Prosesi Boyong Natapraja, Beralihnya Pusat Pemerintahan Kabupaten Nganjuk
Rendy Nicko June 06, 2026 08:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, NGANJUK - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk menggelar Boyong Natapraja dan Sedekah Bumi, Sabtu (6/6/2026). 

Acara peringatan momen bersejarah pemindahan ibu kota dari Berbek ke Nganjuk itu berlangsung begitu semarak. Acara dimulai dari Pendopo Alun-alun Berbek.

Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi dan Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, Forkopimda, hingga jajaran OPD, mengenakan busana khas adat Jawa. 

Peserta lain juga kompak memakai baju lurik. Acara ini berkonsep kolosal ini dimulai dengan beragam prosesi. 

Baca juga: Banyak Kendaraan Angkutan Barang Masuk Jalan Kampung, Dampak Jembatan Gondang 1 Tulungagung Ditutup

Mulai Camat Berbek dan Lurah Kacangan menyerahkan dua pusaka tombak jurang penatas dan payung songsong tunggul nogo kepada Marhaen dan Trihandy. 

Itu merupakan simbol beralihnya pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk. 

"Totalnya ada tiga kegiatan, Bedol Pusoko yang dilaksanakan, kemarin, Jumat (5/6/2026). Hari ini, dilangsungkan Boyong Noto Projo dan Sedekah Bumi," katanya. 

Setelah itu, rombongan memboyong pusaka tersebut mengendarai kereta kuda dengan rute, Stadion Anjuk Ladang.

Lalu dilanjutkan berjalan kaki dari Taman Nyawiji ke Pendopo KRT. Sosrokoesoemo. 

Rombongan Boyong Natapraja, terdiri dari Pasukan Pemuda lurik pembawa bendera Merah Putih, Bregada Umbul, Bregada Ungel Ungelan, Bregada Prawiro Anom, Bregada Jemparing Langenastra, Bregada Jayeng Sekar, dan Bregada Songsong Buwana. 

Di sisi lain, di depan Taman Nyawiji, Marhaen dan Trihandy turut menerima syarat boyong berupa, kloso lan bantal (tikar pandan dan bantal), cok bakal, damar ublik (lampu pelita), sapu gerang, kembang setaman, dan banyu (air) panguripan berupa kendi. 

Kesemua syarat itu dibawa sosok sesepuh menuju regol atau pintu gerbang Pendopo KRT. Sosro Koesoemo. 

Di sana terjadi dialog, lalu syarat boyong diserahkan sesepuh, hingga kemudian pintu gerbang Pendopo dibuka untuk para pejabat. 

Kedua pusaka Kabupaten Nganjuk kemudian kembali disemayamkan di Pendopo.

Marhaen melanjutkan, Boyong Natapraja ini merupakan sebuah sejarah pemerintahan Nganjuk. 

Jika dihitung hingga 2026, Boyong Natapraja telah diperingati 146 tahun. 

Sementara berdasar catatan sejarah, proses boyong pegawai dan ibu kota dari Berbek ke Nganjuk dilakukan pada 6 Juni 1880.

"Boyong punya nilai historis yang kental. Jas merah jangan lupa sejarah," terangnya. 

Ia menambahkan, kegiatan ini juga jadi ajang introspeksi diri. Introspeksi yang dimaksud terkait orientasi kinerja. 

Menurutnya, seluruh kinerja dalam pemerintahan harus bermutu dan penuh inovasi. 

"Harapan kita, terus kerja sat-set atau cepat dan cermat dalam menjalankan roda pemerintahan," tambahnya. 

Baca juga: Menteri Koperasi Datang ke Kediri, Saksikan MoU Pasokan Tebu untuk Pabrik Indogula Joyoboyo

Selain jajaran Pemkab Nganjuk dan Forkopimda, kegiatan ini turut diikuti BUMN, BUMD, serta Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur. 

Selama kegiatan berlangsung, antusiasme warga begitu besar menyaksikan dengan berjajar di sepanjang jalan mulai Berbek hingga Jalan Ahmad Yani.

Ada pula momentum berebut puluhan gunungan yang berisi bermacam palawija dan hasil bumi di akhir acara sebagai bentuk rasa syukur. 

"Saya memberikan apresiasi kepada masyarakat. Antusiasnya sangat tinggi," paparnya. 

(Danendra Kusuma/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.