Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Pagar besi yang dipasang kokoh di halaman Asrama Haji Rajabasa, Bandar Lampung, seolah tak mampu membendung buncahan rindu yang pecah pada Sabtu (6/6/2026).
Baca juga: 439 Jemaah Haji Kloter JKG 7 Tiba di Lampung, Disambut Haru Keluarga
Setelah lebih dari sebulan terpisah jarak ribuan kilometer, sebanyak 439 jemaah haji Kloter JKG 7 asal Kota Tapis Berseri akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran.
Suasana riuh, haru, dan bahagia seketika menyeruak, menyelimuti ratusan pasang mata yang telah menyemut sejak pagi buta.
Berbekal rangkaian bunga, poster bertuliskan nama anggota keluarga, hingga senyuman terbaik, mereka setia menanti di luar barikade petugas demi bisa memeluk erat sang kekasih hati yang baru saja menyandang gelar haji.
Di sudut halaman, seorang anak perempuan tampak tak kuasa menahan air matanya, sementara di sampingnya, seorang bocah kecil berkaca-kaca menatap deretan bus jemaah yang perlahan memasuki area asrama, tak sabar ingin mencium tangan sang nenek.
Satu di antara sekian banyak potret kebahagiaan itu terpancar dari wajah Anisa. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Sang Khalik lantaran ibunya yang telah berusia senja, sekitar 70 tahun, bisa pulang ke rumah dalam kondisi bernyawa dan sehat walafiat.
"Kami di Lampung selalu berdoa sejak keberangkatan hingga kepulangan. Mudah-mudahan Allah SWT menyelamatkan ibu dan seluruh jemaah haji sehingga bisa kembali ke Tanah Air dengan selamat dan menjadi haji yang mabrur," tutur Anisa dengan suara bergetar menahan buncahan haru.
Bagi Anisa, kepulangan sang ibu adalah sebuah keajaiban kecil. Di usianya yang sudah sangat sepuh, sang ibu harus berjuang fisik di tengah cuaca ekstrem dan lautan jutaan manusia di Arab Saudi.
Meski harus bergantung pada kursi roda untuk menyelesaikan rukun demi rukun haji, sang ibu terbukti mampu menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dengan sempurna.
"Alhamdulillah ibu selama di Tanah Suci sehat. Memang menggunakan kursi roda, tetapi kondisinya baik dan bisa pulang dengan selamat," katanya lega.
Anisa mengaku pihak keluarga sengaja tidak menggelar pesta syukuran besar-besaran di rumah, sebab berkumpulnya seluruh anggota keluarga dalam kondisi utuh sudah menjadi hadiah terindah yang tak ternilai harganya.
Ekspresi kebahagiaan yang sama juga terpancar dari gurat wajah Arinawati, jemaah haji asal Kecamatan Kemiling. Sambil menggandeng erat tangan anak-anaknya yang datang menjemput, ia menceritakan betapa batinnya bergetar hebat saat melewati momen-momen sakral di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Pengalaman spiritual itu diakuinya semakin berkesan karena sistem pelayanan di Tanah Suci yang dinilainya sangat memanusiakan para jemaah lansia.
"Alhamdulillah saya dijemput anak dan keluarga. Sangat senang sekali bisa kembali ke Lampung dengan selamat. Pelayanannya juga sangat bagus," kenang Arinawati sembari tersenyum lebar.
Satu per satu jemaah kemudian diarahkan petugas untuk memasuki kendaraan keluarga masing-masing. Di balik kaca mobil yang perlahan meninggalkan Asrama Haji Rajabasa, lambaian tangan jemaah dan senyum bahagia sanak saudara menjadi penutup yang manis bagi perjalanan panjang menjemput panggilan suci ke Baitullah.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Provinsi Lampung, M Ansori F Citra, mengatakan seluruh jemaah Kloter JKG 7 yang berangkat dari Bandar Lampung kembali dengan jumlah yang sama.
"Alhamdulillah jemaah yang berangkat dan pulang sama jumlahnya. Pada kloter ini tidak ada jemaah yang meninggal dunia," kata Ansori.
Meski demikian, ia menyebut ada beberapa jemaah yang melakukan tanazul atau tidak ikut rombongan hingga ke daerah asal karena memiliki keperluan pekerjaan di Pulau Jawa.
Ansori juga mengungkapkan hingga saat ini tercatat delapan jemaah haji asal Lampung meninggal dunia selama penyelenggaraan ibadah haji 2026. Mereka berasal dari Pringsewu (2 orang), Lampung Utara (2), Tanggamus (1), Mesuji (1), Tulang Bawang (1), dan Lampung Timur (1).
Selain itu, delapan jemaah lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Arab Saudi.
"Mudah-mudahan mereka segera pulih dan saat jadwal kepulangan nanti bisa kembali bersama rombongan," ujarnya.
Dari delapan jemaah yang meninggal dunia, dua di antaranya wafat sebelum sempat menunaikan puncak ibadah haji. Namun, ibadah hajinya telah dibadalkan oleh petugas.
Ansori memastikan seluruh jemaah yang meninggal dunia akan mendapatkan santunan asuransi yang diberikan kepada ahli waris.
"Selain dibadalkan, mereka juga akan mendapatkan asuransi sebesar nilai Bipih yang dibayarkan. Tahun ini sekitar Rp58 juta dan akan diberikan kepada ahli waris," jelasnya.
Menurut Ansori, jumlah jemaah haji Lampung yang meninggal dunia tahun ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
"Tahun lalu mencapai 19 orang, sementara hingga saat ini baru delapan orang. Mudah-mudahan tidak ada penambahan lagi," katanya.
Ia menilai penurunan angka kematian tersebut tidak lepas dari semakin ketatnya penerapan syarat istithaah kesehatan bagi calon jemaah haji.
"Kami terus mengingatkan bahwa istithaah kesehatan sangat penting dan wajib dipenuhi sebelum berangkat ke Tanah Suci," ujarnya.
Terkait penyelenggaraan haji tahun ini, Ansori menilai terdapat banyak perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satunya terkait pengelolaan layanan syarikah yang kini lebih tertata sehingga tidak lagi menimbulkan persoalan seperti tahun lalu.
Selain itu, kartu Nusuk yang sebelumnya dibagikan di Arab Saudi kini sudah diterima jemaah sejak berada di Asrama Haji.
"Kalau tahun lalu masih ada kendala di Muzdalifah, tahun ini alhamdulillah tidak ada masalah yang berarti. Secara umum pelaksanaan haji jauh lebih baik," pungkasnya.
( Tribunlampung.co.id / Bayu Saputra )