Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales
TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO – Sejak pukul 06.00 Wita, Kelompok Pemuda Anti Radikalisme (KOPEARAD) bersama warga Labuan Bajo menggelar aksi nyata pembersihan sampah di sepanjang pesisir Pantai Pede, Desa Gorontalo, Manggarai Barat.
Aksi ini diinisiasi sebagai bentuk respons kritis terhadap permasalahan lingkungan yang kian mengancam wajah pariwisata Labuan Bajo.
Aksi ini berhasil mengumpulkan sampah sebanyak puluhan trashbag yang disisir sepanjang pesisir pantai dengan didominasi oleh sampah plastik.
Pantai Pede merupakan salah satu pantai yang dapat ditempuh kurang lebih 10 menit dari pusat Kota Labuan Bajo. Pantai ini menjadi tempat rekreasi keluarga maupun warga yang ingin melepas lelah.
Baca juga: Renungan Katolik Senin 8 Juni 2026, Bahagia Menjadi Pengikut Kristus
Di Pantai ini terdapat puluhan lapak UMKm milik para warga. Selain itu, tepat ini juga menjadi area doking kapal maupun speadboat.
Kepada TRIBUNFLORES.COM, Sabtu (6/6/2026) Ketua KOPEARAD, Itho Umar, menyatakan bahwa sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), laju pembangunan di Labuan Bajo saat ini berjalan sangat masif. Namun sayangnya, pertumbuhan tersebut sering kali melesat lebih cepat daripada kesiapan infrastruktur lingkungan yang ada.
"Pantai Pede kerap menjadi muara akhir bagi sampah plastik, baik yang terbawa arus laut yang sering kali bersumber dari kapal-kapal wisata maupun sampah dari aktivitas domestik daratan di sekitarnya," ujar Itho Umar di sela-sela aksi pembersihan.
Sorotan utama aksi bersih Pantai Pede ini menggarisbawahi beberapa poin krusial yang memerlukan perhatian segera dari berbagai pihak.
Pertama, aksi ini menyoroti masih sangat minimnya fasilitas pengelolaan sampah yang memadai dari pemerintah daerah di area publik, seperti ketiadaan tempat sampah terpilah dan belum konsistennya rutinitas pengangkutan sampah.
Kedua, ada kekhawatiran besar bahwa masyarakat lokal hanya menerima "getah" atau dampak negatif dari pariwisata berupa polusi lingkungan dan penumpukan sampah, sementara keuntungan ekonomi justru mengalir ke luar daerah.
Ketiga, sampah plastik yang dibiarkan tidak terkelola di Pantai Pede lambat laun akan hancur menjadi mikroplastik. Hal ini mengancam kelestarian terumbu karang dan biota laut, padahal kekayaan bawah laut tersebut merupakan jualan utama pariwisata Manggarai Barat.
Pemuda Kopearad menegaskan bahwa momentum bersih pantai ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sebuah gerakan pematik kesadaran.
Itho berharap aksi ini dapat mengetuk kesadaran para pemilik hotel, operator kapal wisata, hingga bisnis ritel seperti minimarket di Labuan Bajo untuk segera mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan ikut bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan dari aktivitas bisnisnya.
Selain itu, aksi ini menjadi sarana edukasi langsung bagi warga pesisir mengenai bahaya membuang sampah ke laut atau ke sungai yang bermuara di Pantai Pede.
Di sisi lain, aspek keselamatan dan kenyamanan wisatawan juga menjadi sorotan. Pemuda Kopearad berharap Pemerintah Daerah (Pemda) bersama pengelola tempat wisata mampu menjamin keamanan wisatawan dengan rutin melakukan pengecekan sarana, prasarana, serta fasilitas publik yang tersedia.
Menutup pernyataannya, Itho Umar juga membawa pesan kebangsaan yang kuat kepada seluruh elemen kepemudaan. Ia mengingatkan bahwa tantangan pemuda saat ini tidak hanya datang dari isu lingkungan, tetapi juga dari isu sosial dan ideologi.
"Sebagai generasi muda, di samping menjaga kelestarian alam, kita juga memiliki tanggung jawab besar untuk membentengi diri. Kita harus mampu menangkal dan mencegah kehadiran kelompok-kelompok radikal yang dapat menghancurkan kerukunan, toleransi, serta ideologi generasi muda penerus bangsa," pungkas Itho dengan tegas. (moa)