AS Serang Stasiun Radar Iran, Teheran Ancam Timur Tengah Akan Terbakar Api Perang
TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah Iran memperingatkan bahwa serangan militer Amerika Serikat berisiko menyeret Timur Tengah kembali ke pusaran konflik.
Kementerian Luar Negeri Iran menilai Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dan meningkatkan ancaman terhadap stabilitas kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan serangan terhadap sejumlah stasiun radar Iran di Goruk dan Pulau Qeshm.
Baca juga: Mengapa AS Melancarkan Serangan ke Pulau Qeshm di Selat Hormuz?
Operasi itu dilakukan di tengah serangkaian serangan drone yang terjadi di kawasan.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke pangkalan-pangkalan militer AS di wilayah Timur Tengah.
Dalam pernyataan resminya, dikutip Minggu (7/6/2026) Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pelanggaran gencatan senjata yang berulang menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki keinginan untuk meredakan ketegangan maupun kembali ke jalur stabilitas.
Menurut Teheran, tindakan yang disebut sebagai kebijakan “petualangan militer” tersebut justru menempatkan kawasan pada risiko yang lebih besar.
Iran menegaskan bahwa pemerintah AS harus bertanggung jawab atas konsekuensi dari tindakan yang dianggap melanggar hukum internasional tersebut, termasuk jika terjadi peningkatan eskalasi di masa mendatang.
Iran juga menegaskan akan mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya dengan memanfaatkan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Selain itu, pemerintah Iran menyerukan kepada negara-negara di kawasan agar tidak menyediakan wilayah maupun fasilitas yang dapat digunakan Amerika Serikat untuk melancarkan operasi militer terhadap Iran.
Lebih lanjut, Teheran meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta berbagai organisasi internasional untuk memberikan respons yang cepat dan efektif terhadap tindakan Amerika Serikat.
Iran juga mendesak komunitas internasional mengambil langkah konkret guna mencegah semakin memburuknya situasi keamanan dan stabilitas di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut menambah ketegangan dalam hubungan Iran dan Amerika Serikat yang kembali memanas setelah rangkaian aksi militer kedua negara dalam beberapa hari terakhir.