaan dikembalikan kepada masyarakat

Ketika upacara ditetapkan, rencana pun dibuat. Di sekitar tongkonan (kompleks rumah keluarga) dibangun pondok-pondok bambu untuk menampung calon pelayat. Pelaksanaannya bisa beberapa hari, beberapa minggu, bahkan sampai 3-4 bulan.

Pembuatan secara gotong-royong, namun tuan rumah (pihak keluarga duka) wajib memberi konsumsi selama warga bekerja. Bahkan terkadang keluarga yang kaya melengkapi dengan uang.

Lagi-lagi terbayang, kantung harus dirogoh dalam-dalam. Belum lagi tanaman dan tumbuhan sekitar yang ditebang guna keperluan itu semua.

Sampai-sampai ada warga Rantepao yang mengeluh, "Saya tidak tahu bagaimana jadinya Tana Toraja tahun dua ribu sekian nanti. Bambu-bambu habis, padahal setiap saat ada upacara, dan semuanya pakai bahan baku bambu."

Baik untuk pondok, batang pengangkut ternak potong, tempat masak daging maupun minum, semuanya dari bambu.

Meski terasa menghamburkan biaya, orang Toraja punya alasan untuk menepisnya. "Bukan nilai penghamburannya, melainkan balas jasa seseorang kepada masyarakatnya," jelas Tinting Sarungallo, seniman dan tokoh masyarakat yang mengelola tongkonan Kete' Kesu, salah satu objek wisata di Tator (Tana Toraja).

Pertumbuhan dan perkembangan seseorang tak lepas dari keluarga dan lingkungannya. Kemakmuran adalah bagian dari itu semua.

Ketika meninggal, dia wajib mengembalikan kepada masyarakatnya dalam bentuk daging ternak potong.

Pada sisi lain ada anggapan, kematian adalah saat penting dan layak dipestakan. Kepentingannya jauh melebihi fase lain dalam hidup seperti kelahiran dan perkawinan.

"Perkawinan, misalnya, sangat sederhana. Biasanya disimbolkan dengan 1 ekor ayam jantan dan 1 ekor ayam betina, disatukan dalam belanga," tambah Tinting. "Yang sulit adalah perceraian. Kalau salah satu meninggalkan, dia dituntut 24 ekor kerbau. Itu pun perlu pertimbangan khusus. Karena dengan begitu, dia tidak patut lagi tinggal di Toraja dan tidak bisa dijadikan contoh."

Ketika orang meninggal, pesta pun dilangsungkan. Karenanya, hajat semacam ini sering diadakan pada musim kemarau atau paceklik, ketika sawah dan kebun tak menghasilkan apa-apa.

Orang yang tidak mampu bisa bergabung dalam kerja gotong royong dengan mendapat jatah makan. "Bayangkan, kalau kegiatan berlangsung 3 bulan, melibatkan puluhan, bahkan ratusan tenaga kerja," sela Palidan Sarungallo, kakak Tinting.

Mayat bayi di pohon waru

Serangkaian aturan adat itu merupakan warisan leluhur, ketika orang Toraja masih menganut aluk todolo (agama kuno), yang semakin lama semakin terkikis.

Menurut sensus penduduk tahun 1990, 87% orang Toraja memeluk agama Kristen. Selebihnya beragama lain, dan tinggal sebagian kecil saja yang menganut leluhur tadi.

Dari segi ini jelas terlihat, 87% orang Toraja tidak membuat tao-tao. Tidak ada lagi hubungan antara pembuatan patung, pemotongan hewan, dan syarat upacara lain dengan "keselamatan" si mati.

Sekarang, meski berkasta tinggi dan mampu, tidak semua orang meninggal dipatungkan. Makanya jumlah patung di depan kuburan (baik makam gantung, gua alam, gua pahatan, maupun bangunan makam yang disebut patane) tidak sama dengan jumlah mayat di dalamnya.

Di Kete' Kesu pasti terdapat puluhan ribu jenazah, mengingat usia makam itu sendiri sudah 900 tahun lebih. Makam gua alam di Londa, ±5 km dari Rantepao, pun sama.

Gerbangnya hanya dihiasi tak lebih dari 20 tao-tao. Padahal di dalamnya, mayat yang tersimpan puluhan ribu, bahkan terdapat bagian sangat dalam tempat mayat disorong pakai bambu.

Jumlah erong (peti tempat tulang-belulang) tak terhitung lagi. Padahal tiap erong yang berbentuk kapal atau babi diisi rangka dari 1 keluarga, yang pasti jumlahnya lebih dari satu orang.

Belum lagi pembagian dalam 3 tingkatan menurut kasta: liang tobuda (masyarakat bawah), tomakaka (dibawa ke atas - kasta menengah), dan siambe' (kasta tertinggi - dipatungkan), yang masing-masing berjumlah ratusan. Hal yang sama terjadi juga di makam pahatan Lemo (sekitar 9 km dari Rantepao), salah satu tujuan wisata di Tator. Juga makam-makam lain.

