TPA Srabah Overload, DLH Trenggalek Desak Dapur Satuan Gizi Kelola Sampah Mandiri dari Sumbernya
Sudarma Adi June 08, 2026 12:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK – Masalah tonase timbunan sampah masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang harus segera dituntaskan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek.

Berdasarkan data terbaru, volume sampah yang diproduksi masyarakat dan bermuara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Srabah kini telah menyentuh angka fantastis, yakni 51 ton per hari.

Melihat kondisi kapasitas TPA Srabah yang kian mengkhawatirkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek bergerak cepat. Salah satu fokus penanganan teranyar menyasar sektor hulu, yakni dengan memberikan edukasi ketat ke sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Baca juga: Belajar dari Kasus KSPP Madani, DPRD Trenggalek Siapkan Perda Perlindungan Koperasi dan UMKM

"Jadi selain masalah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), kami juga memberikan penyuluhan intensif bagaimana menangani sampah dari SPPG itu. Jangan semua sampah dari sana langsung dibawa ke TPS dan membebani TPA Srabah," tegas Plt Kepala DLH Trenggalek, Cusi Kurniawati, Minggu (7/6/2026).

Gandeng Bakorwil, Siapkan Dua SPPG Percontohan

Cusi yang juga menjabat sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Trenggalek memaparkan, pengelolaan sampah secara mandiri sangat krusial untuk mencegah sistem open dumping yang merusak ekosistem lingkungan.

Sebagai langkah konkret, DLH bersama Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) telah meninjau langsung dua lokasi SPPG untuk dijadikan proyek percontohan (role model). Melalui skema ini, pengelola dapur produksi diwajibkan melakukan tata kelola limbah secara terstruktur.

"Mereka harus mengolah sampah organik, memilah sampah anorganik yang bernilai ekonomis, hingga memastikan limbah cair domestik mengalir dengan benar ke IPAL. Langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab nyata terhadap kelestarian lingkungan," ulas mantan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan tersebut.

Cusi optimistis, jika pengelolaan limbah sisa bahan pokok dan makanan tersebut diesekusi dengan baik sejak dari dapur produksi, maka volume sampah yang dibuang ke lingkungan luar dapat ditekan secara signifikan.

Angka Daur Ulang Trenggalek Masih di Bawah 40 Persen

Upaya radikal pengurangan sampah dari sumbernya ini terus digenjot bukan tanpa alasan. Data internal DLH Trenggalek menunjukkan bahwa tingkat kesadaran dan kemampuan daur ulang (recycling) sampah di bumi Menak Sopal saat ini masih berada di angka yang rendah.

"Tingkat daur ulang sampah kita di Trenggalek secara makro masih belum mencapai 40 persen. Artinya, sebagian besar sampah harian kita masih langsung berakhir di TPA," ungkap Cusi prihatin.

Oleh karena itu, pengawasan ketat kini tidak hanya diberlakukan pada dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau SPPG saja. DLH Trenggalek mengimbau dengan keras kepada seluruh elemen masyarakat, instansi pemerintahan, serta pelaku usaha kuliner untuk mulai bergandengan tangan memilah sampah dari rumah masing-masing.

"Ayo kita tangani bersama-sama dari sekarang, langsung dari sumbernya. Mulai dari area dapur kita sendiri, harus jelas pengolahannya. Mana organiknya, bagaimana anorganiknya, ke mana residunya, hingga limbah cairnya. Kita harus meningkatkan angka daur ulang agar TPA Srabah tidak cepat penuh," pungkasnya menutup sesi wawancara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.