Alumni Tarakanita Blok Q Angkatan 77 Bertransformasi Jadi Yayasan
Dwi Rizki June 08, 2026 07:33 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perhimpunan Alumni TK-SD Tarakanita Blok Q Angkatan 1977 (ParQ 77) resmi bertransformasi menjadi yayasan sebagai langkah memperkuat legalitas organisasi dan memperluas kontribusi sosial bagi masyarakat.

Satu dari 10 pendiri ParQ 77, Wahyu Nugroho menjelaskan, cikal bakal organisasi ini bermula dari reuni alumni yang semula direncanakan pada 2015 saat para alumni berusia 50 tahun. 

Namun, kegiatan itu baru terlaksana pada 2016 ketika usia alumni memasuki 51 tahun.

"Dari reuni itu muncul keinginan teman-teman agar komunitas ini dibakukan dan memiliki wadah yang lebih terstruktur. Awalnya kami berbentuk perhimpunan alumni, kemudian berkembang hingga akhirnya diputuskan menjadi yayasan," kata Wahyu.

ParQ 77 beranggotakan para alumni yang pernah menempuh pendidikan di SD Tarakanita Blok Q dalam periode 1971 hingga lulus pada 1977. 

Dari sekira 190 alumni yang berhasil ditelusuri, sebanyak 160 orang telah terdata dan aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan komunitas.

Baca juga: 11 Tersangka Korupsi Ekspor CPO Diserahkan ke Kejari Jaktim

Selama hampir satu dekade, komunitas tersebut rutin menggelar kegiatan kebersamaan, mulai dari pertemuan tahunan, olahraga bersama, hingga kegiatan sosial bagi sesama alumni.

Menurut Wahyu, kepedulian terhadap anggota menjadi salah satu fokus utama organisasi. 

ParQ 77 membantu alumni yang mengalami kesulitan ekonomi melalui dukungan kepesertaan BPJS Kesehatan, bantuan sosial, hingga penggalangan dana bagi anggota atau keluarga yang mengalami musibah.

"Jika ada teman atau keluarga inti yang meninggal dunia, kami langsung bergerak memberikan bantuan, termasuk pengiriman karangan bunga duka dan dukungan dana dari hasil gotong royong anggota," ujarnya.

Tak hanya bergerak di lingkungan internal, ParQ 77 juga aktif memberikan kontribusi kepada institusi pendidikan Tarakanita. 

Beberapa program yang telah direalisasikan antara lain renovasi perpustakaan, perbaikan lapangan basket, penataan taman sekolah, serta penyediaan ratusan hingga ribuan buku untuk sejumlah sekolah Tarakanita di kawasan Blok Q, Barito, dan Patal Senayan.

Pada masa pandemi Covid-19, komunitas ini juga menyalurkan bantuan berupa alat pelindung diri, masker, dan perlengkapan kesehatan lainnya kepada sejumlah rumah sakit, termasuk Rumah Sakit St. Carolus, rumah sakit di Yogyakarta, Rumah Sakit Angkatan Laut, dan Rumah Sakit Polri.

Selain menjalankan program sosial, ParQ 77 secara rutin menggelar reuni besar setiap lima tahun sekali. 

Reuni pertama diselenggarakan di Rancamaya, Bogor, reuni kedua di Yogyakarta, dan reuni ketiga di Bali pada 2025 yang dihadiri sekitar 87 alumni.

Wahyu menjelaskan, perubahan status menjadi yayasan dilakukan untuk mempermudah tata kelola organisasi, termasuk pengelolaan rekening, administrasi perpajakan, dan kerja sama dengan pihak ketiga.

"Sebagai perhimpunan yang belum berbadan hukum, selama ini rekening masih menggunakan nama pribadi pengurus. Dengan yayasan, semuanya menjadi lebih tertib dan profesional," jelasnya.

Yayasan tersebut ditetapkan pada awal Juni 2026 dan saat ini masih menunggu proses administrasi serta perubahan akta yang sedang berjalan.

Ke depan, yayasan akan tetap berfokus pada bidang pendidikan, khususnya penguatan kualitas pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar di lingkungan Tarakanita.

"Kami ingin berkontribusi pada pembentukan karakter sejak usia dini. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi juga membutuhkan lebih banyak orang yang memiliki karakter dan integritas," kata Wahyu.

Ia menegaskan, organisasi tidak memiliki ambisi untuk menjalankan program berskala besar di luar kapasitas yang dimiliki. 

Sebaliknya, yayasan akan fokus pada program yang sederhana namun memberikan dampak nyata bagi penerima manfaat.

Saat ini, dari sekitar 160 alumni yang terdata, sebanyak 80 hingga 90 orang tercatat aktif mengikuti berbagai kegiatan rutin organisasi. 

Angka tersebut menunjukkan tingginya semangat kebersamaan yang terus terjaga di antara para alumni setelah hampir lima dekade meninggalkan bangku sekolah.

Wahyu juga menilai keberadaan komunitas lintas agama di lingkungan alumni Tarakanita menjadi contoh nyata semangat kebinekaan. 

Meski bersekolah di institusi Katolik dan dirinya beragama Islam, ia menilai keberagaman perlu terus dijaga sebagai bagian dari identitas bangsa.

"Kalau keberagaman tidak dirawat, kita akan sulit berbicara tentang Bhinneka Tunggal Ika. Karena itu, nilai kebersamaan dan toleransi harus terus dipelihara," ujarnya. (m31)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.