TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Aktivitas penambangan rakyat yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat di Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara kini terhenti.
Kondisi tersebut disebut berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat yang selama bertahun-tahun menggantungkan pendapatan dari hasil mendulang emas secara tradisional.
Kondisi inilah yang kemudian mengharuskan mereka bertandang ke Kantor Gubernur Kaltara hari ini, Senin (8/9/2026) dalam rangka aksi damai, guna meminta kemudahan perizinan tambang rakyat di wilayah tersebut
Salah seorang penambang rakyat di Kecamatan Sekatak, Peter, mengungkapkan dirinya bersama sejumlah warga sudah tidak lagi melakukan aktivitas penambangan sejak awal Mei 2026.
Baca juga: Breaking News Ratusan Penambang Sekatak Geruduk Kantor Gubernur Kaltara, Gelar Ritual Adat
Menurutnya, penghentian aktivitas tersebut terjadi setelah adanya penyisiran yang dilakukan aparat terhadap lokasi-lokasi penambangan rakyat.
“Sudah tidak ada aktivitas penambangan di sana, sudah tidak kerja. Sekarang kami beralih ke kebun, tanam padi dan sayur-sayuran, tapi hasilnya kecil, tidak sebesar waktu menambang,” ujar Peter kepada TribunKaltara.com di sela-sela menunggu hasil audiensi bersama Pemprov Kaltara, Senin (8/6/2026).
Ia menjelaskan, kehidupan masyarakat kini semakin sulit karena biaya produksi pertanian juga terus meningkat. Harga pupuk dan pestisida yang mahal membuat hasil berkebun tidak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau di kebun sekarang apa-apa mahal. Pestisida mahal, pupuk mahal. Sementara hasilnya tidak seberapa,” katanya.
Peter menuturkan, selama masih beroperasi, para penambang rakyat di Sekatak menggunakan sistem dulang atau penambangan tradisional tanpa alat berat maupun bahan kimia.
Biasanya alat yang digunakan berbentuk wadah cekung yang digunakan untuk memisahkan emas dari material lain (tanah, pasir, dan kerikil) menggunakan air.
Saat ini, alat ini hadir dalam bentuk tradisional (kayu) maupun modern yang lebih awet.
Baca juga: Gakkum KLHK Kalimantan Kembali Tangkap Pelaku Penambang Batubara ilegal di Sekitar IKN Nusantara
Aktivitas tersebut dilakukan secara berkelompok di kawasan yang menurut warga merupakan wilayah yang dikelola masyarakat desa.
Penghasilan dari mendulang emas pun tidak menentu karena sangat bergantung pada keberuntungan dan kondisi lapangan.
“Kalau mendulang itu tidak setiap hari dapat. Kadang satu bulan baru dapat, kadang dua bulan. Semua bergantung keberuntungan,” ucapnya.
Emas yang ditemukan biasanya masih dalam bentuk mentahan sebelum dijual kepada pengepul.
Dalam kondisi tertentu, hasil yang diperoleh cukup besar. Namun karena dilakukan secara bersama-sama, hasil tersebut harus dibagi rata kepada seluruh anggota kelompok.
“Paling besar pernah dapat 30 gram. Misalnya yang kerja 10 orang, ya dibagi rata sekitar 3 gram per orang,” jelasnya.
Ia mengatakan, berhentinya aktivitas penambangan tidak hanya dirasakan para penambang, tetapi juga berdampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat di Sekatak secara umum.
Menurut Peter, banyak pemilik warung, pedagang, hingga pelaku usaha kecil yang kini mengeluhkan sepinya pembeli karena daya beli masyarakat menurun drastis.
“Sekarang ekonomi seret di Sekatak. Banyak warung dan usaha lainnya merasakan dampaknya. Dulu banyak usaha yang hidup karena ada perputaran uang dari tambang rakyat,” katanya.
“Sekarang jadi sepi karena penghasilan kami juga berkurang bahkan hilang. Tidak ada uang yang beredar seperti dulu,” tambahnya.
Peter menyebut kondisi tersebut menjadi alasan sejumlah warga melakukan aksi penyampaian aspirasi secara damai kepada pemerintah.
Mereka berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas tambang rakyat.
“Kami berharap pemerintah memberikan solusi bagi para penambang rakyat untuk diberikan izin menambang di tanah kami sendiri,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa aktivitas yang dilakukan masyarakat selama ini bersifat tradisional dengan peralatan manual dan tanpa penggunaan bahan kimia maupun alat berat.
“Kami menambang menggunakan alat manual. Tidak pakai bahan kimia dan tidak menggunakan alat berat. Lokasinya di sungai dan kawasan gunung,” pungkasnya.
(*)
Penulis : Desi Kartika Ayu