Yogyakarta (ANTARA) - Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri hadir secara langsung untuk membuka pameran seni bertajuk "Mata Hati Soekarno" di Le Gareca Space, Kapanewon Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu.
Dalam sambutannya, Megawati mengatakan ayah dan ibunya dulu juga merupakan seniman, namun aspek tersebut selama ini memang tidak ditonjolkan.
Megawati pun menceritakan masa kecilnya ketika masih tinggal bersama ayah dan ibunya di Istana.
"Kami dididik di Istana itu, bapak ibu saya itu sebetulnya seorang seniman, tapi tidak tertonjolkan selama ini," kata Megawati.
Megawati mengenal dan diajarkan kesenian, khususnya tari oleh orang tuanya sejak dirinya berusia lima tahun.
Bahkan, dari belajar tari tersebut, Megawati merasakan manfaat dari aspek kesehatan hingga saat ini.
"Baru setelah saya diperiksa seorang profesor ortopedi tulang, beliau itu nanya umur Ibu sebenarnya berapa tahun?" ujar Megawati menceritakan pengalamannya.
Oleh Megawati, dokter itu dijawab dengan bercandaan agar tidak usah menanyakan umur.
Dokter itu melanjutkan obrolannya dan mengatakan bahwa kondisi tulang Megawati masih kuat. Dari sana, Megawati sadar akan manfaat dari berkesenian, khususnya menari.
"Makanya kalau nanti Ibu-ibu yang punya anak, cepat-cepatlah untuk bisa menari, dari umur lima tahun itu kan mulai membangun pertumbuhan badan, ya, tulang dan lain sebagainya," kata Megawati.
Selain itu, Megawati juga menceritakan bahwa Bung Karno semasa hidupnya kerap mengundang sejumlah pelukis sehingga dirinya menjadi banyak mengenal para pelukis senior kala itu.
Dalam pameran tersebut, turut dipajang lukisan karya beberapa seniman, di antaranya "Sang Flamboyan" karya Nasirun, "Happy Birthday Mr. President; Surabaya June 06 1901-2026" karya Ronald Manurung, "Sang Dirigen Republik" karya Ireanto Lentho, dan "Kuantar ke Seberang" karya Agus Noor.
Penggagas pameran "Mata Hati Soekarno", Butet Kartaredjasa mengatakan pameran yang digelat bertepatan dengan hari lahir ke-125 Presiden pertama RI Soekarno itu melibatkan 47 seniman.
Melalui pameran tersebut, Butet berharap para seniman bisa memahami semangat dari warisan Bung Karno, bukan hanya mewarisi abunya, tetapi juga apinya.
"Hanya seorang Bung Karno yang bisa menyatukan keragaman etnis," kata Butet.
Pameran ini akan berlangsung selama satu bulan ke depan dan dibuka untuk umum.
Kurator pameran Suwarno Wisetrotomo mengatakan pameran tersebut memberi tantangan kepada para perupa untuk menggali, menemukan, memilih sudut pandang, cara pandang, dan cara ungkap dalam melihat, memahami, dan meresapi sosok paling ikonik dalam sejarah Indonesia, yakni Bung Karno.
"Mengolah dan mewujudkan tema ini sesungguhnya tidak mudah karena para perupa atau para seniman ini sebagian besar dari generasi 1990-an," kata Suwarno.
Menurutnya, sosok Bung Karno adalah figur yang menginspirasi serta tidak pernah habis untuk dibaca dan dimaknai ulang.
"Bung Karno adalah air, tanah, angin, dan api yang menghidupi, menumbuhkan, menebarkan, dan menyalakan harapan dari waktu ke waktu sampai hari ini," katanya.
Ia mengharapkan pameran tersebut tidak hanya sekadar menghadirkan karya seni, tetapi juga membuka ruang dialog publik mengenai relevansi pemikiran dan nilai-nilai yang diwariskan Presiden pertama Republik Indonesia tersebut.
"Merayakan Bung Karno dengan seni lukis sungguh bukan kebetulan, ini perayaan yang tepat," kata Suwarno.
Pembukaan pameran turut dihadiri Permaisuri Keraton Yogyakarta GKR Hemas, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menko Polhukam Mahfud MD, dan mantan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.
Hadir juga Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, dan Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih.





