Kasus serangan beruang terhadap manusia di Jepang mencapai rekor tertinggi pada 2025. Untuk mengantisipasi serangan itu, Jepang menggunakan teknologi AI hingga drone.
Kementerian Lingkungan Hidup Jepang mencatat 238 korban akibat serangan beruang, termasuk 13 orang meninggal dunia. Sementara sejak April hingga 3 Juni 2026, empat orang tewas akibat serangan beruang di wilayah timur laut Jepang.
Lonjakan insiden tersebut mendorong sejumlah pemerintah daerah memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan drone untuk memantau pergerakan beruang serta mengurangi risiko pertemuan dengan manusia.
Dikutip dari , Minggu (7/6/2026), di Desa Showa, Prefektur Fukushima, jumlah beruang yang ditangkap di sekitar permukiman biasanya sekitar 30 ekor per tahun. Namun angka itu melonjak menjadi 95 ekor pada tahun lalu, tertinggi yang pernah tercatat, dan menyebabkan satu warga terluka.
Pemerintah desa kini mempertimbangkan penggunaan sistem analisis gambar berbasis AI yang dikembangkan NTT Docomo Business. Kamera pemantau akan otomatis mengambil gambar saat ada hewan melintas.
Jika AI mendeteksi beruang, sistem langsung mengirimkan peringatan kepada pemerintah setempat, polisi, dan petugas pemadam kebakaran. Teknologi itu disebut memiliki tingkat akurasi hingga 99,9%.
Perwakilan NTT Docomo Business, Sugawara Yoko, mengatakan kemunculan beruang di kawasan permukiman telah menjadi persoalan serius.
"Kami telah menyempurnakan AI ini agar dapat langsung mengenali beruang dengan cepat. Teknologi ini sudah siap digunakan sekarang," kata Sugawara.
Menurut Pemerintah Desa Showa, teknologi tersebut dapat mempercepat identifikasi satwa, mengurangi kebutuhan patroli, sekaligus meningkatkan keselamatan warga. Pejabat administrasi desa, Igarashi Kuniaki, mengatakan pemantauan area perbatasan antara habitat manusia dan satwa liar menjadi hal yang penting.
"Ini bisa menjadi alat yang efektif untuk memantau area-area tersebut," ujarnya.
Sementara itu, Kota Shintotsukawa di Hokkaido memilih menggunakan drone untuk memantau pergerakan beruang. Melalui kerja sama dengan KDDI SmartDrone, drone dapat diterbangkan dalam waktu kurang dari 10 menit setelah ada laporan kemunculan beruang.
Drone tersebut akan melacak posisi beruang hingga petugas atau pemburu tiba di lokasi. Perangkat itu juga dilengkapi kamera termal sehingga tetap bisa mendeteksi keberadaan beruang di area dengan vegetasi yang lebat.
CEO KDDI SmartDrone, Hirono Masafumi, menilai pemantauan habitat dan aktivitas beruang menjadi kebutuhan penting bagi pemerintah daerah. "Meski jumlah penduduk di daerah pedesaan terus menurun, kami ingin membangun sistem yang dapat menjaga keberlangsungan infrastruktur penting agar tetap berfungsi," ujar Hirono.





