BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Dari kejauhan, rumah kayu di RT 12 Dusun I Desa Panyipatan, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan, itu tampak seperti rumah tua pada umumnya.
Namun kesan itu berubah ketika langkah kaki mendekat. Papan-papan dinding rumah berukuran sekitar 3x4 meter tersebut terlihat keropos dimakan rayap.
Sebagian kayu bahkan begitu rapuh hingga mudah terkoyak hanya dengan sentuhan ringan. Warna kayu yang kusam dan memudar menjadi penanda usia bangunan yang telah lama bertahan melawan panas dan hujan.
Di bagian depan rumah yang juga difungsikan sebagai dapur, sejumlah papan lantai telah lapuk dan berlubang.
Tiap orang yang masuk harus melangkah dengan hati-hati. Salah menapak, kaki bisa terperosok menembus celah lantai yang rapuh.
Baca juga: 3 HP Siswa Pernah Ditahan hingga Usai Ujian, Cara Sekolah di Tanahlaut Ini Tegakkan Disiplin Digital
Baca juga: BREAKING NEWS- Pria dengan Luka Tusuk Terkapar di Jahri Saleh Banjarmasin, Sempat Dikira Tewas
Di ruangan sederhana itu nyaris tak ada barang berharga. Hanya sebuah sepeda gunung tua yang terparkir di sudut rumah dengan ban kempes dan rangka yang mulai kusam.
Sepeda itu lebih menyerupai benda kenangan daripada alat transportasi yang masih digunakan.
Tak jauh dari sana, di ruang depan (dapur), sebuah ceret tua berwarna hitam legam tergantung dekat dinding.
Di situ juga terlihat tungku kayu bakar dan beberapa ikat kayu yang menjadi perlengkapan memasak sehari-hari.
Rumah reyot tersebut dihuni seorang janda lanjut usia bernama Siti Asiah yang usianya telah sekitar 80 tahun.
Pendengarannya tak lagi setajam dulu. Tiap orang yang berbicara dengannya harus meninggikan suara agar dapat didengar dengan jelas.
Di tengah kondisi fisik yang makin renta, Asiah tetap menjalani hari-harinya seorang diri di rumah yang terus digerogoti usia.
Di samping rumah itu berdiri rumah anak bungsunya, Siti Aminah. Kondisinya sedikit lebih baik, tapi juga mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius.
Baca juga: Kecelakaan Maut di Panangkalaan HSU, Mahasiswi STIA Amuntai Meninggal Dunia
Sebagai janda yang ditinggal meninggal suami tiga tahun lalu, Aminah kini menjadi tulang punggung keluarga dan menanggung tiga anak yang masih membutuhkan biaya pendidikan.
Tiga anak yang saat ini masih ditanggungnya yaitu anak perempuan (TK), anak laki-laki lulus SD, dan anak perempuan (kelas 2 sekolah lanjutan atas). Sedangkan anak sulungnya telah berkeluarga.
Biaya pendidikan ketiga anaknya menjadi bagian beban hidupnya yang kerap membuatnya pusing seperti ketika saatnya bayar daftar ulang atau untuk mendaftar sekolah.
Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari-hari saja telah cukup berat. Penghasilannya sebagai petani kecil dan buruh serabutan, kerap tak cukup menutupi kebutuhan.
Sementara di sisi lain, kondisi rumah ibunya yang makin memprihatinkan terus menghantui pikirannya.
Ia berharap suatu saat dinding dan lantai rumah sang ibu dapat diperbaiki. Termasuk rumahnya yang juga mulai rapuh.
Apalagi atap seng rumah tersebut juga mulai menua. Warnanya telah berubah menjadi cokelat gelap akibat dimakan waktu.
Harapan mendapatkan bantuan bedah rumah belum mudah terwujud. Lahan tempat berdiri rumah tersebut bukan atas nama pribadi, melainkan milik keluarga, sehingga terkendala persyaratan administrasi.
Kondisi kehidupan ibu dan anak itu membuat pegiat sosial Tanahlaut sekaligus penyuluh Kementerian Agama Tala, Marliana, terenyuh saat berkunjung ke lokasi, Minggu (7/6/2026).
Matanya tampak berkaca-kaca ketika melihat langsung rumah yang dihuni Asiah. Suaranya bahkan beberapa kali terdengar terbata saat berbincang dengan perempuan lansia tersebut.
"Insya Allah setelah ini kami akan melakukan upaya untuk membantu Nenek Asiah ini, juga pada Siti Aminah," ujarnya.
Marliana bersama Camat Panyipatan Gusti Muhammad Tajuddin Noor datang membawa bantuan sembako sekaligus melihat langsung kondisi kedua janda tersebut.
Kedatangan keduanya sempat mengejutkan dua janda (Ibu dan anak) tersebut serta tetangga sekitar. Mereka terharu disambangi.
Sementara itu, Camat Panyipatan mengatakan akan berupaya berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mencarikan solusi.
"Nanti saya akan coba berkomunikasi dengan Baznas Tala. Mudah-mudahan ada jalan keluarnya," katanya.
Di balik dinding yang lapuk, lantai yang berlubang, dan atap yang menua, Siti Asiah dan Siti Aminah masih menjalani hidup dengan kesabaran.
Rumah mereka mungkin kian rapuh dimakan usia, tetapi harapan untuk kehidupan yang lebih baik masih terus mereka jaga.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)