Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Jombang mengalami kenaikan signifikan.
Cabai rawit yang sebelumnya dijual Rp60 ribu per kilogram kini menembus Rp90 ribu per kilogram, sementara cabai merah naik dari Rp40 ribu menjadi Rp70 ribu per kilogram.
Baca juga: Pedagang Pasar Keluhkan Dolar Meroket, Harga Naik Semua hingga Pembeli Berkurang 25 Persen
Kenaikan harga tersebut terpantau di Pasar Citra Niaga atau Pasar Legi Jombang.
Melambungnya harga cabai membuat sebagian konsumen mulai mengurangi jumlah pembelian untuk menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.
Tidak sedikit pembeli yang beralih membeli cabai dengan kualitas di bawah standar atau cabai rusak yang dijual dengan harga lebih murah, yakni sekitar Rp30 ribu per kilogram.
Mujiati, seorang pedagang cabai di Pasar Legi Jombang, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, mengatakan, tingginya harga cabai dipengaruhi oleh menurunnya pasokan dari petani.
Kondisi cuaca yang tidak menentu menyebabkan banyak lahan pertanian mengalami penurunan hasil panen sehingga stok cabai di pasaran berkurang.
Selain faktor cuaca, ia juga menilai meningkatnya kebutuhan pasokan untuk berbagai program pemerintah turut memengaruhi keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar.
"Pasokan dari petani berkurang karena banyak yang gagal panen akibat cuaca. Sementara kebutuhan pasar tetap tinggi sehingga harga cabai terus mengalami kenaikan," ucap Mujiati kepada Tribunjatim.com, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, lonjakan harga tidak hanya dikeluhkan masyarakat sebagai konsumen, tetapi juga berdampak pada pedagang.
"Harga tinggi ya membuat saya beli konsumen turun, omzet penjualan ikut turun," ujarnya melanjutkan.
Para pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga cabai di pasaran.
"Komoditas itu jadi salah satu kebutuhan utama rumah tangga, selalu digunakan di dapur hampir setiap hari," jelasnya.
Jika pasokan kembali normal dan distribusi berjalan lancar, harga cabai diharapkan dapat berangsur turun sehingga tidak lagi membebani masyarakat maupun pelaku usaha di pasar tradisional.
Kondisi tersebut mulai dirasakan masyarakat, terutama ibu rumah tangga yang harus mengatur kembali anggaran belanja harian.
Salah satunya Diyah Ayu, warga Jombang yang mengaku kenaikan harga cabai berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangganya.
Menurut Diyah, cabai merupakan salah satu bahan pokok yang hampir selalu digunakan dalam berbagai menu masakan sehari-hari.
Akibatnya, lonjakan harga membuat biaya belanja dapur ikut meningkat.
"Biasanya saya bisa membeli cabai dalam jumlah yang lebih banyak, tetapi sekarang harus disesuaikan dengan kebutuhan karena harganya cukup mahal," ujarnya.
Ia menuturkan, dampak yang paling terasa adalah bertambahnya anggaran belanja harian.
Untuk menghindari pengeluaran yang terlalu besar, dirinya terpaksa mengurangi jumlah pembelian cabai dan lebih selektif dalam menentukan menu masakan keluarga.
Selain itu, Diyah juga mulai menerapkan sejumlah langkah penghematan.
Di antaranya dengan membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja, membeli cabai sesuai kebutuhan, serta memilih menu masakan yang tidak terlalu banyak menggunakan cabai.
"Sekarang harus lebih pintar mengatur belanja. Saya membeli secukupnya saja dan memilih menu yang penggunaan cabainya tidak terlalu banyak supaya pengeluaran tetap terkendali," pungkasnya.