ChatGPT Bisa Membaca Tarot, Tapi Bisakah Ia Membaca Manusia?
Joanita Ary June 07, 2026 04:34 PM

WARTAKOTALIVECOM, JAKARTA -- Kecerdasan buatan (AI) semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya digunakan untuk mencari informasi atau membantu pekerjaan, kini AI juga menjadi tempat bertanya bagi banyak anak muda yang ingin mengetahui makna kartu tarot.

Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial.

Tak sedikit pengguna yang mengunggah pengalaman meminta ChatGPT menginterpretasikan kartu tarot yang mereka pilih sendiri. 

Praktis, cepat, dan bisa diakses kapan saja menjadi alasan mengapa layanan semacam itu diminati, terutama oleh generasi muda.

Bagi tarot reader Thiana Febrisyahrila atau yang lebih dikenal sebagai Paws Tarot, tren tersebut bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

"Jujur shocked but not surprised. Aku tahu suatu hari momen ini bakal datang. Tapi gemes aja lihatnya, karena tarot itu kelihatannya cuma kartu dan artinya, padahal proses reading jauh lebih kompleks dari sekadar ngasih arti kartu," ujar Thiana.

Menurutnya, ketertarikan masyarakat terhadap tarot berbasis AI merupakan hal yang wajar.

Kehadiran teknologi membuat siapa saja dapat memperoleh interpretasi tarot hanya dalam hitungan detik tanpa perlu membuat janji atau berkonsultasi langsung dengan tarot reader.

Namun, di balik kemudahan tersebut, Thiana melihat ada perbedaan mendasar antara pembacaan tarot oleh AI dan tarot reader manusia.

"AI itu cuma membaca kartu. Sedangkan tarot reader bukan cuma membaca kartu, tapi juga membaca orangnya," katanya.

Ia menjelaskan bahwa satu kartu yang sama belum tentu memiliki makna yang sama bagi setiap individu.

Latar belakang kehidupan, kondisi emosional, pengalaman pribadi, hingga konteks pertanyaan menjadi bagian penting yang memengaruhi proses pembacaan.

Karena itu, menurut Thiana, interaksi antara tarot reader dan klien menjadi aspek yang sulit digantikan oleh teknologi.

"Misalnya keluar kartu yang sama untuk dua orang, interpretasinya bisa berbeda karena latar belakang, kondisi emosional, dan pertanyaan mereka berbeda. Hal-hal seperti itu yang biasanya ditangkap tarot reader manusia lewat pengalaman dan interaksi selama reading," ujarnya.

Untuk menggambarkan perbedaan tersebut, Thiana mengibaratkan AI sebagai seseorang yang membaca resep masakan, sementara tarot reader adalah seorang chef yang memahami kapan harus menambah atau mengurangi bumbu agar sesuai dengan kebutuhan.

Di sisi lain, ia memahami mengapa banyak anak muda kini lebih nyaman bertanya kepada AI dibanding manusia.

Menurutnya, AI menawarkan ruang yang terasa aman karena tidak menghakimi, tidak membocorkan cerita, serta selalu tersedia kapan saja.

"Kadang ada hal-hal yang masih malu kita ceritain ke teman atau keluarga, jadi orang memilih cerita dulu ke AI," kata Thiana.

Selain itu, generasi saat ini tumbuh dalam budaya digital yang serba cepat dan instan.

Mereka terbiasa mendapatkan jawaban dalam hitungan detik tanpa perlu menjelaskan alasan di balik pertanyaan yang diajukan.

Meski demikian, mereka yang terbiasa meminta pembacaan tarot kepada AI sering kali menemukan pengalaman yang berbeda ketika menjalani sesi pembacaan secara langsung.

"Biasanya mereka kaget karena ternyata reading langsung jauh lebih interaktif. Kalau di AI kan seringnya kamu nanya, terus dijawab. Nanya lagi, dijawab lagi," ujarnya.

Dalam sesi pembacaan langsung, tarot reader tidak hanya memberikan interpretasi, tetapi juga menggali akar persoalan yang sebenarnya sedang dihadapi seseorang.

Tak jarang, seseorang datang dengan keyakinan bahwa masalahnya berkaitan dengan hubungan asmara. Namun setelah melalui proses diskusi dan refleksi, persoalan yang muncul justru berkaitan dengan kepercayaan diri, trauma masa lalu, atau pola hubungan yang terus berulang.

Menurut Thiana, proses semacam itu lebih sulit diperoleh apabila seseorang hanya mengandalkan pembacaan tarot melalui AI.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, Thiana meyakini tarot reader manusia akan tetap memiliki tempat.

"Kalau orang cuma butuh arti kartu, AI mungkin bisa membantu. Tapi kalau orang butuh perspektif, diskusi, pendampingan, dan pengalaman yang personal, mereka tetap akan mencari manusia," katanya.

Ia menilai banyak klien sebenarnya telah mengetahui jawaban atas persoalan yang mereka hadapi. Namun mereka membutuhkan ruang untuk memproses, menerima, dan menguatkan diri terhadap keputusan yang harus diambil.

"Aku sering ketemu klien yang sebenarnya udah tahu jawabannya. Mereka udah tahu harus move on, udah tahu harus resign, atau berhenti mengejar seseorang. Tapi mereka datang bukan untuk dikasih jawaban baru. Mereka datang supaya lebih berani menerima jawaban yang sebenarnya sudah mereka tahu," ujarnya.

Di tengah maraknya konten tarot di media sosial, Thiana juga mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati.

Menurutnya, tidak semua orang yang mengaku tarot reader benar-benar mendalami tarot secara serius.

Ia menilai sebagian pembacaan tarot dilakukan hanya berdasarkan arti kartu secara tekstual tanpa proses pendalaman, refleksi, meditasi, maupun persiapan diri yang selama ini menjadi bagian dari praktik tarot yang dijalaninya.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai hasil pembacaan tarot secara mutlak.
"Jangan percaya 100 persen pada bacaan tarot. Tarot sebaiknya dijadikan alat refleksi, bukan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan hidup," tegasnya.

Ia juga menyarankan agar masyarakat yang ingin melakukan pembacaan tarot memilih tarot reader yang memang dipercaya dan dapat dihubungi secara langsung. 

Menurutnya, hubungan personal antara penanya dan tarot reader dapat membantu proses pembacaan berjalan lebih sesuai dengan energi, konteks, serta kebutuhan individu yang bersangkutan.

Bagi Thiana, selama manusia masih memiliki rasa takut, bingung, sedih, dan harapan, kebutuhan untuk didengar akan tetap ada.

"Pada akhirnya, orang nggak selalu mencari jawaban. Kadang mereka cuma ingin merasa didengar," katanya.

Thiana Febrisyahrila, yang dikenal melalui akun Paws Tarot (@pawstarot) di Instagram dan TikTok, selama ini melayani berbagai sesi pembacaan tarot dengan topik mulai dari percintaan, karier, keuangan hingga pembacaan umum.

Melalui layanan pembacaan secara daring maupun interaktif, ia kerap menemui klien yang datang bukan semata-mata untuk mengetahui masa depan, melainkan mencari perspektif baru dalam memahami diri dan persoalan yang sedang dihadapi.

Baginya, tarot bukanlah alat untuk menentukan nasib seseorang, melainkan sarana refleksi yang dapat membantu seseorang melihat pilihan hidupnya dengan lebih jernih.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.