Tak Selalu Cold Pressed Lebih Sehat Dibanding Jus Blender, Ini Faktanya
GH News June 07, 2026 10:08 AM
Jakarta -

Cold-pressed juice belakangan semakin populer dan kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat dibanding jus yang dibuat dengan blender atau juicer biasa. Tak sedikit pula kafe dan gerai minuman yang menjualnya dengan harga lebih tinggi karena dinilai mampu menjaga kandungan nutrisi buah dan sayur lebih baik.

Anggapan tersebut bukan tanpa alasan. Metode cold-pressed bekerja dengan cara menekan bahan tanpa menghasilkan panas berlebih, berbeda dengan alat berkecepatan tinggi yang dapat meningkatkan paparan panas dan oksigen selama proses pengolahan. Kondisi ini diyakini membantu mempertahankan sebagian vitamin dan senyawa antioksidan yang sensitif terhadap panas.

Namun, apakah perbedaannya benar-benar signifikan? Dan benarkah cold-pressed juice selalu lebih baik daripada jus yang dibuat dengan blender?

Efek Metode Cold-Pressed Juice pada Nutrisinya

Cold-pressed juice kerap dianggap lebih sehat dibanding jus yang dibuat menggunakan blender atau juicer sentrifugal. Alasannya, metode ini mengekstrak sari buah dan sayur dengan cara menekan bahan secara perlahan sehingga menghasilkan panas yang lebih rendah selama proses pengolahan.

Sejumlah penelitian memang menemukan metode tersebut berpotensi mempertahankan lebih banyak senyawa bioaktif. Dalam studi yang membandingkan beberapa metode pengolahan jus anggur, misalnya, jus yang dibuat menggunakan low-speed masticating juicer atau alat yang bekerja dengan prinsip serupa cold-pressed memiliki kandungan polifenol sekitar 327 mg per 100 mL.

Angka ini lebih tinggi dibanding jus yang dibuat dengan blender yang mengandung sekitar 250 mg per 100 mL dan juicer sentrifugal sekitar 90 mg per 100 mL. Kandungan vitamin C juga tercatat paling tinggi pada metode low-speed, yakni sekitar 0,78 mg per 100 mL, dibanding sekitar 0,40 mg per 100 mL pada blender dan 0,17 mg per 100 mL pada juicer sentrifugal.

Namun, hasil penelitian tidak selalu menunjukkan keunggulan yang sama. Studi lain yang membandingkan jus nanas, jambu biji, wortel, serta buah naga yang diolah menggunakan cold-pressed juicer dan juicer sentrifugal justru tidak menemukan perbedaan signifikan pada kandungan vitamin C, total fenolik, total karotenoid, maupun kapasitas antioksidan.

Peneliti bahkan menyebut temuan tersebut mempertanyakan klaim bahwa selalu memiliki kualitas gizi yang lebih unggul dibanding jus yang dibuat dengan metode konvensional.

Dengan kata lain, label "" bukan jaminan suatu jus memiliki kandungan nutrisi yang jauh lebih tinggi. Perbedaan kandungan gizi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari jenis buah yang digunakan, cara pengolahan, hingga lama penyimpanan setelah jus dibuat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.