Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Wijiyanto (44), warga Kampung Kerten RT 4/RW 8, Kelurahan Jantiharjo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, berjualan bekicot goreng hasil olahannya di Alun-alun Karanganyar setiap hari.
Dalam proses pembuatan daging bekicot menjadi sebuah hidangan, pria yang telah memiliki 2 anak itu mengutamakan kebersihan dan kenyamanan pelanggan dalam menyantap hidangan tersebut.
Saat TribunSolo.com diizinkan oleh Wijiyanto untuk melihat proses pembuatan bekicot goreng, ia mengolah daging bekicot yang masih dalam keadaan beku dengan cara direbus selama 1 jam.
Setelah direbus selama 1 jam, air rebusan dibuang, kemudian dilakukan pemisahan kepala serta isi perut bekicot dari tubuhnya.
Selanjutnya, daging yang telah dipisahkan kepala dan isinya dibilas lalu direbus kembali selama 1 jam agar menjadi lebih empuk.
Baca juga: Dulu Diejek Jualan Bekicot Goreng, Wijiyanto Mampu Hidupi Keluarga dari Omzet Rp500 Ribu per Hari
Setelah selesai direbus kembali, daging tersebut kembali dibilas beberapa kali.
Pembilasan daging bekicot setelah perebusan kedua dilakukan sebanyak minimal 5 hingga 7 kali.
Setelah daging dicuci hingga bersih, barulah diolah menjadi masakan, baik digoreng maupun dimasak rica-rica.
Wijiyanto mengaku melakukan proses tersebut untuk memastikan higienisnya makanan yang disajikan kepada pembeli.
“Karena kebersihan itu saya utamakan,” ucap Wijiyanto, Rabu (3/6/2026).
Wijiyanto mengutamakan higienitas hidangannya agar pembeli tidak kapok untuk membeli.
Selain itu, hidangan tersebut juga menjadi santapan keluarganya di rumah jika tersisa satu atau dua bungkus saja.
“Karena saya dan keluarga juga ikut makan, dan agar pelanggan tidak kapok membelinya,"
"Jika ada sisa satu atau dua bungkus, kami makan sendiri. Namun jika sisa masih banyak, saya masak lagi dengan yang baru. Alhamdulillah selalu habis, bahkan banyak yang mencari,” kata dia.
Baca juga: 5 Rekomendasi Candi di Karanganyar Jateng untuk Wisata Sejarah Akhir Pekan
(*)