Bagi penganut aluk todolo, bumi dan tanah hanya layak untuk ditanami tumbuhan, bukan untuk kuburan. Namun belakangan, sejalan dengan menyusutnya jumlah penganut agama kuno ini, kuburan tanah mulai bermunculan, dilengkapi batu nisan biasa.

Jika dulu tujuannya nirwana, sekarang surga. Esensinya sama.

Mayat yang didiamkan sambil menunggu kesiapan upacara, biasanya dilengkapi dengan ramuan penghilang bau busuk. Dalam hari-hari penantian itu, pembusukan terjadi.

Pada saat yang sama, keluarga menyelesaikan segala keperluan. "Biasanya permintaan maaf, koreksi atas kesalahan dan kata-kata kotor, serta utang-piutang," sela Tinting lagi.

Ketika semua tuntas dilaksanakan dan dipenuhi, tak ada ganjalan lagi bagi si mati untuk berjalan menuju nirwana. "Makanya di Toraja tak ada arwah gentayangan, karena semua orang meninggal diupacarakan menurut keperluannya,” katanya.

Bagi penganut aluk todolo, kematian seorang bocah punya arti khusus. Apalagi kalau terjadi dalam satu keluarga secara berturut-turut. Harus diupacarakan secara khusus pula.

Sepasang suami-istri yang ditinggal mati bayinya wajib melakukan upacara. Jika terjadi lagi pada anak kedua pun sama saja.

Bila anak ketiga meninggal juga, mayatnya dimakamkan di dalam batang pohon waru, Hibiscus tiliaceus. Dengan harapan, anak berikut akan hidup sebagaimana sang pohon.

Ketika anak keempat lahir, upacara harus dilakukan. Dibuatkan patung, dipotongkan kerbau (kadang sampai 24 ekor), dagingnya dibagikan kepada warga sekitar.

Namun peristiwa semacam itu terbilang langka. Di samping karena jarangnya kematian bayi secara berturut-turut, juga karena meningkatnya prasarana kesehatan.

Apalagi di tengah kemajuan ilmu kedokteran seperti sekarang. Palidan, pemandu wisata dan pemahat tao-tao senior di Tator, pun sempat mencetuskan gurauannya, "Patung-patung kecil praktis sudah tidak ada. Dokter dan puskesmas telah ‘membunuhnya’."

Titip tangis kepada jenazah

Patung tao-tao asli aluk todolo (bentuknya tak mirip manusia, tentunya) selalu berada dalam posisi tangan kanan menengadah dan tangan kiri memberi. Inilah simbol dari tujuan serta keinginan berbagi kemakmuran kepada sekitar.

Ketika ditempatkan di gerbang makam, ia berfungsi sebagai penghubung antara orang hidup dan orang mati. Lewat ia-lah pesan dari orang hidup kepada arwah disampaikan.

Bukan hanya antara anggota keluarga dengan sanak yang sudah jadi arwah, melainkan juga antara orang lain dengan arwah lain.

"Kalau ada pesta kematian, yang menangis belum tentu keluarga si mati," kata Luther, seorang warga Rantepao. "Bisa jadi tangis orang lain, karena di dalam tangis itu terkandung pesan untuk nenek moyang yang dititipkan kepada si mati."

Itulah yang hampir selalu muncul di pesta kematian, di zaman sekarang sekalipun. Meski penganut aluk todolo telah jauh berkurang, bagian tradisi ini masih diteruskan.

Termasuk kebiasaan ziarah tahunan ke makam dengan memotong hewan kurban dan mengganti pembungkus mayat, juga anggapan bahwa arwah adalah jembatan antara manusia dengan dewa penguasa alam serta Puang Matua (Tuhan).

Dimensi vertikal tersebut, selain diajarkan oleh agama Kristen yang sekarang banyak dianut, juga diyakini sejak dahulu kala. Jika ada kesalahan manusia, misalnya, akan dinetralisasikan oleh Sang Pemberi Hidup, yakni Tuhan.

Demikian juga berbagai adat kebiasaan lain. Semasa hidup, misalnya, orang memakai nama keluarga ayah.

Jika meninggal, ia kembali ke leluhur dari jalur ibu, baik makam maupun tongkonan tempatnya disemayamkan.

Segala hal, barangkali akan berubah sesuai perkembangan zaman. Namun ada beberapa yang coba dilestarikan, nyatanya terbukti mengundang minat masyarakat bangsa lain.

Selama kehendak mempertahankan dibarengi faktor-faktor pendukungnya, selama itu pula Tana Toraja menjadi tujuan utama pariwisata. (AI. Heru Kustara/Mayong S. Laksono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.