Tribunlampung.co.id, Situbondo - Kabut cemburu yang membutakan akal sehat R berakhir menjadi sebuah tragedi berdarah yang memilukan.
Baca juga: Pemicu Bidan Murtafia Tewas di Tangan Suami, Jasad Korban Dibuang di Drainase
Tanpa belas kasihan, pria tersebut tega menyusun kronologi maut untuk mengakhiri hidup istrinya sendiri, Murtafia Rafika Dewi (34), seorang bidan yang sehari-hari dikenal berhati mulia membantu persalinan di RSU Besuki, Situbondo, Jawa Timur.
Aksi kekerasan domestik yang berujung pada hilangnya nyawa ini menguak rentetan kejadian yang teramat keji di tepi Jalan Raya Pantura, Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur.
Rentetan kronologis kelam ini bermula dari cekcok rumah tangga yang dipicu oleh rasa cemburu buta R terhadap sang istri.
Ketegangan memuncak, R kehilangan kendali diri. Di lokasi kejadian yang sepi, pria tersebut langsung melayangkan bogem mentah ke tubuh Murtafia.
Wanita berusia 34 tahun itu sempat menerima pukulan bertubi-tubi tanpa mampu memberikan perlawanan berarti. Belum puas melihat istrinya kesakitan dan terkulai lemas, R melihat sebongkah batu berukuran besar yang tergeletak di sekitar lokasi.
Dengan tega, R mengambil batu tersebut dan menghantamkannya tepat ke arah kepala Murtafia. Pukulan telak itu seketika memutus paksa urat nadi kehidupan sang bidan di tempat kejadian.
"Korban dibunuh setelah kepalanya dipukul batu yang ada di lokasi kejadian," ungkap Kasat Reskrim Polres Situbondo, AKP Selimat, saat dikonfirmasi pada Minggu (7/6/2026), dilansir TribunJatim.com.
Melihat tubuh istrinya sudah tidak bergerak dan bersimbah darah, kepanikan mulai merayapi benak R. Ia kemudian berupaya menyembunyikan perbuatan biadabnya dengan menyeret jasad Murtafia ke dalam saluran air atau drainase yang berada di pinggir jalur pantura.
Agar tidak memancing kecurigaan orang yang melintas, R menutupi tubuh kaku sang istri dengan tumpukan dahan, ranting, dan potongan pohon. Setelah itu, pelaku langsung melarikan diri meninggalkan lokasi kejadian.
Misteri kematian sang bidan akhirnya tersingkap pada Sabtu (6/6/2026) malam. Warga yang curiga melihat tumpukan ranting tak wajar di dalam selokan terkejut bukan main saat menemukan sesosok mayat perempuan di dalamnya. Dalam waktu singkat, kabar penemuan mayat ini menyebar luas di kalangan masyarakat Situbondo.
Pelarian R tidak berlangsung lama. Setelah tim Inafis bersama Polsek dan Tim Resmob Polres Situbondo melakukan olah TKP intensif dan mengamankan batu berdarah sebagai barang bukti, ruang gerak R kian menyempit.
R akhirnya tiba di Mapolres Situbondo pada Minggu subuh sekitar pukul 05.00 WIB untuk menyerahkan diri dan langsung digiring ke ruang penyidik Satreskrim.
"Sekarang pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif untuk mendalami motif cemburu tersebut," tambah AKP Selimat.
Sementara itu, jasad Murtafia telah dievakuasi ke Rumah Sakit Abdoer Rahem Situbondo untuk menjalani proses autopsi oleh tim forensik demi melengkapi berkas perkara hukum.
Kronologi tragis ini kini menyisakan duka mendalam bagi rekan kerja di RSU Besuki serta keluarga besar korban. Murtafia kini telah tiada, sementara suaminya harus bersiap menghabiskan sisa umurnya di balik dinginnya sel tahanan akibat api cemburu yang ia pelihara sendiri.